Berita

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

Purbaya Dorong Insentif Mobil Listrik di Tengah Ancaman Konflik Iran-AS Berkepanjangan

SELASA, 12 MEI 2026 | 13:25 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap alasan di balik dukungannya terhadap kelanjutan program insentif kendaraan listrik, khususnya mobil listrik, setelah sebelumnya sempat menolak kebijakan tersebut.

Menurut Purbaya, keputusan itu dipengaruhi oleh proyeksi harga minyak dunia yang diperkirakan tetap tinggi akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah, terutama antara Iran dan Amerika Serikat.

Ia menilai, tingginya konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri, khususnya BBM subsidi, membuat pemerintah perlu mencari strategi untuk menekan impor minyak. Salah satunya melalui percepatan penggunaan kendaraan listrik.


“Kita lihat harga minyak dunia kan enggak akan turun. Setelah saya ke Amerika, saya pelajarin cara Amerika melakukan diskusi dan mendesain ketentuan (negosiasi) yang diberikan untuk Iran, itu sepertinya desainnya untuk (negara) yang kalah perang,” ujar Purbaya di kantornya, Jakarta, Selasa, 12 Mei 2026.

Setelah mempelajari pola negosiasi Amerika Serikat terhadap Iran, Purbaya menilai proposal tersebut sulit diterima oleh Teheran. Karena itu, ia memperkirakan konflik masih akan berlangsung cukup lama.

“Jadi kelihatannya kalau begitu perangnya masih panjang, artinya konsumsi BBM kita juga akan masih tinggi. Dan dengan harga yang lebih tinggi, jadi kalau saya bisa pindahkan (anggaran) ke (insentif) listrik, itu akan mengurangi impor kita dengan signifikan,” lanjutnya.

Purbaya memperkirakan ketegangan Iran dan Amerika Serikat kemungkinan baru mereda paling cepat pada September 2026, bertepatan dengan agenda politik di Negeri Paman Sam.

“Paling jelek (akhir konflik) itu September, paling bagus September itu berakhir, karena di sana ada pemilihan kan di Amerika Serikat. Tapi bisa aja (konflik) jalan berlanjut terus, jadi kita akan melihat (kondisi) terus,” kata dia.

Selain untuk menekan impor BBM, pemerintah juga ingin memanfaatkan kapasitas listrik milik PLN yang belum terserap optimal.

Menurut Purbaya, saat ini masih terdapat kapasitas listrik yang tetap dibayar pemerintah melalui skema Take or Pay (ToP), meski belum digunakan secara maksimal.

“Ada listrik PLN yang tetap dibayar, tapi belum dipakai, itu mungkin kapasitas yang baru terpakai sekitar 70 persen, masih ada 30 persen listrik yang kita bayar tapi enggak dipakai kalau saya enggak salah ingat ya, saya mau pakai itu supaya subsidinya di PLN mengecil, BBM juga mengecil, itu utamanya,” tandas Purbaya.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya