Berita

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Foto: RMOL/Hani Fatunnisa)

Bisnis

Royalti Mineral Ditunda: Pemerintah Berhitung Ulang Demi Jaga Margin Smelter

SELASA, 12 MEI 2026 | 08:34 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemerintah memutuskan untuk menarik rem darurat terkait rencana kenaikan royalti mineral yang semula dijadwalkan berlaku Juni ini. 

Keputusan ini diambil karena otoritas moneter dan energi masih meramu formulasi kebijakan yang pas agar penerimaan negara bisa naik tanpa mencekik daya saing industri pertambangan nasional.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa pemerintah tidak ingin gegabah. 


"Kami masih meminta masukan dari pelaku usaha agar formulasi kebijakan tidak membebani sektor," ungkapnya di Jakarta, pada Senin 11 Mei 2026. 

Saat ini, pemerintah tengah menggodok keseimbangan antara royalti baru untuk komoditas utama—seperti batu bara, nikel, emas, hingga timah—dengan instrumen fiskal lain seperti bea ekspor dan windfall tax.

Meski harga komoditas sedang fluktuatif di level tinggi, para pemain tambang sebenarnya sedang berjuang menghadapi lonjakan biaya operasional. 

Bahlil mengatakan formulasi baru terkait royalti tambang akan diupayakan untuk menjadi hal yang menguntungkan negara dan pengusaha. 

Lebih lanjut, Bahlil menyampaikan sidang dengar pendapat pada 8 Mei 2026 terkait usulan perubahan tarif royalti untuk komoditas tembaga, timah, nikel, emas dan perak, merupakan sosialisasi dan belum menjadi keputusan. 

“(Target Juni) masih kami pikirkan lagi. Andaikan pun itu harus mencari formulasi yang ideal, yang tidak boleh merugikan pengusaha tetapi juga pendapatan negara juga bisa dioptimalkan,” ucap Bahlil.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Indonesia, Hendra Sinadia, beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa kenaikan harga bahan bakar dan gangguan pasokan bahan baku akibat ketegangan di Timur Tengah sudah cukup menekan margin perusahaan.

Rencana revisi royalti ini terbukti menjadi "hantu" bagi para investor. Pada perdagangan Senin, IHSG terkoreksi 0,9 persen, yang sebagian besar diseret oleh pelemahan saham-saham tambang. Investor tampak mulai melakukan aksi jual pada saham-saham seperti PT Timah Tbk (TINS), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Berdasarkan draf usulan, sektor timah diprediksi akan menerima hantaman paling keras dengan kenaikan royalti hingga 10 poin persentase. 

Sementara itu, royalti emas dan tembaga diusulkan naik sekitar 3 poin, perak 2 poin, dan nikel 1 poin persentase.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Buya Anwar: Kasus Korupsi Bisa Picu Krisis Kepercayaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 06:18

Direktur Keuangan dan Strategi Bank Jakarta Basaria Martha Raih Penghargaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 06:02

Ini Jadwal Lengkap Rencana Perjalanan Haji 2027

Rabu, 21 Oktober 2026 | 05:45

Seragam Tak Mengubah Hukum

Rabu, 21 Oktober 2026 | 05:34

Cek Kesehatan Gratis Kini Lebih Mudah Diakses

Rabu, 21 Oktober 2026 | 05:19

Polda Banten: KMP Batumandi Angkut 420 Penumpang dan 89 Kendaraan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:59

Pembangunan KNMP Sima-Wabu Libatkan Warga Lokal

Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:46

Korban Indosurya Berjuang Mencari Keadilan sejak 2020

Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:13

Pramono Dorong Film Nasional Tembus Pasar ASEAN

Rabu, 21 Oktober 2026 | 04:02

Galeri 24 Sabet Top 2 Kategori Retail dan Top 28 BUMN

Rabu, 21 Oktober 2026 | 03:32

Selengkapnya