Berita

Aksi unjuk rasa di Samarinda, Kalimantan Timur, pada Selasa 21 April 2026. (Foto: Warganet)

Publika

Gubernur Muncul, Ketua Dewan Masih Ngumpet

KAMIS, 23 APRIL 2026 | 04:22 WIB

KITA update situasi panas di Kalimantan Timur alias Kaltim. Setelah ribuan mahasiswa dan massa mengepung Kantor Gubernur dan DPRD Kaltim, Kota Samarinda memang terlihat relatif kondusif. Tidak ada kobaran api, tidak ada chaos besar. Tapi jangan salah. Di balik “tenang” itu, bara masih menyala. 

Hari ini, fakta terjadi bukan penyelesaian. Yang terjadi justru penghindaran. Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, akhirnya muncul. Tapi, bukan di hadapan mahasiswa yang sudah berteriak berjam-jam di depan kantornya. Ia memilih muncul lewat video di media sosial pada 22 April 2026.

Seperti yang sudah diduga banyak orang, pidatonya tidak menyentuh inti masalah. Isinya penuh ucapan terima kasih kepada mahasiswa, masyarakat, dan aparat TNI–Polri. Mahasiswa diminta tetap menjadi “mata dan telinga” pemerintah. Bahkan, ada sentuhan motivasi, masa depan Kaltim ada di tangan generasi muda.


Kedengarannya bagus. Halus. Sejuk. Tapi masalahnya yang ditunggu publik tidak ada. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada penjelasan soal renovasi rumah jabatan Rp25 miliar. Tidak ada jawaban terkait mobil dinas Rp8,5 miliar. Tidak ada klarifikasi dugaan KKN dan nepotisme. Intinya? Rakyat minta jawaban, yang datang malah kata-kata bijak.

Sementara itu, sang adik kandung yang menjabat Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud masih juga belum terlihat. Saat demo besar 21 April, ia tidak muncul. Hingga situasi mereda pun, batang hidungnya tetap misterius.

Alasan resmi memang ada, dinas luar daerah. Tapi di mata publik? Ini lebih terasa seperti “ngumpet versi elegan.” Ini yang bikin suasana makin panas. 

Karena relasi kakak-adik antara gubernur dan ketua DPRD bukan sekadar gosip keluarga. Ini menyentuh jantung persoalan, independensi pengawasan. Bagaimana DPRD mau mengawasi keras, kalau yang diawasi itu saudara sendiri? Tak heran mahasiswa langsung bereaksi keras. 

Di lapangan, mereka sudah lebih dulu kecewa karena tidak bisa bertemu langsung dengan gubernur. Yang menemui hanya pimpinan DPRD lainnya. Bahkan Ketua Fraksi Golkar, Muhammad Husni Fahrudin, sampai harus meminta maaf atas belum maksimalnya fungsi pengawasan lembaga.

Tujuh fraksi DPRD memang sudah sepakat menggulirkan hak angket terhadap kebijakan Pemprov Kaltim. Tapi bagi mahasiswa, itu belum cukup. Mereka tidak butuh janji, mereka butuh bukti.

Karena itulah, setelah demo selesai, mereka tidak pulang dengan tangan kosong. Mereka pulang dengan satu keputusan, konsolidasi.

Sedikitnya 35 organisasi mahasiswa dari berbagai kampus di Kaltim mulai dari Unmul, Untag Samarinda, Polnes, hingga perwakilan Kutai Kartanegara, langsung bergerak menyusun langkah berikutnya. Aliansi Perjuangan Masyarakat Kaltim jadi motor gerakan, melibatkan juga massa dari Balikpapan, Kutim, dan Kukar.

Ini bukan lagi aksi spontan. Ini sudah jadi gerakan terstruktur. Pemetaan massa dilakukan. Logistik disiapkan. Narasi diperkuat.

Tuntutan tetap sama, tidak berubah sedikit pun. Audit menyeluruh kebijakan Pemprov Kaltim.

Penghentian praktik KKN dan nepotisme. Dorongan agar DPRD menggunakan hak angket dan interpelasi secara serius. Suara mahasiswa juga makin tegas.

Koordinator aksi Erlly Sofiansyah menegaskan, mereka tidak akan berhenti sampai ada respons konkret. 

Jenderal lapangan Kamarul Azwan mendesak DPRD menjalankan fungsi pengawasan tanpa kompromi. 

Orator Irma Suryani menguliti satu per satu kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat. Mulai dari renovasi rumah jabatan hingga belanja lain yang dinilai tidak masuk akal.

Pengamat politik ikut memperkeruh suasana dengan analisis tajam. Pemasangan kawat berduri di kantor gubernur dinilai sebagai simbol ketakutan, bukan kekuatan. 

Sementara di media sosial, narasi “Kaltim Darurat 214” terus menggema, menandakan krisis kepercayaan publik yang makin dalam.

Gubernur sudah muncul, tapi tidak menjawab. Ketua DPRD belum muncul, dan makin dipertanyakan. Mahasiswa tidak mundur, malah makin terorganisir. 

Situasi mungkin terlihat tenang di permukaan.Tapi di bawahnya… arusnya deras. Kalau tidak ada jawaban nyata dalam waktu dekat, satu hal hampir pasti, mahasiswa akan kembali. Dengan massa lebih besar. 

Dengan suara lebih keras. Dengan kemarahan yang tidak bisa lagi dijawab hanya dengan “terima kasih”.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya