Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

SABTU, 02 MEI 2026 | 13:00 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Bank Dunia memproyeksikan harga emas dan perak akan mengalami penurunan sekitar 7 persen pada 2027. Proyeksi tersebut disampaikan dalam laporan Commodity Market Outlook, yang menyoroti ketidakpastian prospek logam mulia ke depan.

Dalam laporannya, Bank Dunia menyebut harga emas dan perak sangat sensitif terhadap perubahan sentimen risiko global, permintaan spekulatif, serta kondisi makroekonomi.

“Prospeknya tetap penuh dengan ketidakpastian,” demikian pernyataan Bank Dunia, dikutip Sabtu, 2 Mei 2026.


Sejak akhir 2025, lembaga tersebut mempertahankan pandangan negatif terhadap pergerakan harga kedua logam mulia tersebut. Salah satu risiko utama yang diidentifikasi adalah potensi kenaikan inflasi, seiring lonjakan harga energi dan komoditas lainnya.

Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan opportunity cost dalam memegang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga menekan minat investor.

Selain itu, pelonggaran ketegangan geopolitik juga berpotensi mengurangi arus investasi ke aset safe haven seperti emas. Di sisi lain, perlambatan pembelian oleh bank sentral - setelah periode akumulasi besar dalam beberapa tahun terakhir - diperkirakan turut mengurangi dukungan terhadap harga.

Untuk perak, risikonya dinilai lebih besar karena tingginya ketergantungan pada permintaan industri. Perlambatan ekonomi global dapat berdampak langsung terhadap permintaan logam ini.

Analis juga memperingatkan potensi penurunan harga yang signifikan, terutama jika terjadi aksi ambil untung dan penyeimbangan kembali portofolio setelah lonjakan permintaan spekulatif sejak awal 2025.

Meski demikian, dalam jangka pendek harga emas dan perak masih menunjukkan tren penguatan. Rata-rata harga emas diperkirakan mencapai 4.700 dolar AS per ons pada tahun ini, naik sekitar 37 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, harga perak diproyeksikan berada di kisaran 70 dolar AS per ons, atau melonjak hingga 76 persen secara tahunan.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Wamenko Dradjad: Penilaian MSCI Tidak Selalu Benar

Jumat, 16 Oktober 2026 | 16:23

Trump Bicara Soal Denuklirisasi dengan Rusia dan Tiongkok

Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:43

PGN Perkuat Efisiensi dan Daya Saing Bisnis Melalui Inisiatif Dekarbonisasi Berkelanjutan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:22

Kawasan Industri Diajak Cak Imin Bantu Korban Karhutla

Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:11

OJK Denda DSSA, BREN, CUAN Rp2,1 Triliun, Sanksi 835 Pihak Tembus Rp390 Miliar

Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:03

DIM RUU Migas Hampir Rampung 90 Persen

Jumat, 16 Oktober 2026 | 15:00

Airlangga Heran MSCI Mendadak Ancam Cabut Status Emerging Market RI Usai Bertemu Menkeu-BI di Bangkok

Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:52

Pimpin Nasdem Garut, Lola Nelria: Partai Harus Hadir dalam Kehidupan Masyarakat

Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:46

Houthi Serang Istana Presiden Yaman, Lima Meninggal Dunia

Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:41

Kopdes Butuh Talenta Utuh agar Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Desa

Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:34

Selengkapnya