Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Indonesia Menuju Gelap

MINGGU, 03 MEI 2026 | 06:50 WIB

SECARA empiris, sekitar 70 persen struktur impor Indonesia terdiri dari bahan baku dan barang penolong industri, sementara survei pelaku usaha menunjukkan bahwa kurang lebih 70 persen bahan baku industri masih berasal dari luar negeri. 

Artinya, sebagian besar aktivitas produksi domestik tidak bertumpu pada fondasi lokal, melainkan pada input global.

Ketergantungan ini bahkan lebih ekstrem di sektor tertentu. Industri farmasi masih mengimpor sekitar 80 persen bahan bakunya. Industri susu dan pangan tertentu berada pada kisaran yang sama. Industri kimia dasar dapat mencapai ketergantungan hingga 90 persen. 


Sementara sektor petrokimia, khususnya nafta, hampir sepenuhnya bergantung pada impor. Dengan struktur seperti ini, Indonesia bukan sekadar pengguna impor, tetapi terkunci secara sistemik dalam rantai pasok global.

Lalu apa yang terjadi ketika rupiah melemah? Dalam jangka pendek, sebagian pelaku sektor berbasis sumber daya alam memang diuntungkan, terutama dari penerimaan devisa hasil ekspor (DHE). Namun keuntungan ini tidak merata. 

Di sisi lain, biaya jasa seperti freight kapal melonjak dan beban bunga utang dalam valuta asing meningkat. Dengan kata lain, gain di satu sisi langsung tergerus oleh cost di sisi lain.

Menurut penulis, yang paling terpukul justru industri padat karya: tekstil, alas kaki, makanan dan minuman, hingga konstruksi. Sektor-sektor ini sangat bergantung pada bahan baku impor atau linked intermediate products. 

Ketika rupiah melemah, biaya produksi mereka naik signifikan, sementara daya saing ekspor tidak otomatis membaik karena struktur biaya tetap tinggi. Di pasar domestik, kondisi semakin berat--daya beli lemah, sementara harga naik akibat imported inflation.

Akibatnya, industri menghadapi tekanan ganda: margin tergerus dan volume penjualan menurun. Dampaknya tidak berhenti di sektor riil. Ketika profitabilitas dunia usaha menurun, penerimaan pajak ikut tertekan. 

Penurunan penerimaan ini memperlebar defisit APBN, yang pada akhirnya mendorong peningkatan kebutuhan pembiayaan utang. Dalam kondisi seperti ini, tekanan terhadap nilai tukar rupiah justru semakin besar. 

Nilai tukar rupiah saat ini mencapai Rp17.383 per Dolar AS, terlemah sepanjang sejarah RI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun menyentuh di level 6.926 

Inilah siklus yang berulang. Sebuah lingkaran yang sudah berlangsung selama dekade, namun belum disentuh pada akar masalahnya.

Selama struktur industri masih bergantung pada impor bahan baku dan intermediate, pelemahan rupiah tidak akan pernah menjadi instrumen daya saing--melainkan hanya menjadi sumber tekanan biaya yang pada akhirnya PHK meluas. 

Sayangnya, narasi kebijakan sering kali berhenti pada optimisme yang bersifat populis, seolah ekonomi tetap kuat di tengah tekanan struktural yang nyata. Padahal realitanya sederhana, yang melemah bukan hanya rupiah, tetapi fondasi kita sebagai bangsa dan hopeless.

Dr. Ariadi MSi
Akademisi dan praktisi dari Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU)


Populer

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

Pujian Anies ke JK Benamkan Ade Armando Cs

Senin, 18 Mei 2026 | 04:20

UPDATE

Rieke Diah Pitaloka Soroti Pentingnya Integrasi Data Haji Nasional

Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:18

Pekan Depan, Presiden dan Wapres Serahkan Hewan Kurban ke Masjid Istiqlal

Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:01

Harga Minyak Dunia Naik Tipis di Akhir Pekan

Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:47

Haji 2026, Ketua Komisi VIII DPR Minta Pemerintah Waspadai Tantangan Fase Armuzna

Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:35

DPR dan Grenpace Bahas Penguatan Swasembada Pangan Lewat Hilirisasi Perkebunan

Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:19

Pemerintah Disarankan Dahulukan Kelompok Rentan untuk MBG

Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:09

Komisi V DPR Tinjau Gangguan GPS Penerbangan, Minta Sistem Mitigasi Diperkuat

Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:01

Indeks DXY Kokoh di 99,24, Dolar AS Dekati Level Tertinggi 6 Pekan

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:54

Harga Tiket FIFA Matchday Timnas Indonesia Juni 2026, Ini Cara Belinya

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:48

Megawati dan Sri Sultan HB X Berbincang Santai di Keraton hingga Larut Malam

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:30

Selengkapnya