Berita

Analis geopolitik, Sukron Makmun. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Politik

Analis Geopolitik: AS Gali Kuburan Sendiri Jika Perang Berlanjut

RABU, 15 APRIL 2026 | 06:13 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Konflik berkepanjangan di Timur Tengah memaksa Amerika Serikat (AS) mengambil langkah strategis yang mengubah peta kekuatan militer global. 

Banyak fasilitas dan aset pertahanan yang semula ditempatkan di kawasan Asia Pasifik, khususnya di Filipina, kini dipindahkan untuk mendukung operasi di kawasan Teluk Persia.
 
Langkah ini diambil setelah perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran terasa sangat menguras sumber daya. Meskipun telah dicapai kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan sejak 8 April 2026. Namun dampak kerusakan dan beban biaya perang yang terjadi sejak 28 Februari 2026 dirasa sangat luar biasa berat bagi Washington.
 

 
Analis geopolitik, Sukron Makmun menilai bahwa keputusan AS memilih jalur eskalasi ketimbang diplomasi ibarat menggali kuburan sendiri.
 
Menurut Sukron, dominasi AS di dunia internasional kini mulai tergeser, sementara ekonominya yang sudah terdesak oleh kompetitor Asia, makin merosot lantaran harus menanggung biaya perang yang fantastis.
 
"Iran memang rugi, tapi AS jauh lebih menderita. Bukan hanya soal tentara yang tewas, tapi reputasi dan citra mereka hancur. Pangkalan-pangkalan tua simbol hegemoni yang dibangun puluhan tahun ternyata bisa dihancurkan Iran dalam sekejap," ujar Sukron dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Rabu, 15 April 2026. 

Intelektual muda NU dan Wakil Sekjen PERHATI ini lebih lanjut menyatakan strategi Teheran memang tidak dirancang untuk menang secara militer langsung, melainkan membuat biaya perang bagi musuh menjadi sangat tidak masuk akal.
 
"Iran sadar lawannya lebih kuat. Makanya mereka main waktu dan durasi. Tujuannya agar ekonomi global terganggu dan kantong lawan bolong. Tidak perlu menang telak, cukup pastikan musuh tidak bisa menang. Jika perang panjang, tekanan domestik di AS dan Israel yang akan menjatuhkan mereka sendiri," jelasnya.
 
Ironisnya, serangan dan embargo yang dilancarkan AS justru menjadi bumerang. Tujuan menguasai energi dan menekan kompetitor dagang malah berbalik arah.
 
"Embargo justru membuat Iran menjadi pemasok energi murah bagi negara-negara lain. Akibatnya, kompetitor AS bisa produksi lebih murah dan menang saing. Dunia sekarang multipolar, sanksi tidak mematikan, malah memunculkan sistem transaksi alternatif yang meninggalkan Dolar," ungkap dia.
 
Sukron yang pernah sekolah di Iran menyebut kondisi ini memaksa AS membagi konsentrasi. Saat sumber daya di Timur Tengah terkuras habis oleh serangan balasan Iran, langkah terpaksa diambil: memindahkan aset dari Asia.
 
Saat ini AS memiliki setidaknya 13 pangkalan di Filipina di bawah skema EDCA, tersebar di Palawan, Luzon, Cagayan hingga Mindanao yang sangat strategis menghadap Laut China Selatan dan Taiwan. Namun kini, fokus ini mulai redup.
 
"AS dipaksa memilih: selamatkan muka di Timur Tengah atau pertahankan pengaruh di Asia? Mereka pilih yang pertama demi gengsi. Akibatnya, pengawasan di Asia berkurang drastis. Ini keuntungan besar bagi kompetitor mereka (China) untuk bergerak bebas," tegasnya.
 
Langkah ini juga dikritik keras oleh masyarakat dan akademisi Filipina, seperti Prof. Roland G. Simbulan, yang khawatir negaranya diseret menjadi medan perang dan target serangan.
 
Sukron menjelaskan bahwa menyerang Iran memang mudah, tapi menanggung akibatnya sangat mahal. Kini dengan mengalihkan fokus ke Timteng, superioritas AS di Asia Pasifik makin dipertanyakan.
 
"AS sibuk berperang dan menguras harta, sementara pihak lain justru menuai keuntungan (windfall profit). Industri makin kuat, cadangan energi aman, dan sistem keuangan makin bergeser. Perang memang musibah, tapi bagi yang cerdas membaca peluang, ini adalah berkah," pungkasnya.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Diam-diam Nusron Wahid Datang ke KPK Tanpa Penjadwalan Pemeriksaan

Rabu, 04 November 2026 | 10:26

Harga Minyak Dunia Turun ke 103 Dolar AS

Rabu, 04 November 2026 | 10:17

Skandal Listyo Sigit jadi Pintu Masuk Seret Jokowi-Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 10:13

Kapolri Terlama yang Sukses Tanam Jagung jadi Tersangka Penyadapan Presiden, Mahfud MD: Gila!

Rabu, 04 November 2026 | 09:51

Laporan Keuangan Danantara Ditarget Rampung November 2026

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

PT Djarum Bayar Cukai Tak Semestinya, Negara Rugi Triliunan Rupiah

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

Prabowo Saja Bisa Disadap Apalagi Rakyat Jelata

Rabu, 04 November 2026 | 09:41

Perkuat Hilirisasi, NTB Berpeluang Jadi Sentra Industri Kelapa

Rabu, 04 November 2026 | 09:33

Listyo Sigit Lakukan Kejahatan Paling Jahat

Rabu, 04 November 2026 | 09:30

IHSG Merah, Mayoritas Saham Berguguran

Rabu, 04 November 2026 | 09:20

Selengkapnya