Berita

Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin (Jas Cream) (Tangkapan layar dari YouTube DPR)

Politik

Menhan Klaim Batalyon Teritorial Berhasil Pangkas Aksi Begal hingga 50 Persen

SELASA, 19 MEI 2026 | 14:12 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengklaim kehadiran Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan di berbagai daerah berhasil menekan angka kriminalitas, termasuk kasus begal yang sebelumnya marak terjadi di sejumlah wilayah.

Pernyataan itu disampaikan Sjafrie dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.

Menurut Sjafrie, sebelum keberadaan batalyon teritorial, banyak wilayah kabupaten tidak memiliki pasukan yang siaga di daerah sehingga angka kriminalitas relatif tinggi.


“Apa yang kita lihat sebelum ada batalyon teritorial pembangunan. Tadinya di kabupaten tidak ada pasukan. Apa yang terjadi? Begal kriminal itu yang besar sekali,” ujar Sjafrie.

Namun setelah batalyon ditempatkan dan pangkalan mulai beroperasi, situasi keamanan disebut mengalami perubahan signifikan.

“Tapi setelah kita berada di situ membuat pangkalan dan pangkalan itu sudah jadi dengan latihan kemampuan dan sebagainya. Ini begal dan kriminal di situ yang tadinya minus sekian persen, menjadi plus kriminalnya hilang di atas 50 persen,” katanya.

Sjafrie menjelaskan, penurunan angka kriminalitas dilakukan melalui patroli rutin yang dijalankan prajurit menggunakan kendaraan operasional produksi industri pertahanan nasional. Selain itu, keberadaan batalyon turut menghidupkan kembali sistem keamanan lingkungan (siskamling) di masyarakat.

“Membangun sistem keamanan lingkungan, siskamling, yang tadinya itu menurun kemudian hidup kembali. Ini yang berkaitan dengan kriminalitas,” ujarnya.

Pemerintah, lanjut Sjafrie, menargetkan pembangunan 750 batalyon dalam lima tahun ke depan sebagai bagian dari revitalisasi sistem pertahanan nasional yang mulai dijalankan sejak 2025 bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI).

“Saya perlu menjelaskan, ada yang kaget untuk apa bikin 750 batalyon selama lima tahun,” kata Sjafrie.

Ia menilai penguatan pertahanan diperlukan mengingat Indonesia memiliki 514 kabupaten, jumlah penduduk mencapai 287 juta jiwa, serta wilayah perbatasan dengan sekitar 11 negara.

“Kita tidak mengantisipasi mereka mau menyerang kita, tapi apa yang saya sampaikan ini, kita ingin menjaga kedaulatan negara kita. Dan kita membangun kemampuan kita ini untuk mengawal ini semua,” tuturnya.

Sjafrie menyebut pemerintah menargetkan pembangunan 150 batalyon setiap tahun. Bahkan, pada 2026 seluruh kabupaten di Pulau Jawa ditargetkan sudah memiliki satu batalyon infanteri teritorial pembangunan.

Selain aspek keamanan, batalyon teritorial juga diklaim berperan dalam memperkuat kehidupan sosial masyarakat. Sjafrie mengatakan prajurit yang bertugas berasal dari beragam latar belakang, termasuk kalangan pesantren dan komunitas lintas agama, sehingga mampu membangun kedekatan dengan warga.

“Prajurit kita yang satu batalyon itu 1.190 orang terdiri dari mereka yang dari pesantren, dan bagaimana rohaniawan non muslim itu masuk ke gereja bersama-sama masyarakat, bersama-sama dengan masyarakat adat. Di masjid bisa jadi khatib dan imam di masjid. Jadi masyarakat mesra, hangat dengan batalyon teritorial ini,” ujarnya.

Menurut Sjafrie, keberadaan batalyon juga memberikan dampak positif terhadap sektor pendidikan dan ekonomi daerah. Prajurit disebut turut membantu kegiatan belajar mengajar di sekolah hingga mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM).

“Kemudian dalam bidang ekonomi khususnya UKM, terima kasih bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian kepada kami, sehingga anggaran untuk kehidupan prajurit ini bisa dirasakan oleh rakyat,” pungkasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya