Berita

Peringatan Hari Buruh dilakukan PDIP dengan menggelar bakti sosial di Malang, Jawa Timur. (Foto: Dok. PDIP)

Politik

Buruh Bukan Tumbal Krisis, Negara Wajib Hadir Lindungi Pekerja

JUMAT, 01 MEI 2026 | 13:04 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menegaskan komitmennya membela kaum buruh di tengah tekanan ekonomi yang kian berat. Negara diminta hadir menjamin perlindungan dan kesejahteraan sosial pekerja, bukan justru membiarkan buruh menjadi korban krisis.

Komitmen itu ditegaskan dalam kegiatan bakti sosial yang digelar DPP PDIP bersama sekitar 3.000 buruh perusahaan milik PT Sayap Mas di Kabupaten Malang bertepatan peringatan Hari Buruh Internasional pada, Jumat, 1 Mei 2026.
 
Kegiatan bertema “Banteng Pro Pekerja: Buruh Berdaulat, Indonesia Berdikari” itu dikemas dalam bentuk dialog, layanan kesehatan, konsultasi hukum perburuhan, pembagian ribuan paket sembako, hingga pentas seni dan musik.


Acara diawali dengan pemutaran pidato politik Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam rangka peringatan Hari Buruh.

“Peringatan 1 Mei harus dilihat dari perspektif historis dan kebudayaan. Perjuangan buruh adalah manifestasi perlawanan terhadap kapitalisme dan imperialisme. Buruh bukan sekadar faktor produksi, melainkan soko guru perjuangan bangsa,” ujar Megawati.

Ia menegaskan, kesejahteraan buruh merupakan prasyarat utama terwujudnya keadilan sosial.

Ketua DPC PDIP Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto menambahkan, partainya akan terus berada di garis depan memperjuangkan hak buruh, khususnya tiga tuntutan utama: layak hidup, layak upah, dan layak kerja.

“Partai adalah pelayan rakyat. Fraksi menjadi ujung tombak perjuangan melalui kebijakan dan program yang berpihak pada buruh,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua DPP PDIP Bidang Tenaga Kerja dan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Mercy Barends, menyoroti dampak tekanan ekonomi global dan nasional terhadap buruh.

Menurutnya, fluktuasi nilai tukar rupiah, kenaikan harga minyak dunia, serta mahalnya bahan baku impor telah memicu lonjakan biaya produksi yang berujung pada efisiensi perusahaan, termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Gelombang PHK di sektor padat karya seperti tekstil dan manufaktur semakin meluas. Buruh kembali menjadi pihak paling terdampak,” ujar Mercy.

Ia mengingatkan kembali ajaran Bung Karno tentang Trisakti sebagai dasar keberpihakan kepada rakyat kecil.

“Kemerdekaan sejati bukan hanya politik, tetapi juga ekonomi. Tidak boleh ada eksploitasi manusia atas manusia, termasuk buruh oleh pemilik modal,” tegasnya.

Mercy menekankan, buruh merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Karena itu, kebijakan ekonomi harus memastikan beban krisis tidak ditanggung sepenuhnya oleh rakyat kecil.

Ia pun mendorong langkah konkret, seperti intervensi negara untuk mencegah PHK massal, penguatan jaminan sosial tanpa pengurangan manfaat melalui BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, serta penyesuaian upah yang adil.

“Keadilan sosial tidak akan terwujud jika buruh masih diperas tanpa jaminan hidup layak. Kita harus berdiri bersama buruh,” tegas Mercy.

Senada, Sekretaris DPD PDIP Jawa Timur, Denny Wicaksono, mengkritik praktik pemotongan akses jaminan sosial dan penahanan kenaikan upah di tengah inflasi.

“Hal ini berdampak langsung pada kehidupan buruh dan keluarganya. PDIP akan terus memperjuangkan perlindungan bagi buruh, petani, dan nelayan,” ujarnya.

Ia menilai, dalam setiap guncangan ekonomi, buruh selalu menjadi pihak pertama yang terdampak, baik melalui PHK maupun tidak terpenuhinya hak-hak dasar pekerja.

Kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah kader PDIP, antara lain Ribka Tjiptaning, Tri Rismaharini, Sri Rahayu, Edi Wuryanto, Pulung Agustanto, Sihar Sitorus, Vita Ervina, Obet Rumbruren, serta Bupati Malang HM Sanusi.

Dalam kesempatan itu, Mercy juga menyampaikan rangkaian kegiatan peringatan Hari Buruh oleh DPP PDIP, mulai dari FGD RUU Ketenagakerjaan dan RUU Perlindungan Pekerja Migran Indonesia pada 27 April, hingga puncak acara yang akan digelar di GOR Otista, Jakarta Timur.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Intervensi Jepang Runtuhkan Dominasi Dolar AS

Jumat, 01 Mei 2026 | 08:15

Saham Big Tech Bergerak Beragam, Alphabet dan Amazon Moncer

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:58

Mojtaba Khamenei: Tak Ada Tempat bagi AS di Teluk Persia

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:36

Harga Emas Melonjak setelah Jepang Intervensi Pasar Mata Uang

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:26

STOXX 600 Capai Level 611,28 Saat Sektor Industri Melesat di Atas 1 Persen

Jumat, 01 Mei 2026 | 07:06

Diplomasi Raja Charles III terhadap ‘King’ Trump

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:57

Celios: Kita Menolak MBG Dijadikan Alat Politik

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:28

Keluarga, Buruh dan Prabowonomics

Jumat, 01 Mei 2026 | 06:02

Pembatalan Unjuk Rasa May Day di DPR Dianggap Warganet ‘Sudah Cair’

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:39

Prabowo-Gibran Diselamatkan Beras

Jumat, 01 Mei 2026 | 05:15

Selengkapnya