Berita

Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan daya tahan terbaik terhadap lonjakan harga energi dunia. (Foto: Istimewa)

Politik

JP Morgan: RI Tahan Hadapi Guncangan Energi Global 2026

KAMIS, 23 APRIL 2026 | 23:29 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Indonesia dinilai memiliki ketahanan sektor energi yang kuat di tengah tekanan pasar global. Dalam laporan terbaru yang dirilis JPMorgan berjudul "Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026", Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan daya tahan terbaik terhadap lonjakan harga energi dunia.

Studi tersebut mengevaluasi 52 negara dengan konsumsi energi terbesar yang secara kolektif mencakup sekitar 82 persen penggunaan energi global. Negara-negara produsen energi utama seperti Iran, Qatar, Rusia, dan Uni Emirat Arab tidak disertakan karena tingkat subsidi domestik yang tinggi dari produksi energi mereka.

Analisis difokuskan pada seberapa sensitif suatu negara terhadap fluktuasi harga minyak dan gas internasional, serta kemampuan mereka dalam mengandalkan sumber energi domestik seperti gas, batu bara, energi terbarukan, dan nuklir sebagai penyangga.


Hasil kajian menempatkan Indonesia di posisi kedua dunia dalam indikator “total faktor perlindungan”, yaitu ukuran yang menggambarkan seberapa besar porsi energi nasional yang relatif terlindungi dari gejolak harga global. Posisi ini berada tepat di bawah Afrika Selatan.

Selain itu, jika dilihat dari kombinasi ketahanan energi dan rendahnya ketergantungan impor, Indonesia berada di peringkat ketiga secara global. Hal ini mencerminkan struktur energi nasional yang cukup solid dalam menghadapi tekanan eksternal.

Keunggulan utama Indonesia terletak pada ketersediaan sumber daya energi domestik yang melimpah. Produksi batu bara yang besar menjadikan Indonesia lebih tahan terhadap lonjakan harga energi global. Negara ini juga dikenal sebagai eksportir batu bara termal terbesar di dunia serta produsen gas alam peringkat ke-13 secara global.

Pada tahun 2024, produksi gas nasional tercatat mencapai sekitar 2.465 miliar meter kubik. Selain itu, komposisi energi nasional semakin beragam dengan kontribusi dari sumber terbarukan seperti tenaga air, panas bumi, dan biodiesel. Diversifikasi ini membantu menjaga stabilitas sistem energi nasional dari ketergantungan pada satu jenis komoditas.

Negara dengan Risiko Tinggi

Laporan tersebut juga mengidentifikasi sejumlah negara yang dinilai paling rentan terhadap gejolak energi global, antara lain Italia, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Spanyol, dan Belanda. Negara-negara ini memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi, khususnya minyak dan gas dari kawasan Teluk.

Di sisi lain, China dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik dari perkiraan. Dukungan dari produksi batu bara dan gas domestik memperkuat posisi negara tersebut dalam menghadapi tekanan harga global.

Temuan ini menegaskan pentingnya strategi diversifikasi energi. Negara-negara seperti India, Vietnam, dan Filipina juga mendapat manfaat dari pendekatan ini. Sementara itu, penggunaan energi nuklir memperkuat ketahanan di negara seperti Prancis, Swedia, Swiss, dan Republik Ceko. Adapun bauran energi terbarukan yang kuat menjadi faktor pendukung utama bagi Brasil, Austria, dan Portugal.

Secara keseluruhan, laporan ini menegaskan bahwa ketersediaan sumber energi domestik dan diversifikasi bauran energi menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian pasar energi global.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya