Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Peluang Kenaikan Suku Bunga Bayangi Indeks Dolar

SELASA, 19 MEI 2026 | 09:03 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Mata uang Dolar AS kini berada di persimpangan jalan yang krusial, meskipun pada akhir perdagangan kemarin,  Senin 18 Mei 2026 ditutup dengan penurunan tipis. 

Di pasar uang New York, indeks Dolar AS (DXY) sempat mencetak performa mingguan terbaiknya dalam tiga bulan terakhir. Leperkasaan greenback mulai tertahan di level 99,13 karena pasar mulai mengalkulasi ulang dua sentimen besar: prospek diplomasi konflik Iran dan ujian independensi bagi nakhoda baru Federal Reserve, Kevin Warsh.

Reli Dolar yang sempat dipicu oleh lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury mulai kehilangan momentum setelah munculnya laporan mengenai peluang pelonggaran sementara sanksi AS terhadap ekspor minyak mentah Teheran. 


Kabar ini memberi sedikit ruang bernapas bagi mata uang utama lainnya, sehingga Euro berhasil menguat tipis ke 1,1636 Dolar AS dan Poundsterling melonjak 0,66 persen ke posisi 1,3409 Dolar AS.

Pasar menyadari harga minyak dunia yang masih bertengger di level tertinggi dalam dua pekan terakhir tetap menjadi bom waktu bagi inflasi global. 

Di luar faktor geopolitik, sorotan utama pasar kini tertuju langsung pada dinamika internal Bank Sentral AS. 

Beberapa analis mengatakan pelemahan Dolar kemarin merupakan bagian dari strategi investor yang sedang "menguji nyali" Chairman Fed yang baru, Kevin Warsh. 

Saat ini, kalkulasi pasar bahkan menunjukkan peluang sebesar 51 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebelum Desember nanti, sebuah skenario yang bisa kembali melambungkan indeks DXY dalam waktu dekat.

Sementara Dolar AS mengalami konsolidasi terhadap mata uang Eropa, situasinya berbanding terbalik di Asia. 

Yen Jepang justru terus terperosok hingga menyentuh level 158,99 per Dolar AS, posisi terlemahnya sejak akhir April. 

Keperkasaan Dolar terhadap yen gagal dibendung meskipun otoritas Jepang sempat melakukan intervensi pasar besar-besaran. 

Tekanan bagi Yen kian berat setelah muncul laporan bahwa Tokyo tengah mempertimbangkan penerbitan utang baru demi mendanai anggaran tambahan akibat dampak ekonomi perang Timur Tengah, yang semakin menegaskan mengapa dolar AS masih menjadi raja di kawasan Asia.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Tak Pandang Bulu, Prabowo Akui Serahkan Dadan ke Kejaksaan

Kamis, 17 September 2026 | 12:29

MGBKI Soroti Isu Pendidikan Dokter Spesialis

Kamis, 17 September 2026 | 12:21

Prabowo Tugaskan Bahlil Bahas RUU Migas, SKK Migas Bisa Bubar!

Kamis, 17 September 2026 | 12:15

MNK Rokan Resmi Jadi Pionir Pengembanga Migas Nonkonvensional Indonesia

Kamis, 17 September 2026 | 12:13

Dasco Pastikan Seluruh Parpol Dilibatkan dalam Pembahasan Lanjutan RUU Pemilu

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

Ternyata Prabowo Suka Evidence-Based

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

SMEC Perluas Akses Layanan Kesehatan Mata

Kamis, 17 September 2026 | 11:50

Berjalan Beriringan, Operasi PLTP Tak Pengaruhi Situs Waruga di Tomohon

Kamis, 17 September 2026 | 11:43

Optimalisasi Sumur Sepinggan V-7: PHKT Genjot Produksi Migas Lampaui Target

Kamis, 17 September 2026 | 11:35

Prabowo Ungkap Bakal Ada Investasi Besar-besaran Masuk RI

Kamis, 17 September 2026 | 11:19

Selengkapnya