Berita

Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh pada Kamis 17 Oktober 2024. (Foto: RMOL)

Publika

Tak Masuk Akal Nasdem Gabung Gerindra

SELASA, 14 APRIL 2026 | 15:06 WIB

SUNGGUH tidak masuk akal Partai Nasdem akan bergabung (fusi parpol) dengan Partai Gerindra.

Jangankan partai besar yang punya banyak kursi di DPR seperti Nasdem dan Gerindra, parpol kecil yang tidak punya kursi di DPR saja, seperti PSI dan Hanura, tidak ada rencana fusi parpol dengan sesama parpol kecil, apalagi dengan sesama parpol besar yang kuat di DPR.

Artinya, memiliki parpol, biarlah kecil, jauh lebih prestisius atau membanggakan di negeri ini ketimbang memiliki parpol besar, tapi pemiliknya berdua.


Bahkan, sampai saat ini pun, parpol baru atau parpol antah berantah pun, tetap saja diproduksi dengan harapan diminati oleh para pemilih.

Ada semacam adagium di negeri ini, biarlah jadi kepala tikus daripada ekor harimau. Kepala tikus tetaplah kepala dan ekor harimau hanyalah sebuah ekor.

Rumor bergabungnya (fusi parpol) Nasdem dengan Gerindra, dibahas majalah TEMPO pekan ini, dan memang tidak banyak yang percaya.

Pertemuan diam-diam antara Surya Paloh dan Prabowo Subianto di Hambalang dikait-kaitkan dengan rumor itu.

Mungkin karena pertemuannya diam-diam, maka rumor itu pun menjadi liar. Dan memang, tak ada yang tahu pasti pula, meski dibantah politisi NasDem, Saan Mustofa.

Tapi, melihat rekam jejak Surya Paloh, rasanya mustahil Surya Paloh mau menggabungkan diri begitu saja dengan Partai Gerindra. 

Apakah ada, kalah sebelum bertanding, dalam kamus seorang Surya Paloh?

Apalagi Nasdem, rekam jejaknya sama dengan Gerindra, dari Pemilu ke Pemilu, kursinya selalu bertambah, bukan berkurang. 

Maka, kata bertarung lebih cocok buat Surya Paloh ketimbang menyerah kalah.

Banyaknya petinggi Nasdem yang pindah ke PSI dianggap menjadi salah satu faktor terbesar Surya Paloh menyerah dan hendak menggabungkan diri dengan Partai Gerindra.

Faktor lain adalah masalah bisnis. TEMPO mengungkap perusahaan media Surya Paloh sedang terkendala masalah dana. Maka, merapat kepada Prabowo dianggap adalah solusi yang paling tepat.

Masalah bisnis adalah masalah yang biasa. Tapi masalah bisnis berkaitan sekali dengan sukses politik. 

Sementara Nasdem adalah partai yang termasuk sukses, meski kalau soal Pilpres tidak sukses. Jadi kurang relevan juga. 

Ogahnya Surya Paloh mengambil jatah menteri di kabinet, bukti bahwa masalah bisnis jauh berada di bawah ketimbang masalah harga diri bagi seorang Surya Paloh.

Apalagi soal petinggi Nasdem yang hijrah ke PSI. Itu sudah sangat-sangat biasa dalam politik dan biasa pula dalam tradisi politik Surya Paloh sendiri.

Toh, petinggi NasDdm itu sendiri, bahkan Surya Paloh sendiri, awalnya juga petinggi partai lain yang digaet oleh Surya Paloh?

Jadi tak ada masalah. Justru Surya Paloh mestinya tertantang untuk membuktikan diri bahwa mereka yang hijrah ke PSI itu tidak ada artinya bagi kebesaran Partai NasDem.

Pertemuan empat mata antara Surya Paloh dan Prabowo di Hambalang hanyalah kelanjutan dari pertemuan empat mata antara Surya Paloh dan Sjafrie Sjamsoeddin.

Pertemuan empat mata dengan Sjafrie Sjamsoeddin adalah cara Surya Paloh membaca alam pemikiran Prabowo yang paling mutakhir. Setelah itu, baru Surya Paloh bertemu empat mata dengan Prabowo, setelah semuanya jelas.

Surya Paloh perlu tahu pasti bahwa apakah yang dihadapinya saat ini adalah Presiden atau mantan Presiden atau keduanya sekaligus? 

Kalau keduanya sekaligus, maka langkah yang diambil Surya Paloh tentu akan berbeda dengan, kalau yang dihadapi hanyalah seorang mantan Presiden.

Ingat, Surya Paloh dan Prabowo itu setara dalam banyak hal, termasuk sejarah politik. 

Jadi, mustahil ada yang menyerah kalah dan ada yang merasa menang. Prabowo pastilah akan menempatkan Surya Paloh di tempat yang sembarangan. Begitulah.

Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting

Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Bukan Indonesia yang Bebaskan Flotilla dari Israel

Sabtu, 23 Mei 2026 | 01:30

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

UPDATE

Asosiasi Dosen Tuntut Gaji Minimal Dua Kali Lipat UMP

Senin, 25 Mei 2026 | 12:20

Zulhas Jangan Limpahkan Salah Nama Desa ke Bawahan

Senin, 25 Mei 2026 | 12:19

Fraksi Gerindra Apresiasi Pemulangan 9 WNI, Sebut Bukti Efektivitas Diplomasi RI

Senin, 25 Mei 2026 | 12:04

Dolar Kabur, Mafia Makmur

Senin, 25 Mei 2026 | 12:00

Rencana Jokowi Keliling Indonesia Diduga Terkait Dinamika Politik 2029

Senin, 25 Mei 2026 | 11:55

Kiai Imam Jazuli Perkuat Inovasi Pesantren Lewat Workshop Nasional

Senin, 25 Mei 2026 | 11:52

Pengamat Soroti Dampak Zulhas Salah Informasi ke Presiden

Senin, 25 Mei 2026 | 11:44

GOR Tri Lomba Juang Bakal Direhabilitasi Standart World Athletics Certification System

Senin, 25 Mei 2026 | 11:41

Awal Pekan, Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp81 Ribu per Kg

Senin, 25 Mei 2026 | 11:39

LOFF 2026 Dorong Kota Semarang Jadi Pusat Ekosistem Sinema Dunia

Senin, 25 Mei 2026 | 11:31

Selengkapnya