Berita

Presiden AS Donald Trump (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Reuters)

Global

Hormuz Dibuka tapi AS Tetap Menekan Iran

SABTU, 18 APRIL 2026 | 07:18 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz kembali dibuka untuk pelayaran kapal komersial selama masa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menegaskan bahwa jalur perdagangan global tersebut kini dapat dilalui kapal dagang, meskipun tetap berada di bawah pengawasan ketat pemerintah Iran.

“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata,” tulis Araghchi di media sosial, Jumat (18/4/2026).


Namun demikian, ia menekankan bahwa kapal-kapal wajib mengikuti ketentuan yang ditetapkan Iran. Pelayaran hanya diperbolehkan melalui jalur tertentu atau “rute terkoordinasi” yang ditetapkan otoritas maritim Iran. Hingga kini, belum ada kejelasan apakah akan diberlakukan biaya tambahan atau syarat khusus bagi kapal yang melintas.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengapresiasi langkah Iran tersebut dan menyebutnya sebagai “kabar baik bagi dunia”. Meski begitu, ia menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran tetap berlaku sampai tercapai kesepakatan baru dengan Teheran.

Pernyataan itu langsung dibantah oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia menegaskan bahwa Selat Hormuz belum benar-benar terbuka selama tekanan dan blokade dari AS masih berlangsung.

Kondisi di lapangan juga menunjukkan situasi yang belum sepenuhnya stabil. Data pelacakan kapal mengindikasikan sejumlah kapal tanker sempat mencoba keluar dari selat, namun berbalik arah karena belum memperoleh izin melintas. Hal ini memperkuat bahwa pembukaan jalur masih bersifat terbatas.

Media Iran yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran menyebut kebijakan ini selektif. Kapal komersial diwajibkan berkoordinasi dengan otoritas Iran, sementara kapal dari negara yang dianggap bermusuhan berpotensi ditolak. Iran bahkan mengisyaratkan kemungkinan menutup kembali selat jika tekanan militer AS berlanjut.

Situasi ini berlangsung di tengah gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon. Konflik antara Israel dan Hizbullah—yang merupakan sekutu Iran—menjadi salah satu pemicu utama ketegangan di kawasan. Sementara itu, upaya diplomasi antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu, setelah perundingan sebelumnya gagal mencapai kesepakatan permanen. 

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya