Berita

Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Cik Asan. (Foto: Humas PD)

Politik

Kesejahteraan Rakyat Jalan di Tempat Meski Pertumbuhan Ekonomi Alami Kenaikan

KAMIS, 21 MEI 2026 | 09:49 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Presiden Prabowo Subianto menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memang patut diapresiasi, namun belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat.

Hal itu disampaikannya dalam rapat paripurna DPR RI terkait Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN 2027 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.

Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Cik Asan mengatakan, selama sekitar tujuh tahun terakhir, ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata sekitar 5 persen per tahun. 


Secara kumulatif, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia meningkat sekitar 35 persen. Bahkan pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,11 persen, salah satu capaian terbaik dalam tiga tahun terakhir.

“Angka pertumbuhan ekonomi kita memang baik dan layak diapresiasi. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah apakah pertumbuhan itu sudah benar-benar dirasakan rakyat kecil? Faktanya, masih banyak petani, nelayan, pekerja informal, dan masyarakat bawah yang hidupnya belum mengalami perubahan signifikan,” ujar Marwan lewat keterangan resminya, Kamis, 21 Mei 2026.

Ia menjelaskan, meskipun angka kemiskinan turun menjadi 8,47 persen atau sekitar 23,85 juta orang pada Maret 2025 atau terendah dalam sejarah, laju penurunannya masih sangat lambat. 

Sementara itu, tingkat ketimpangan yang tercermin dari rasio Gini masih berada di angka 0,375, menunjukkan distribusi kesejahteraan yang belum merata.

“Pertumbuhan ekonomi selama ini lebih banyak terkonsentrasi di kota-kota besar, sektor investasi skala besar, dan industri tertentu seperti hilirisasi mineral. Sementara rakyat kecil masih menghadapi persoalan mendasar seperti harga pangan, akses rumah layak, kesehatan, dan pekerjaan yang layak ,” katanya.

Marwan menegaskan Indonesia membutuhkan model pertumbuhan baru yang lebih inklusif dan berbasis transformasi struktural, yakni pertumbuhan yang tidak hanya mengejar angka statistik, tetapi benar-benar menciptakan pekerjaan produktif, memperkuat ekonomi rakyat, dan meningkatkan kualitas manusia secara berkelanjutan.

Menurutnya, transformasi pertama yang harus dilakukan adalah mendorong pertumbuhan yang lebih berorientasi pada penciptaan lapangan kerja formal  atau job-intensive growth.

“Investasi tetap penting, tetapi orientasinya harus diarahkan pada sektor-sektor yang menyerap banyak tenaga kerja formal seperti manufaktur berbasis sumber daya lokal, agroindustri, industri pangan, ekonomi kreatif, dan UMKM modern. Keberhasilan investasi jangan hanya diukur dari nilai investasinya, tetapi juga dari seberapa besar dampaknya terhadap lapangan pekerjaan dan pendapatan masyarakat,” jelasnya.

Transformasi kedua, lanjut Marwan, adalah memperluas hilirisasi ekonomi hingga menyentuh sektor rakyat.

“Selama ini hilirisasi identik dengan mineral dan industri besar. Ke depan, hilirisasi juga harus hadir di sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan UMKM agar masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi ikut menikmati nilai tambah dari proses pengolahan dan pemasaran,” ujarnya.

Transformasi ketiga adalah percepatan pembangunan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan keterampilan, penguasaan teknologi, dan literasi digital.

“Negara-negara yang berhasil keluar dari jebakan pendapatan menengah selalu memiliki satu kesamaan: mereka tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun kualitas manusianya,” kata Marwan.

Politikus Partai Demokrat itu juga menekankan pentingnya transformasi keempat, yaitu memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah berbasis potensi lokal.

“Pembangunan ekonomi tidak boleh hanya bertumpu di kota besar. Daerah pertanian harus tumbuh menjadi pusat agroindustri, wilayah pesisir diperkuat sebagai pusat ekonomi maritim, dan daerah wisata harus berkembang dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama ekonomi,” pungkas Marwan.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya