Berita

Pekerja SPPG menyiapkan MBG. (Foto: RMOL/Alifia Ramandhita)

Bisnis

Ekonom CSIS: Kunci Keberhasilan MBG Ada pada Transparansi dan Efisiensi

SABTU, 09 MEI 2026 | 08:47 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi katalisator baru bagi perekonomian rakyat, khususnya di sektor UMKM dan pertanian lokal. 

Ekonom dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono, menilai inisiatif ini memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi akar rumput jika dikelola dengan strategi yang adaptif. 

Saat ini, kesiapan infrastruktur pendukung telah menunjukkan progres signifikan. Dari target 30 ribu unit Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) atau dapur MBG, sekitar 27 ribu unit atau 90 persen di antaranya telah siap beroperasi.


Riandy menegaskan bahwa pembangunan fisik ini berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. 

"Dapurnya sudah terbangun dan ekonomi rakyat mulai bergulir. MBG ini sangat atraktif dalam membantu sektor pertanian dan perdagangan di pasar-pasar tradisional. Ini adalah akselerasi fiskal yang memberikan dampak langsung pada pelaku ekonomi di bawah," ungkapnya, dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Sabtu 9 Mei 2026.

Implementasi nyata dari dampak ekonomi ini terlihat jelas di SPPG Kadiwano, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. 

Dapur tersebut kini melayani sekitar 2.000 penerima manfaat dari jenjang TK hingga SMA di 15 sekolah. 

Kepala SPPG Kadiwano, Edwin Putra Kadege, menjelaskan bahwa kebutuhan bahan baku skala besar seperti sayur-sayuran dipenuhi melalui kolaborasi dengan petani lokal. Hal ini dilakukan untuk memastikan roda ekonomi di sekitar dapur tetap berputar.

Edwin menambahkan bahwa pihaknya juga memberdayakan ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki akses pekerjaan untuk menjadi tenaga juru masak. 

Untuk menjaga stabilitas harga dan stok, SPPG menerapkan sistem jadwal suplai mingguan agar hasil panen petani tidak menumpuk. 

“Jadi, memang kami memberdayakan UMKM di sekitar SPPG. Dengan adanya MBG, manfaat tidak hanya untuk adik-adik sekolah, tapi lebih luas kepada masyarakat,” ujar Edwin.

Mengingat pentingnya menjaga stabilitas fiskal dan peringkat kredit nasional, Riandy Laksono menyarankan pemerintah untuk bersikap fleksibel dalam mengelola anggaran MBG. 

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah penyesuaian frekuensi pemberian makan tanpa harus memangkas jangkauan wilayah atau sasaran penerima manfaat.

"Agar anggaran tetap sehat dan risiko rating kredit terjaga, pemerintah bisa mengambil jalan tengah dengan mengatur frekuensi, misalnya dari 6 hari menjadi 3 atau 4 hari seminggu. Langkah ini jauh lebih aman daripada mengubah total struktur program yang sudah berjalan, sehingga manfaat ekonomi bagi pekerja dapur dan penyedia bahan pangan tetap terjaga," jelas Riandy.

Selain efisiensi, Riandy menekankan pentingnya pengawasan lapangan yang ketat melalui mekanisme pemeriksaan acak (random check) untuk menjamin kualitas nutrisi tetap terjaga. Transparansi dalam pengelolaan dapur dianggap sebagai kunci agar setiap dana yang dikeluarkan benar-benar menjadi investasi bagi kualitas sumber daya manusia masa depan.

Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak melihat MBG sebagai satu-satunya tumpuan pertumbuhan ekonomi nasional. 

"Tapi lagi-lagi, jangan diharapkan MBG ini bisa kemudian memutar roda perekonomian sampai 8 persen, akan sulit dibayangkan, karena untuk menggerakkan ekonomi, butuh mesin-mesin ekonomi baru, tidak hanya mengandalkan sektor pertanian, jadi perlu ada sektor-sektor yang lain yang perlu digenjot," katanya.

"Jadi jangan mengandalkan MBG sendirian untuk strategi pertumbuhan, sehingga kita jor-joran ke pertanian," pungkas Riandy.

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya