Berita

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral era 2014–2016, Sudirman Said. (Foto: Istimewa)

Politik

Sudirman Said:

Kebijakan Energi RI Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek Menahun

KAMIS, 30 APRIL 2026 | 19:27 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Akar persoalan ketahanan energi Indonesia bukan semata terletak pada gejolak harga minyak dunia, namun pada pola pikir jangka pendek (shortterm-isme) yang telah menahun dalam pengambilan kebijakan.

Demikian dikatakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral era 2014-2016, Sudirman Said dalam diskusi di kantor Dewan Pengurus Pusat Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Jakarta Selatan, dikutip Kamis 30 April 2026.

"Tekanan pada energy security kita terus berlangsung karena tiga aspek fundamental. Yang pertama dan paling mendasar adalah shortterm-isme," kata Sudirman.


Aspek kedua, sambung Sudirman, adalah politik dan kebijakan populis yang terlalu dominan. Adapun aspek terakhir adalah praktik konflik kepentingan antara pengambil kebijakan dan pelaku usaha. Ia tidak menyebut kasus atau nama tertentu.

"Akibat dari ketiga hal tadi, kita selalu kalang-kabut dalam mengelola urusan yang fundamental dan berdimensi jangka panjang," kata Sudirman.

Sudirman mencontohkan inkonsistensi dalam kebijakan transisi energi. “Lihat saja, dari dekade ke dekade, polanya sama, itu-itu melulu. Wacana peralihan ke energi baru-terbarukan hanya akan hangat saat harga minyak sedang melambung. Hangat-hangat tahi ayam, begitu pasar kembali stabil, urgensinya hilang,” paparnya.

"Riuh-rendah transisi energi hanya ada dalam suasana harga minyak sedang ekstrem tinggi. Begitu keadaan normal, kita terninabobokan, lupa, dan kembali pada business as usual," sambungnya.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah krisis pasokan akibat konflik Timur Tengah yang oleh International Energy Agency (Badan Energi Internasional) disebut sebagai disrupsi terbesar sepanjang sejarah pasar minyak global. 

Sudirman menyebut, konflik Iran-Amerika membawa ketidakpastian besar bagi pasokan minyak dunia, termasuk ke Indonesia. Isunya mencakup harga, ketersediaan suplai, dan sekaligus jalur logistik.

"Ketahanan energi sedang terjerat risiko besar karena ketergantungan impor minyak kita sangat tinggi," kata Sudirman.

Diketahui, konsumsi bahan bakar minyak nasional RI saat ini mencapai 1,6 juta bph (barel per hari). Sementara, produksi dalam negeri hanya 600-610 ribu bph. Selisihnya, sekitar 1 juta bph, seluruhnya ditutup melalui impor.

"Besarnya impor dan kenaikan harga akan menekan kurs rupiah. Mengingat, untuk impor, kita harus belanja valas sehari senilai 100 juta dolar AS. Itu angka minimalnya," pungkas Sudirman.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Anies dan KDM Bisa Wassalam Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Senin, 21 September 2026 | 16:22

Keluarga Ikhlas Namun Masih Berharap Lima Wartawan yang Hilang Bisa Pulang

Senin, 21 September 2026 | 16:01

Begini Respons Nusron Ditanya Alasan Mundur dari Kepengurusan Golkar

Senin, 21 September 2026 | 15:53

Turki Siap Kirim Bantuan Militer ke Arab Saudi Jika Terdesak

Senin, 21 September 2026 | 15:47

Bupati Bolmut Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Senin, 21 September 2026 | 15:41

Menkop Dorong Koperasi Sawit Miliki Pabrik CPO Sendiri

Senin, 21 September 2026 | 15:15

Lima Wartawan Hilang saat Liput Anak Krakatau Jadi Pahlawan Pers

Senin, 21 September 2026 | 15:07

Arab Saudi Gempur Yaman 760 Kali, Houthi Ancam Balas Lebih Keras

Senin, 21 September 2026 | 14:56

Dukung Prabowo Kuatkan Sanksi Pelaku Karhutla

Senin, 21 September 2026 | 14:50

Jangan Ukur Keberhasilan Pariwisata Hanya dari Jumlah Wisatawan

Senin, 21 September 2026 | 14:40

Selengkapnya