Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Rasio Utang AS Dianggap Tak Berkelanjutan: Obligasi Zona Euro Mulai Curi Perhatian Investor Dunia

KAMIS, 07 MEI 2026 | 08:52 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dominasi US Treasuries sebagai aset aman utama mulai menghadapi tantangan baru. 

Laporan terbaru Global Debt Monitor yang dirilis oleh Institute of International Finance (IIF) pada Rabu 6 Mei 2026  mengungkapkan bahwa investor global mulai mendiversifikasi portofolio mereka dengan mengurangi ketergantungan pada surat utang pemerintah Amerika Serikat tersebut.

US Treasuries diterbitkan oleh pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Keuangan (United States Department of the Treasury) untuk membiayai belanja negara, infrastruktur, dan militer. Instrumen ini dianggap sebagai salah satu investasi paling aman di dunia karena dijamin penuh oleh pemerintah AS


Di saat utang dunia melonjak ke rekor fantastis 353 triliun Dolar AS pada akhir Maret, muncul tren menarik di pasar obligasi. IIF mencatat adanya peningkatan permintaan internasional yang signifikan terhadap obligasi pemerintah Jepang dan Eropa. Kondisi ini kontras dengan permintaan terhadap US Treasuries yang cenderung stagnan sejak awal tahun.

Emre Tiftik, Direktur Pasar Global dan Kebijakan IIF, menilai fenomena ini sebagai sinyal diversifikasi. Meski pasar US Treasuries yang bernilai 30 triliun Dolar AS masih stabil dalam jangka pendek, Tiftik memberikan peringatan untuk jangka panjang.

"Surat utang pemerintah Amerika Serikat bergerak ke arah yang tidak berkelanjutan, terutama jika dibandingkan tren di zona euro dan Jepang yang justru menunjukkan penurunan rasio utang," ujar Tiftik, dikutip dari Reuters Kamis 7 Mei 2026.

Lonjakan utang global sebesar 4,4 triliun Dolar AS pada kuartal pertama tahun ini—pertumbuhan tercepat sejak pertengahan 2025—sebagian besar dipicu oleh aktivitas peminjaman pemerintah Amerika Serikat. Di bawah kebijakan saat ini, rasio utang terhadap PDB Amerika Serikat diprediksi akan terus merangkak naik.

Di belahan dunia lain, China juga mencatatkan akselerasi utang yang didorong oleh perusahaan non-keuangan, terutama Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang pertumbuhannya melampaui utang pemerintah lokal. 

Sementara itu, utang di negara berkembang (di luar China) mencapai rekor baru sebesar 36,8 triliun Dolar AS, yang didominasi oleh pembiayaan sektor publik.

Secara global, rasio utang terhadap output ekonomi dunia tertahan di level 305 persen. Meski terlihat stabil sejak 2023, terdapat disparitas yang jelas: rasio utang di negara maju cenderung menurun, sementara di negara berkembang justru meningkat. 

Beberapa negara seperti Norwegia, Kuwait, China, Bahrain, dan Arab Saudi mencatat lonjakan rasio utang paling tajam, yakni lebih dari 30 poin persentase terhadap PDB mereka.

IIF memperingatkan bahwa tren kenaikan utang ini belum akan mereda dalam jangka menengah hingga panjang. Berbagai tekanan struktural memaksa pemerintah dan korporasi untuk terus meminjam, mulai dari penuaan populasi, belanja pertahanan yang membengkak, keamanan energi, hingga investasi masif di bidang kecerdasan buatan (AI).

Menariknya, meskipun pasar obligasi pemerintah AS melambat, pasar obligasi korporasi Amerika tetap perkasa. Hal ini didorong oleh antusiasme investor global terhadap penerbitan surat utang yang berkaitan dengan pengembangan teknologi kecerdasan buatan.

Ketegangan geopolitik juga menjadi variabel yang memperkeruh suasana. Menurut Tiftik, dinamika keamanan global saat ini menambah beban fiskal negara-negara besar.

"Konflik terbaru di Timur Tengah diperkirakan semakin memperkuat tekanan tersebut," pungkas Tiftik.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Duel Panas Timnas Indonesia Vs Malaysia, Ini Rekor Statistiknya

Minggu, 27 September 2026 | 02:22

Tak Peduli Teman, Prabowo Tegas Sikat Pencuri Duit Negara

Minggu, 27 September 2026 | 02:02

Di Balik Kemudahan QRIS, Merchant Tetap Wajib Terima Tunai

Minggu, 27 September 2026 | 01:46

Gugatan Denny Indrayana Cs Untungkan Seluruh Parpol di DPR

Minggu, 27 September 2026 | 01:20

Pemerintah Jangan Pukul Rata Evaluasi IUP

Minggu, 27 September 2026 | 01:07

Emas Rahmat Bawa Indonesia Lompat ke Posisi 14

Minggu, 27 September 2026 | 00:35

Kowani Apresiasi Penegasan Menteri Hukum soal SK Kepengurusan

Minggu, 27 September 2026 | 00:17

Rahmat Erwin Abdullah Persembahkan Emas Kedua Indonesia

Minggu, 27 September 2026 | 00:05

Bhayangkari Salurkan 6 Ribu Paket Sembako untuk Warga Aceh

Sabtu, 26 September 2026 | 23:49

Wamenag Protes Keras Pembebasan Bersyarat Bechi Pemerkosa Santriwati

Sabtu, 26 September 2026 | 23:20

Selengkapnya