Berita

Ilustrasi Waspada Hantavirus (Sumber: Gemini Generated Image)

Kesehatan

Waspada Hantavirus dari Tikus, Ini Cara Mencegah Penyebarannya

SABTU, 09 MEI 2026 | 12:33 WIB | OLEH: TIFANI

Hantavirus dilaporkan mewabah kapal pesiar MV Hondius yang tengah berlayar di Samudra Atlantik pada awal Mei 2026. Dalam kejadian tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan sejumlah penumpang lain dilaporkan kritis.

Kasus tersebut membuat masyarakat mulai khawatir terhadap virus Hanta. Virus Hanta merupakan kelompok virus yang dibawa hewan pengerat atau rodents seperti tikus. 

Meski kasusnya tergolong jarang, infeksi virus ini dapat menyebabkan penyakit berat hingga kematian pada manusia, terutama bila tidak segera ditangani. Penularan biasanya terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus di udara yang berasal dari urin, feses, maupun air liur tikus, terutama di ruang tertutup. 


Virus juga dapat masuk melalui luka terbuka pada kulit, meskipun kasus seperti ini lebih jarang terjadi dibandingkan penularan lewat udara.

Apakah Hantavirus Sudah Masuk di Indonesia?

Melansir laman Kemenkes, meski banyak orang mengira bahwa hantavirus adalah penyakit langka di luar negeri, faktanya virus ini telah lama ada di Indonesia, bahkan sejak tahun 1980-an. Beberapa penelitian yang dilakukan di kota-kota besar memberikan hasil bahwa seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen. 

Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus ini, meskipun mungkin tidak pernah terdiagnosis secara medis. Sedikitnya 23 kasus hantavirus dan 3 kasus kematian di 9 provinsi pernah tercatat di Indonesia dalam periode tiga tahun terakhir. 

Namun, seluruh kasus hantavirus di Indonesia ini terkonfirmasi ke jenis seoul virus, bukan andes virus seperti yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius. Kasus seoul virus hantavirus ini paling banyak teridentifikasi pada tahun 2025 dengan total 17 kasus, sementara pada tahun 2024 hanya terlaporkan satu kasus. 

Lebih lanjut, tercatat lima kasus seoul virus hantavirus yang ada di Indonesia pada 2026. Sementara untuk virus andes Hantavirus yang terkonfirmasi di kapal pesiar, hingga saat ini Kemenkes menyebut bahwa kasus tersebut belum menyebar kemana-mana.

Gejala Hantavirus yang Harus Diwaspadai

Mengutip laman WHO, diagnosis awal hantavirus sering kali menjadi tantangan karena gejalanya mirip dengan berbagai penyakit lain. Pada tahap awal, penderita dapat mengalami demam dan gangguan pernapasan yang menyerupai influenza, COVID-19, pneumonia virus, leptospirosis, demam berdarah, hingga sepsis. 

Sementara berdasarkan keterangan dari Kemenkes, berikut beberapa gejala dari Hantavirus yang bisa diwaspadai:

1. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)

Seseorang yang terinfeksi HFRS umumnya akan merasakan gejala awal berupa sakit kepala hebat, nyeri punggung dan perut, demam, menggigil, mual, hingga penglihatan kabur. Pada beberapa kasus, penderita juga dapat mengalami wajah kemerahan, peradangan, mata merah, atau muncul ruam pada kulit.

Setelah fase awal tersebut, kondisi pasien bisa berkembang menjadi lebih serius. Penderita HFRS dapat mengalami tekanan darah rendah, syok akut, pecahnya pembuluh darah, hingga gangguan ginjal akut yang memerlukan penanganan medis segera.

2. Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS)

Seseorang yang terinfeksi HCPS umumnya mengalami gejala awal berupa kelelahan, demam, dan nyeri otot. Nyeri biasanya terasa pada bagian paha, pinggul, punggung, dan bahu. 

Namun, sekitar empat hingga 10 hari setelah gejala awal muncul, kondisi penderita dapat memburuk. Pasien HCPS biasanya mulai mengalami batuk dan sesak napas akibat paru-paru yang terisi cairan. 

Kondisi ini membuat penderita kesulitan bernapas dan membutuhkan penanganan medis segera.

Bagaimana Cara Hantavirus Menular?


Hantavirus dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urine, feses, atau air liur tikus. Penularan juga bisa terjadi akibat kontak langsung dengan hewan pengerat, luka terbuka pada kulit, maupun permukaan yang telah terkontaminasi virus.

Dalam pedoman nasional disebutkan bahwa penularan hantavirus paling sering terjadi melalui aerosolized excreta dari rodensia, yakni partikel halus dari kotoran atau cairan tikus yang bercampur di udara lalu terhirup manusia. Artinya, seseorang tidak harus digigit tikus untuk bisa tertular Hantavirus.

Risiko penularan dapat meningkat ketika seseorang berada di lingkungan dengan banyak tikus, terutama ruangan tertutup, lembap, atau jarang dibersihkan. Misalnya gudang, loteng, ruang penyimpanan, hingga bangunan kosong yang menjadi tempat berkembang biaknya hewan pengerat.

Saat area tersebut dibersihkan, partikel virus dapat beterbangan di udara dan tidak sengaja terhirup. Oleh sebab itu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang diduga terkontaminasi kotoran tikus serta menjaga kebersihan lingkungan untuk mengurangi risiko penularan.

Cara Mencegah Hantavirus

Masih dari laman WHO, langkah utama untuk mencegah infeksi Hantavirus adalah mengurangi kontak antara manusia dengan hewan pengerat seperti tikus. Selain itu, beberapa cara berikut juga bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran Hantavirus:

  1. Menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja secara rutin
  2. Menutup celah atau lubang yang memungkinkan tikus masuk ke dalam bangunan
  3. Menyimpan makanan di tempat yang aman dan tertutup rapat
  4. Menerapkan cara pembersihan yang aman di area yang terkontaminasi tikus
  5. Menghindari menyapu atau menggunakan vacuum cleaner pada kotoran tikus dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel beterbangan di udara
  6. Membasahi area yang terkontaminasi sebelum dibersihkan agar debu tidak mudah menyebar
  7. Membiasakan mencuci tangan dan menjaga kebersihan tangan setelah membersihkan area tertentu atau setelah kontak dengan benda yang berisiko terkontaminasi.


Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Peluang Emas Kuliah Gratis Pendaftaran Beasiswa Unggulan 2026 Resmi Dibuka

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:21

Di Posko Pengungsian, Gibran Pastikan Kebutuhan Anak-Anak Terpenuhi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:21

Prioritaskan Guru PPPK Wilayah 3T Jadi PNS

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:19

Utang AS Terus Membengkak, Tekanan Fiskal Makin Besar

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:16

Jangan Sampai Utang Gerogoti Ruang Fiskal

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:07

Purbaya Siapkan Rp31 Triliun untuk Pengalihan PPPK ke Pusat

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:05

Emas “di Bawah Bantal” Warga RI Capai 1.800 Ton, Nilainya Diprediksi Tembus Rp4.400 Triliun

Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:01

Tak Benar Febrie Minta Emas 74 Kg hingga Uang Dikembalikan

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:45

Pemerintah Raup Rp34 Triliun dari Lelang SUN

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:41

Iran Siapkan Serangan Balasan hingga Eropa Jika AS Perluas Perang

Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:41

Selengkapnya