Berita

Gedung Bursa Efek Indonesia (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

IHSG Sesi I Terkoreksi ke Level 7.544 di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Timur Tengah

RABU, 22 APRIL 2026 | 13:24 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertahan di zona merah pada penutupan perdagangan sesi I hari ini, Rabu 22 April 2026. 

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan data ekonomi regional menjadi sentimen utama yang membayangi pergerakan pasar.

IHSG melemah 15 poin atau -0,20 persen ke level 7.544. Volume perdagangan siang ini sebanyak 265,8 juta lot saham dengan nilai transaksi Rp92,51 triliun


Meski indeks melemah, terjadi rotasi sektor yang cukup kontras antara sektor finansial dan energi.

Sektor finansial berhasil melakukan rebound dan muncul sebagai sektor terkuat dengan kenaikan 0,99 persen.

 Penguatan ini dimotori oleh lonjakan saham PNBN sebesar 10,20 persen, disusul oleh MEGA yang naik 4,18 persen, BBNI 1,88 persen, serta BMRI yang menguat 1,06 persen. Sementara itu, jajaran saham top gainers pada indeks LQ45 diisi oleh ASII, ITMG, PTBA, ANTM, BBNI, MDKA, dan UNTR.

Berseberangan dengan sektor keuangan, sektor energi justru menjadi yang paling terpuruk dengan koreksi sebesar 0,60 persen. Pelemahan ini dipicu oleh turunnya harga saham BIPI sebesar 1,40 persen, MEDC 0,87 persen, dan INDY 0,80 persen. Di jajaran indeks elit, saham-saham yang masuk dalam daftar top losers LQ45 meliputi DSSA, BREN, JPFA, CPIN, BRPT, NCKL, hingga HEAL.

Kondisi pasar domestik ini sejalan dengan bursa Asia yang bergerak variatif akibat kekhawatiran atas konflik Timur Tengah yang berlarut-larut. Ketidakpastian meningkat setelah adanya pernyataan dari pihak Amerika Serikat mengenai penundaan serangan terhadap Iran demi menunggu proposal perdamaian, meski blokade pelabuhan tetap dilanjutkan. 

Dari sisi data ekonomi regional, Jepang melaporkan pertumbuhan ekspor selama tujuh bulan berturut-turut. Meski demikian, surplus perdagangan Jepang pada bulan Maret yang tercatat sebesar 667 miliar yen atau setara 4,18 miliar dolar AS masih berada di bawah ekspektasi awal para analis yang memproyeksikan angka sebesar 1,1 triliun Yen.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya