Berita

CEO Exxon Mobil (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube CNBC)

Bisnis

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

SABTU, 02 MEI 2026 | 14:21 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia berpotensi naik lebih tinggi karena dampak perang Iran belum sepenuhnya terasa di pasar. Begitu menurut pernyataan terbaru CEO Exxon Mobil, Darren Woods.

Menurut Woods, saat ini pasar masih “tertahan” oleh beberapa faktor sementara, seperti banyaknya kapal tanker yang sudah terlanjur berlayar sebelum konflik memanas, pelepasan cadangan minyak strategis oleh pemerintah, serta stok komersial yang masih tersedia. Namun, kondisi ini tidak akan bertahan lama jika konflik terus berlanjut.

Ia menegaskan, gangguan pasokan energi akibat perang dan penutupan Selat Hormuz tergolong sangat besar, bahkan belum pernah terjadi sebelumnya. 


“Pasar belum merasakan dampak penuhnya,” ujar Woods, dikutip dari Reuters, Sabtu 2 Mei 2026.

Ia juga menambahkan, tekanan harga akan semakin kuat jika jalur tersebut tetap tertutup.

Selama konflik berlangsung, harga minyak bergerak sangat fluktuatif - naik saat ketegangan meningkat, lalu turun ketika muncul harapan perdamaian. Meski demikian, Woods menilai harga saat ini masih belum mencerminkan skala gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah.

Ke depan, Woods memperkirakan aliran minyak dari Teluk Persia tidak akan langsung pulih meskipun Selat Hormuz kembali dibuka. Dibutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan untuk menormalkan distribusi karena kapal tanker harus diatur ulang dan keterlambatan pengiriman harus diselesaikan.

Selain itu, setelah konflik berakhir, pemerintah dan pelaku industri diperkirakan akan kembali mengisi cadangan minyak mereka. Langkah ini justru akan meningkatkan permintaan dan mendorong harga minyak naik lebih lanjut.

Dari sisi operasional, Exxon memperkirakan produksinya di Timur Tengah bisa turun hingga 750.000 barel per hari dibandingkan tahun 2025 jika penutupan selat berlanjut. Sekitar 15 persen total produksi perusahaan terdampak situasi ini, ditambah gangguan pada fasilitas gas alam cair di Qatar yang juga mempengaruhi sebagian produksi mereka.

Di pasar saham, kinerja Exxon relatif datar meski harga minyak sudah melonjak tajam sejak perang dimulai. Hal ini menunjukkan bahwa investor masih menunggu kepastian lebih lanjut terkait dampak jangka panjang konflik terhadap industri energi global.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Pelindo Dukung Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Integrasi Rantai Pasok Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16

Indonesia Harus Tegas Tolak LGBT!

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:08

Catatan HUT ke-80 Polri

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:40

Bobby Nasution Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari dengan Biaya Talangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:20

Ekodiplomasi di antara Geopolitik dan Kedaulatan Konservasi Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:01

Danantara Sedang Membersihkan Warisan Lama BUMN

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Hibah KNPI Kabupaten Bogor Menuai Polemik di Tengah Konflik Internal

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Ketua MPR Bicara Islam Toleran dan Persatuan saat Bertemu Grand Mufti Uzbekistan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:55

Papua Harus Dibangun Tanpa Kehilangan Manusianya

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:45

DPR Minta Transparansi Rencana Pengadaan Rudal BrahMos

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:44

Selengkapnya