Berita

Jamiludin Ritonga (Foto: Dok Jamiludin Ritonga)

Politik

Pengamat: Efektivitas “Kalimat Penenang” Prabowo Bergantung pada Kepercayaan Publik

SENIN, 18 MEI 2026 | 14:40 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak terkait langsung dengan Dolar dinilai sebagai upaya menjaga ketenangan publik di tengah gejolak nilai tukar Rupiah.

Pengamat komunikasi politik M. Jamiluddin Ritonga menilai, pernyataan tersebut lebih diarahkan untuk menjaga kondisi psikologis masyarakat agar tidak panik menghadapi penguatan Dolar AS.

“Pernyataan Prabowo yang menyatakan masyarakat desa tidak terkait langsung dengan Dolar kiranya hanya untuk menjaga sisi psikologis masyarakat,” kata Jamiluddin kepada RMOL, Senin, 18 Mei 2026.


Mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta itu menilai, sebagai kepala negara, Prabowo berupaya menjaga optimisme masyarakat, khususnya di pedesaan, agar situasi sosial tetap kondusif di tengah tekanan ekonomi.

“Prabowo ingin menjaga agar masyarakat tetap optimis dalam mengarungi hidup di tengah melemahnya Rupiah,” ujarnya.

Sebelumnya, pernyataan Prabowo juga mendapat dukungan dari Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun yang menyebut ucapan tersebut sebagai “kalimat penenang” bagi masyarakat.

Meski demikian, Jamiluddin menilai efektivitas komunikasi semacam itu sangat bergantung pada tingkat kepercayaan dan karakter masyarakat penerima pesan.

“Efektivitasnya sangat tergantung masyarakat penerima. Bagi masyarakat yang kritis, tentu komunikasi seperti itu tidak dengan sendirinya efektif,” katanya.

Menurutnya, masyarakat yang kritis cenderung mencari informasi pembanding terhadap pernyataan pemerintah.

“Kalau informasi pembanding lebih kuat dengan yang disampaikan presiden, maka pesan demikian berpeluang menjadi tidak efektif,” lanjutnya.

Namun demikian, Jamiluddin menolak jika pernyataan Prabowo dianggap sebagai bentuk komunikasi gaslighting atau manipulasi fakta.

“Prabowo tidak bermaksud menggunakan komunikasi gaslighting. Sebab, bentuk komunikasi seperti ini ada manipulasi fakta,” ujarnya.

Ia menilai gaya komunikasi Prabowo yang cenderung terbuka membuat pernyataan tersebut lebih tepat dipahami sebagai upaya menjaga stabilitas psikologis masyarakat, bukan mengecilkan kekhawatiran publik.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya