Berita

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. (Foto: Istimewa)

Politik

Film Pesta Babi Bagian dari Skenario Papua Merdeka

KAMIS, 21 MEI 2026 | 01:15 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita bukan sekadar karya visual biasa, melainkan bagian dari perang narasi internasional yang berpotensi mendorong agenda Papua merdeka.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai, film tersebut memuat simbol-simbol yang sarat pesan politik dan geopolitik, terutama terkait isu perlawanan masyarakat Papua terhadap negara.

“Ada narasi besar yang dibangun untuk membentuk opini internasional bahwa Papua sedang mengalami penindasan dan layak mendapat dukungan global,” kata Amir, dikutip Kamis 21 Mei 2026.


Ia menyoroti salah satu adegan awal dalam film yang memperlihatkan salib berwarna merah digotong masyarakat adat Papua. Menurutnya, simbol tersebut mengandung pesan teologis sekaligus politis.

“Ini semacam teologi pembebasan. Gereja memiliki jaringan internasional yang sangat kuat dan berpengaruh,” kata Amir.

Amir melihat keterlibatan simbol keagamaan dalam gerakan sosial-politik di Papua berpotensi menarik simpati internasional, terutama dari lembaga HAM, organisasi gereja dunia, hingga media asing.

Menurutnya, pola semacam itu pernah terjadi dalam konflik Timor Timur sebelum lepas dari Indonesia.

“Kalau nanti terjadi pergerakan massa besar di Papua lalu ada benturan dengan aparat dan jatuh korban, maka narasi yang dibangun akan mengarah pada isu pelanggaran HAM. Skenarionya bisa seperti Santa Cruz di Timor Timur dulu,” kata Amir.

Ia menjelaskan, tragedi Santa Cruz pada 1991 menjadi titik balik internasionalisasi isu Timor Timur yang akhirnya menekan posisi Indonesia di mata dunia.

“Sekarang pola yang sama berpotensi dimainkan di Papua melalui perang narasi, media, dan simbol-simbol kemanusiaan,” pungkas Amir.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Analisis di Balik Penerimaan Eksepsi Dokter Tifa

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:52

Legislator PDIP Desak Pemerintah Benahi Infrastruktur Hulu Migas

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:34

Panglima TNI: Perang Narasi Salah Satu Ancaman Paling Berbahaya Saat Ini

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:17

PABPDSI Kawal Program Nasional Hingga ke Desa Lewat 8 Satgas Asta Cita

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:55

MBG dan Peluang Besar Bangun Ekonomi Desa

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:30

Pemerintah Buka Opsi Biayai Utang Proyek Whoosh Pakai Panda Bond

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:05

Korupsi Pakan Satwa Rp10,2 Miliar, DPR Minta Eks Dirut KBS Dihukum Berat

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:45

Lulus S2 Hukum, Mikael Saragih Ungkap PR Hukum Indonesia Tak Lagi soal Kekurangan UU

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:37

BEM Kristiani Se-Indonesia Desak Kejagung Segera Tangkap Febrie Adriansyah

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:16

Polri dan FBI Sepakat Perkuat Kerja Sama Penanganan Kejahatan Transnasional

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:03

Selengkapnya