DI ujung malam yang bisu, ketika tasbih kayu sawo mulai merapal dzikir sunyi, aku mendengar langkahmu.
Bukan langkah gegap gempita yang menggetarkan panggung-panggung politik, melainkan langkah pelan seorang santri yang pulang dari pondok, menyusuri pematang sawah kenangan, menenteng sepatu lusuh dan kitab kuning berlumur embun.
Engkau, Nusron, adalah bayangan sajadah yang terlipat rapi di dasar hati nahdliyyin: tak banyak suara, namun setiap helaan nafasmu adalah doa yang tak putus.
Kisahmu bermula dari serambi Al-Anwar, di bawah naungan Syaikhina Maimun Zuber yang wangi ilmunya menyelubungi angin Sarang.
Di sanalah sanadmu dirajut, bukan sekadar silsilah yang tercatat di lembaran kertas, melainkan rantai cahaya yang menyambung ke dada para wali, ke detak jantung Rasul yang penuh kasih. Engkau paham, bahwa menjadi santri bukan sekadar membaca kuningnya kitab, melainkan membaca peta langit dan bumi dengan mata batin yang jernih.
Maka ketika kehidupan menjemputmu di perantauan, kau tak gentar menjadi marbot masjid, menyapu debu duniawi, menyeka kaca jendela yang buram oleh asa, memeluk keprihatinan sebagai sahabat paling setia.
Di sanalah sendi-sendi filsafatmu ditempa: bahwa pemimpin sejati adalah pelayan, bahwa singgasana tertinggi adalah lantai masjid yang dingin tempat kening bersujud paling lama.
Lalu jalan itu menanjak. Engkau menapaki tangga-tangga perjuangan yang licin oleh air mata dan keringat, menggenggam dua bendera sekaligus: HMI dan PMII. Dua sungai yang sering dianggap berseberangan, namun kau jadikan pertemuan yang saling mengisi, karena kau tahu samudra tak pernah menolak sungai mana pun.
Dari sanalah hikmah besarmu lahir: bahwa perbedaan adalah anyaman, bukan sobekan. Politik bagimu bukan ajang membakar, melainkan tungku untuk memasak hidangan kebersamaan.
Golkar hanyalah perahu, dan kau mendayungnya dengan sikap pragmatis yang suci pragmatisme yang lahir dari cinta, bukan dari lapar kuasa. Engkau selamat melewati badai pergantian rezim, bukan karena kau kuat, melainkan karena kau lentur seperti bambu yang mencium tanah saat topan datang, lalu tegak kembali tanpa dendam.
Dan kini, di ambang Muktamar 2026, namamu disebut-sebut sebagai jangkar bagi bahtera Nahdlatul Ulama. Betapa tidak? Engkau adalah cermin perjuangan santri yang tak retak, air tenang yang menyimpan dalam palung kearifan.
Engkau mendatangi semua rumah kiai dan ulama, menyambangi setiap majelis zikir, mencium tangan para masyayikh yang telapaknya penuh barokah, tanpa sekalipun mempersoalkan sekat-sekat yang sengaja diciptakan oleh tangan-tangan asing yang ingin memecah belah.
Matamu cukup awas membaca strategi: bahwa sebagian besar pertengkaran kita adalah debu yang ditiupkan musuh ke mata nahdliyin yang sedang mengantuk. Maka kau memilih adem-adem saja, bukan menjadi kompor yang membakar persaudaraan.
Bagimu, remeh temeh perbedaan adalah kerikil yang tak pantas dijadikan gunung. Engkau tak tega mengompori umat untuk hal-hal yang hanya akan melukai perasaan ibu-ibu pengajian dan bapak-bapak tahlilan yang merindukan teduh.
Di zaman ketika banyak orang bergenit-genit menawarkan diri sebagai mediator perdamaian dunia, engkau justru menunduk malu.
Engkau tahu diri, paham petuah, bahwa diplomasi bukanlah panggung tempat memamerkan jas dan dasi, melainkan laku sunyi yang mensyaratkan kejernihan batin dan penguasaan peta geopolitik yang tak sederhana.
Engkau enggan menjadi sekrup kepentingan kampanye pihak lain, karena bagimu, kemuliaan NU bukanlah dijual di etalase konflik global, melainkan dirawat di liang-liang kecil: di mushola desa, di balai pengajian, di dapur-dapur santri yang mengepulkan asap nasi jagung.
Itulah
andhap asor yang hakiki: menyadari bahwa samudra tak perlu berteriak untuk diakui keluasannya.
Kecintaanmu pada kiai dan ulama bukanlah lipstik pencitraan. Ia merembes seperti air hujan yang jatuh ke akar, tak terlihat namun menghidupi.
Engkau mencintai santri dan kaum muda dengan cara membiarkan mereka tumbuh, bukan memanen mereka untuk suaramu. Maka kau adalah komposisi yang komplit: santri yang menjadi negarawan, marbot yang menjadi menteri, aktivis yang tak kehilangan kesantrian.
Engkau adalah jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, yang merindukan pemimpin NU yang tak hanya pandai berbicara tentang langit, tapi juga menggarap bumi.
Muktamar 2026 menanti kedatanganmu seperti tanah kering menanti hujan pertama di musim penghujan. Di pundakmu, kami menitipkan tongkat estafet para muassis, berharap kau akan berjalan dengan langkah yang sama: tenang, teduh, namun pasti.
Bukan sekadar memimpin, melainkan melayani; bukan sekadar mengarahkan, melainkan mendengarkan. Karena pemimpin sejati, dalam filsafat air yang kau anut, adalah yang merendah ke tempat paling dalam, lalu memberi kehidupan ke seluruh lembah.
Maka pimpinlah kami, Nusron Wahid, pulang ke akar kesejatian, ke jalan sunyi yang dirintis para wali songo. Pimpinlah kami merajut kembali benang-benang persaudaraan yang mulai kusut, memadamkan api-api kecil sebelum ia melahap seluruh rumah besar Nahdlatul Ulama.
Kami percaya, di tanganmu, NU akan menjadi pohon yang akarnya mencengkeram bumi, namun rantingnya menyentuh langit, tak roboh oleh angin zaman, tak tumbang oleh badai fitnah, dan terus meneduhi siapa saja yang berteduh di bawahnya.
Sebab di matamu, kami melihat tasbih Syaikhina Maimoen Zubair masih berputar. Butir-butirnya adalah kami semua, yang menunggu disentuh satu per satu oleh jemari keteduhanmu, mengalirkan zikir panjang, “Ya Lathif, Ya Lathif…” hingga ke ujung waktu.
Terimalah amanah ini, wahai santri yang tabah, jadilah nahkoda yang membawa kapal NU kembali ke hakikat pengabdian: menjadi rahmat, bukan pemecah; menjadi teduh, bukan gemuruh.
AKS SurapatiEsais dari Kaki Gunung Muria