Berita

Ilustrasi Beda Hantavirus di Indonesia dan MV Hondius (Sumber: Gemini Generated Image)

Kesehatan

Beda Hantavirus di Indonesia dan MV Hondius, Kemenkes Ungkap Jenis hingga Cara Penularannya

SENIN, 11 MEI 2026 | 21:52 WIB | OLEH: TIFANI

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkapkan bahwa kasus Hantavirus yang ditemukan di kapal pesiar MV Hondius berbeda dengan tipe Hantavirus yang selama ini ditemukan di Indonesia. Perbedaan tersebut terletak pada jenis sindrom, strain virus, hingga pola penularannya.

Kemenkes menjelaskan, Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius merupakan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Tipe ini banyak ditemukan di Amerika Selatan dan hingga kini belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus.

Sementara itu, kasus Hantavirus di Indonesia termasuk tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang telah ditemukan sejak 1991 dengan strain Seoul virus. Hingga saat ini, belum ada bukti penularan antar-manusia pada tipe HFRS yang ditemukan di Asia, termasuk Indonesia.


Perbedaan Hantavirus Tipe HPS dan HFRS

Hantavirus merupakan penyakit yang disebabkan oleh Orthohantavirus dari famili Hantaviridae dan ordo Bunyavirales. Terdapat sekitar 50 strain Orthohantavirus dan 24 di antaranya diketahui dapat menginfeksi manusia, seperti Seoul virus, Hanta virus, Andes virus, hingga Sin Nombre virus.

Perbedaan utama HPS dan HFRS terletak pada lokasi penyebaran, strain penyebab, hingga risiko penularan antar manusia.

1. HPS Banyak Ditemukan di Amerika Selatan

HPS umumnya disebabkan oleh strain Andes virus. Tipe ini diketahui dapat menular antar-manusia melalui kontak erat dan berkepanjangan.

Kasus di kapal pesiar MV Hondius disebut berkaitan dengan strain Andes virus tersebut. Karena itu, transmisi antar manusia pada kasus ini dinilai mungkin terjadi dalam kondisi kontak intens dalam waktu lama.

Selain Andes virus, beberapa kasus HPS juga dikaitkan dengan Sin Nombre virus yang banyak ditemukan di wilayah Amerika.

2. HFRS Ditemukan di Indonesia Sejak 1991

Berbeda dengan HPS, tipe HFRS yang ditemukan di Indonesia disebabkan oleh strain Seoul virus. Hingga kini, belum ada bukti penularan antar manusia pada tipe ini.

Penularan HFRS lebih banyak terjadi akibat kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi melalui gigitan tikus, paparan urin dan feses, air liur hewan terinfeksi, menghirup debu atau aerosol yang terkontaminasi

Gejala Hantavirus Tipe HFRS

Kemenkes menyebut gejala HFRS umumnya meliputi: Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara satu hingga dua minggu setelah paparan virus.

Pekerjaan dan Aktivitas yang Berisiko

Beberapa pekerjaan dinilai memiliki risiko lebih tinggi terkena Hantavirus karena sering bersentuhan dengan tikus atau area terkontaminasi, seperti: Selain itu, aktivitas di area tertentu juga meningkatkan risiko paparan Hantavirus, misalnya gudang lama, bangunan terbengkalai, ruang bawah tanah, hingga wilayah dengan populasi tikus tinggi dan rawan banjir. Kemenkes menegaskan bahwa kasus HPS seperti yang terjadi di MV Hondius belum pernah ditemukan di Indonesia. 

Karena itu, masyarakat diminta tidak panik namun tetap waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan tikus atau kotorannya.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Proses Hukum Febrie Adriansyah Harus Bebas dari Intervensi Politik

Senin, 13 Juli 2026 | 06:23

Tentara Salib Eropa dalam Penjarahan Konstantinopel 1204

Senin, 13 Juli 2026 | 06:05

PT Japfa Comfeed di Cengkareng Terbakar

Senin, 13 Juli 2026 | 06:03

Timnas Inggris Tak Pernah Masuk Daftar Lawan Lionel Messi

Senin, 13 Juli 2026 | 05:32

Ivan Gunawan Harap Pemerintah Bantu Pembangunan 99 Masjid

Senin, 13 Juli 2026 | 05:23

Mengungkap Skandal Pemerasan Bu Etik

Senin, 13 Juli 2026 | 05:09

Ketahuan, Amplop Baru Dikembalikan?

Senin, 13 Juli 2026 | 05:03

MBG dan KDMP Manifestasi Nyata Pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945

Senin, 13 Juli 2026 | 04:36

Mundurnya Febrie Adriansyah Jadi Pesan Politik Antikorupsi Pemerintahan Prabowo

Senin, 13 Juli 2026 | 04:05

Waspada! Ada Kompromi Kasus Ijazah Jokowi Disetop

Senin, 13 Juli 2026 | 04:02

Selengkapnya