Berita

Jonatan Christie. (Foto: Humas PBSI)

Publika

Tim Thomas Cup Catat Sejarah Memalukan

RABU, 29 APRIL 2026 | 18:32 WIB

NEGERI kita terus dirundung duka. Tabrakan maut kereta api vs commuter line sudah 15 korban jiwa. Lalu, korupsi semakin merajalela. 

Semakin merana, tim Thomas Cup kita pun menderita. Prancis membuat Jonatan Christie berderai air mata. 

Di tengah malam dingin menggigit di Forum Horsens pada 29 April 2026, muncul sejarah. 


Sejarah itu bukan ditulis, tapi ditamparkan langsung ke muka. Bukan pakai sarung tangan, tapi pakai sandal swallow basah. 

Hati jutaan pecinta bulu tangkis Indonesia? Hancur, bukan lagi berkeping, ini sudah jadi bubuk instan, tinggal diseduh air mata.

Tim Thomas Cup yang dulu dielu-elukan, negara dengan 14 gelar juara, bukan empat belas janji kampanye, tiba-tiba tumbang di fase grup. 

Ini bukan sekadar kalah. Ini sejarah kelam sejak pertama ikut tahun 1958. Nuan bayangkan, dari legenda jadi bahan renungan. Dari kebanggaan jadi bahan curhat nasional.

Padahal awalnya gaya banget. Libas Aljazair 5-0, kayak lagi sparring. Lawan Thailand, menang dramatis 3-2, adegannya sudah kayak sinetron jam prime time. Penonton sempat berharap, “Ini dia, Indonesia bangkit!” Eh, ternyata bangkitnya cuma buat jatuh lebih keras.

Masuklah Prancis. Negara yang dulu kita lihat sambil santai, sekarang datang seperti dosen killer bawa soal ujian susulan. Skor akhir? 1-4. Bukan skor, ini tagihan rasa malu.

Jonatan Christie yang biasanya jadi andalan, kali ini seperti WiFi lemot, ada, tapi gak membantu. Kalah 19-21, 14-21 dari Christo Popov. 

Lanjut Alwi Farhan, kalah lagi dari Alex Lanier. Belum sempat tarik napas, Anthony Sinisuka Ginting sudah bikin kita naik-turun emosi, menang gim pertama 22-20, lalu kalah di rubber game 15-21, 20-22 dari Toma Junior Popov. Bahkan kram pula. Lengkap sudah, tragedi rasa sinetron religi.

Yang paling nusuk itu ganda pertama. Sabar Karyaman Gutama dan Moh Reza Pahlevi Isfahani kalah straight 19-21, 19-21 dari Eloi Adam/ Leo Rossi. Skor jadi 0-4. Nol, Wak. Nol. Harapan kita? Ikut nol juga.

Partai terakhir dimenangkan Fajar Alfian / Muhammad Shohibul Fikri dengan skor 21-18, 19-21, 21-11. Tapi ya itu… kemenangan yang datang terlambat. Ibarat ambulans tiba setelah acara tahlilan selesai. Berguna? Secara teknis iya. Secara emosional? Ya ampun.

Akhirnya Prancis dan Thailand lolos, Indonesia pulang. Peringkat tiga grup. Kepala tertunduk, pundak berat, dan netizen sudah siap jadi komentator dadakan kelas dunia.

Ironis? Banget. Negara yang dulu bikin dunia gemetar di lapangan bulu tangkis, sekarang malah gemetar sendiri. Prancis tampil rapi, disiplin, penuh determinasi—sementara kita? Kayak tim yang habis begadang rapat tapi lupa hasil rapatnya apa.

Permintaan maaf pun datang. Sabar dan Reza angkat tangan. Fajar? Nangis di pinggir lapangan. Air matanya bukan sekadar air—itu simbol luka kolektif. Satu Indonesia ikut sesak.

Lalu PBSI di mana? Sunyi. Sepi. Pernyataan tegas? Minimalis. Padahal ini bukan alarm lagi, ini sirene kebakaran level nasional. 

Evaluasi menyeluruh itu bukan pilihan, ini sudah kewajiban. Tapi ya… kita tahu sendiri, di negeri ini evaluasi kadang cuma jadi kata manis yang cepat hilang begitu euforia datang lagi.

Hari ini, bulu tangkis Indonesia bukan lagi kebanggaan yang dibanggakan tiap tongkrongan. Ini luka. Luka yang nganga, belum ada plester. 

Generasi yang dulu tumbuh dengan cerita Rudy Hartono sampai era Kevin Sanjaya Sukamuljo / Marcus Fernaldi Gideon, sekarang cuma bisa geleng-geleng sambil bilang, “Kok bisa ya?”

Selamat datang di era baru. Era di mana lolos grup saja terasa seperti mimpi besar. Semoga ini bukan akhir, tapi kalau tidak segera dibenahi… ya siap-siap saja, mimpi buruk ini bisa jadi langganan.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Seriuskah Kemdiktisaintek Menjaga Mutu Pendidikan Tinggi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:22

Anggota Dewan Etik Golkar Diduga Terlibat Dugaan Penipuan Miliaran

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:11

Membangun Kemandirian Energi Desa Melalui Penguatan Kapasitas Local Hero

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:05

Pertamina Perkuat Kemitraan Strategis Lewat SRM Summit 2026

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:31

Kerja Sama KSPSI-UT Perluas Kesempatan Pekerja Raih Pendidikan Tinggi

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:17

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PTPN IV PalmCo Fasilitasi APRC 2026, Perputaran Ekonomi Masyarakat Meningkat

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:58

Isu Wamenhan Baru Jangan Terjebak Kepentingan Bisnis dan Korporasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:55

Paroki Kraksaan Menanti Kejelasan

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:32

Pramono-Erick Thohir Godok Persiapan FIFA ASEAN Cup di Jakarta

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:24

Selengkapnya