Berita

Ilustrasi Mahasiswa

Politik

Penutupan Prodi Sama dengan Bunuh Diri Intelektual

SELASA, 05 MEI 2026 | 14:31 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Rencana penutupan program studi (Prodi) yang dianggap tidak relevan dikritik Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKB Habib Syarief Muhammad.

Menurutnya, rencana penutupan prodi berdasarkan relevansi pasar sering kali terjebak dalam arus instrumentalisme ekonomi. Pendidikan tinggi tidak boleh direduksi sekadar menjadi lembaga pelatihan kerja (vocational training). 

"Secara filosofis, universitas adalah studium generale, tempat pencarian kebenaran dan pengembangan peradaban," katanya, Selasa, 5 Mei 2026.


Jika kebijakan hanya berpijak pada kebutuhan industri saat ini, maka pemerintah berisiko melakukan kesalahan fatal dalam memprediksi kebutuhan masa depan. Apa yang dianggap tidak relevan hari ini, dapat menjadi fondasi kritis di masa depan.

"Menutup prodi secara prematur adalah bentuk bunuh diri intelektual yang mengancam keragaman epistemologis bangsa," terang politisi PKB asal Dapil Jawa Barat I itu. 

Dari sudut pandang esensi pendidikan, sebuah program studi bukan sekadar unit administratif, melainkan sebuah ekosistem pemikiran. Menutup prodi berarti memutus tradisi keilmuan, menghapus ribuan jam penelitian, dan menghilangkan spesialisasi yang mungkin sangat unik. 

Dalam era trans-disciplinary saat ini, prodi-prodi yang dianggap marginal justru sering kali menjadi kunci dalam memecahkan masalah kompleks melalui kolaborasi lintas ilmu.

"Dukungan saya terhadap civitas kampus yang terancam bukanlah dukungan yang bersifat emosional-personal, melainkan dukungan terhadap integritas institusional," bebernya. 

Menurutnya, ancaman terhadap penutupan prodi tanpa kajian komprehensif adalah ancaman terhadap kebebasan akademik dan keberlangsungan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Habib Syarief menegaskan bahwa negara tidak boleh membiarkan para pemikir, peneliti, dan pengajar kehilangan rumah intelektual mereka hanya karena perubahan tren pasar yang bersifat temporal. 

"Esensi pendidikan adalah menjaga nyala api pengetahuan, bukan sekadar mengikuti arah angin industri. Kita harus berdiri tegak untuk melindungi keberagaman disiplin ilmu sebagai aset kedaulatan berpikir bangsa," tegasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Diburu Kolektor, BI Cetak Lagi Rupiah Tanda Tangan Purbaya

Jumat, 25 September 2026 | 00:17

DPRD DKI: Perkuat Fungsi Edukasi dan Kebudayaan di TIM

Jumat, 25 September 2026 | 00:04

Pelunasan BLBI Jadi Tonggak Penyelesaian Krisis 1997-1998

Kamis, 24 September 2026 | 23:37

Tim Hukum: Tak Ada Saksi Sebut Heri Susanto Terima Suap

Kamis, 24 September 2026 | 23:19

Sufmi Dasco akan Kukuhkan Pengurus APKLI Merah Putih

Kamis, 24 September 2026 | 23:00

Tagihan Cicilan Kopdes Merah Putih Rp37,7 Triliun Jatuh Tempo Besok

Kamis, 24 September 2026 | 22:59

Warisan Kwik Kian Gie untuk Indonesia

Kamis, 24 September 2026 | 22:48

DPR Minta Basarnas Lanjutkan Pencarian Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Kamis, 24 September 2026 | 22:26

Tokoh Adat Papua Kecam Penembakan Tiga Warga Sipil di Muliama

Kamis, 24 September 2026 | 22:23

Menko Yusril Pastikan Media Bebas Meliput di Lapas Cibinong

Kamis, 24 September 2026 | 22:11

Selengkapnya