Berita

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: AP Photo)

Dunia

Blunder Trump di Iran Bikin China dan Rusia Panen Cuan

SELASA, 21 APRIL 2026 | 16:03 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Amerika Serikat (AS) tampaknya tidak belajar dari sejarah. Alih-alih mundur dengan damai, Washington masih memperkeruh keadaan di Iran dengan kebijakan-kebijakan Donald Trump yang banyak dikatakan blunder. 

Situasi saat ini banyak disebut sebagai kekalahan kesekian kalinya untuk AS yang sudah tersungkur di Perang Vietnam tahun 1973, maupun ketika Paman Sam melancarkan operasi militer di Irak. 

Meski Trump berulang kali menegaskan pihaknya telah "memenangkan perang" di Iran, namun publik justru melihat sebaliknya. 


Operasi militer 28 Februari yang diluncurkan AS pada awalnya bertujuan untuk mengubah rezim, kemudian berubah menjadi penghentian program nuklir Teheran. 

Walaupun AS berhasil membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei dan beberapa tokoh lainnya. Namun hingga saat ini kondisi politik dan pemerintahan Iran cenderung stabil. Hal yang sama juga terlihat pada program nuklir Iran, meskipun melemah namun tidak hilang.

Akhirnya, seperti yang dikatakan Profesor Hubungan Internasional di Universitas Queen Mary London, Christopher Phillips di Al Majalla, dapat dikatakan tujuan Trump gagal. 

Bukan hanya gagal, Trump justru membuat AS merugi. 

Saat ini dampak perang telah merusak banyak aspek yang dirasakan oleh hampir seluruh dunia. 

Di dalam negeri, keputusan Trump banyak dikritik oleh publik, bahkan di kalangan pendukungnya sendiri. Bahkan jika gencatan senjata berhasil, kredibilitas Trump dan Partai Republik sudah terlanjur hancur. 

Hal ini tentu menjadi ancaman menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang. Apalagi jika harga minyak dan inflasi masih meroket. Jika Republik tidak bisa mengamankan kursi, tentu akan berpengaruh pada agenda domestik Trump. 

Secara geopolitik, kekalahan Trump di Iran juga mendorong banyak negara untuk "lebih berani" menentang AS, karena Washington tidak sekuat yang mereka kira. 

Di sisi lain, meskipun mengalami banyak kerugian dan kehancuran, Iran justru membuktikan diri keluar dari konflik ini dengan posisi lebih kuat, karena berhasil menunjukkan kemampuannya mengganggu ekonomi global, khususnya dengan penutupan Selat Hormuz. 

Sementara itu, rival AS justru mendapat keuntungan. AS secara tidak langsung memberi ruang bagi Rusia untuk menjual minyaknya dengan harga tinggi, meningkatkan pendapatan Moskow.

Selain itu, fokus Trump pada konflik ini membuat Rusia bisa menekan Ukraina untuk menerima kesepakatan yang menguntungkan Moskow.

Pihak lain yang paling diuntungkan tentu China. Meski terdampak secara ekonomi, China justru keluar dengan posisi lebih kuat. Investasinya dalam energi terbarukan terbukti menguntungkan, melindungi Beijing dari gangguan pasokan, bahkan memungkinkan menjual kembali LNG dengan harga lebih tinggi.

Secara geopolitik, kerusakan kredibilitas AS memperkuat narasi Beijing bahwa mereka lebih stabil dan dapat diandalkan dibanding Washington. AS bahkan harus meminta bantuan China untuk membuka kembali Selat Hormuz. Beijing juga berperan penting dalam mendorong gencatan senjata yang dimediasi Pakistan.

Pada akhirnya reputasi China menguat, dan AS melemah.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

KPK Sita Dokumen dan BBE Usai Geledah Rumah Mewah Anggota Polri Yayat Sudrajat

Kamis, 10 September 2026 | 20:17

Pendalaman Fakta dan Penegakan Hukum Transparan Diperlukan di Kasus DJKA

Kamis, 10 September 2026 | 20:12

Tim 9 Kejagung Temukan Bukti Pemerasan Febrie di Kasus Jiwasraya

Kamis, 10 September 2026 | 20:05

Konsisten Perkuat Investasi Berkelanjutan, DPLK BRI Raih Kehati ESG Award 2026

Kamis, 10 September 2026 | 19:58

Waketum Golkar: Prabowo Konsisten Satukan Berbagai Warna Politik untuk Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 19:50

Rombak Ratusan Pejabat, Purbaya Minta Kemenkeu Bergerak Lebih Cepat

Kamis, 10 September 2026 | 19:40

Iwakum Dorong Pengerahan Maksimal Cari Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Kamis, 10 September 2026 | 19:31

Menyoal Kasus Dadan Cs, JMI: Jangan Ramai di Awal, Lalu Hilang di Tengah Jalan

Kamis, 10 September 2026 | 19:14

Polisi Siap Sikat Penimbun Masker di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau

Kamis, 10 September 2026 | 19:01

Pembagian 50:50 Kuota Haji Tambahan Ternyata Kebijakan Gus Yaqut

Kamis, 10 September 2026 | 18:45

Selengkapnya