Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Wall Street Tergelincir Akibat Ketegangan Timur Tengah

RABU, 22 APRIL 2026 | 07:56 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Saham-saham di bursa Amerika Serikat (AS) berakhir di zona merah setelah sempat menguat di awal sesi akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait hubungan AS dan Iran.

Dikutip dari Reuters, Rabu 22 April 2026, pada penutupan Selasa, indeks Dow Jones turun 0,59 persen ke 49.149,38. Sementara S&P 500 melemah 0,63 persen ke 7.064,01, dan Nasdaq Composite turun 0,59 persen ke 24.259,96. Padahal, sebelumnya S&P 500 sempat naik hingga 0,4 persen di awal perdagangan sebelum berbalik arah.

Menurut Thomas Martin, manajer portofolio senior di GLOBALT Investments, pasar saat ini dihadapkan pada dua kekuatan yang saling bertolak belakang. 


“Ada dua hal yang sedang terjadi -- ketidakpastian soal arah Iran, sementara di sisi lain ekspektasi terhadap kinerja perusahaan sangat kuat dan ekonomi masih berjalan baik,” ujarnya.

Di sisi ekonomi, data terbaru menunjukkan kondisi yang masih cukup kuat. Penjualan ritel AS pada Maret naik 1,7 persen, melampaui ekspektasi 1,4 persen dan menjadi kenaikan terbesar sejak Maret 2025. Lonjakan ini didorong oleh kenaikan harga bahan bakar di tengah konflik, yang turut meningkatkan pendapatan di sektor terkait.

Dari sisi korporasi, optimisme investor masih ditopang oleh pertumbuhan laba dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Ekspektasi pertumbuhan laba kuartal pertama diperkirakan mencapai sekitar 14 persen.

Beberapa saham mencatat pergerakan signifikan. Saham UnitedHealth melonjak 7 persen setelah perusahaan menaikkan proyeksi laba tahunan. Sebaliknya, saham Apple turun 2,52 persen setelah pengumuman bahwa CEO Tim Cook akan menyerahkan jabatannya kepada kepala divisi perangkat keras, John Ternus.

Sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang menguat di S&P 500, naik 1,31 persen, didorong oleh kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah.

Di sisi lain, perhatian investor juga tertuju pada perkembangan kebijakan moneter. Kevin Warsh, kandidat Ketua Federal Reserve dari Presiden Donald Trump, menegaskan dalam sidang Senat bahwa ia tidak menjanjikan penurunan suku bunga dan akan tetap independen dari tekanan politik.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya