Berita

Ilustrasi. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

Wacana Pembentukan Badan Ekspor jadi Biang Kerok IHSG Anjlok?

SELASA, 19 MEI 2026 | 21:28 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Rumor pembentukan badan khusus ekspor komoditas strategis oleh pemerintah disebut menjadi salah satu pemicu ambruknya pasar saham domestik pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026.

Komoditas yang dikabarkan bakal berada di bawah pengelolaan badan tersebut antara lain batu bara, crude palm oil (CPO), hingga mineral logam.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan investor khawatir kebijakan tersebut membuka ruang intervensi negara terhadap harga jual komoditas unggulan.


"IHSG melemah akibat tekanan jual setelah beredarnya rumor bahwa pemerintah berencana untuk mengatur ekspor komoditas melalui satu badan khusus bentukan negara," kata Ratna dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta.

Untuk diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 228,56 poin atau 3,46 persen ke level 6.370,68. Di sisi lain nilai tukar (kurs) Rupiah ikut terpuruk 0,22 persen ke Rp17.705 per Dolar AS, angka ini menjadi penutupan terendah dalam sejarah.

Menurut Ratna, pasar merespons negatif rumor tersebut karena adanya kekhawatiran terhadap kemungkinan pengendalian harga jual yang dapat menggerus keuntungan emiten.

"Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran investor bahwa akan ada potensi pengendalian harga jual yang dapat berdampak pada penurunan marjin laba perusahaan," jelas Ratna.

Rumor pembentukan badan ekspor itu dikabarkan akan diumumkan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR pada Rabu 20 Mei 2026, untuk menyampaikan pidato mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027.

Agenda tersebut menjadi sorotan karena untuk pertama kalinya dokumen KEM-PPKF akan disampaikan langsung oleh kepala negara, bukan Menteri Keuangan seperti biasanya.

Di sisi lain, pelaku pasar juga masih menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan diumumkan Rabu besok. Konsensus pasar memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen guna menahan pelemahan rupiah.

Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan pada April 2026 diperkirakan mencapai 9,7 persen secara tahunan atau lebih tinggi dibandingkan realisasi Maret 2026 sebesar 9,49 persen secara tahunan.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bursa Asia Ambruk, Saham Teknologi Berguguran

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:30

Nasdaq Tertekan, Investor Wall Street Waspadai Inflasi AS

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:17

Bidik Pasar Modal, Dua BUMD DKI Konsultasikan Rencana IPO ke OJK

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:06

Delta Tunda Penerbangan ke Arab Saudi Usai Serangan Riyadh hingga 2027

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:46

Logam Mulia Tertekan Dolar Jelang Rilis Inflasi Amerika Serikat

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:29

Pasar Eropa Hijau Didorong Saham Perbankan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:13

Drone Seeder Solusi Reklamasi Lahan Pascatambang, SOP Masih Digodok

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:56

Republik Konoha dan Krisis Ketiga

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:23

Olahan Sagu Inovasi TEP IPB University Ramaikan Festival Kali Maro IV Merauke

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:57

Ijazah bagi Kekuasaan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:27

Selengkapnya