Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Harga Plastik Melejit, Masyarakat Beralih ke Kemasan Guna Ulang

SELASA, 14 APRIL 2026 | 09:20 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Industri manufaktur dan pelaku UMKM kini tengah terjepit. Harga bahan baku plastik di pasar global maupun domestik melonjak drastis, mencapai 50 hingga 100 persen per April 2026. 

Tekanan harga minyak bumi, gangguan rantai pasok, dan ketidakpastian geopolitik menjadi pemicu utama di balik meroketnya biaya produksi kemasan ini.

Di saat yang sama, Indonesia dibayangi krisis lingkungan yang kian nyata. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan tren kenaikan sampah plastik yang mengkhawatirkan. Pada 2019 terdapat 9-10 juta ton sampah plastik. 


Jumlah ini terus menaik di tahun-tahun berikutnya, yaitu sebanyak 10,8 juta ton di 2020, 11,6 juta ton di 2022, 12 juta ton di 2023, dan diperkirakan 12,4 juta ton pada 2025. Artinya, timbunan sampah plastik meningkat sekitar 20-30 persen dalam lima tahun.

Dalam lima tahun terakhir, timbunan sampah plastik tumbuh sekitar 20-30 persen. Ironisnya, pertumbuhan ini tidak sebanding dengan kapasitas pengelolaan. Dari 524 TPA yang tercatat, baru 25 perse sampah yang berhasil dikelola, sementara sisanya masih menjadi beban lingkungan.

Di tengah himpitan ekonomi dan masalah sampah, skema kemasan guna ulang (seperti galon air minum atau sistem isi ulang kebutuhan rumah tangga) muncul sebagai alternatif strategis. Selain harganya yang relatif stabil dibandingkan plastik sekali pakai, sistem ini dinilai jauh lebih hemat bagi kantong konsumen.

"Konsumen kini lebih cerdas. Mereka tidak hanya mencari air minum yang aman dan higienis, tetapi juga mempertimbangkan dampak lingkungannya," ujar Andre Donas, Praktisi Komunikasi dan Dosen Periklanan Polimedia, dalam pernyataannya yang dikutip redaksi di Jakarta, Selasa 14 April 2026. Menurutnya, penggunaan galon guna ulang adalah solusi paling masuk akal dalam situasi pasar saat ini.

Senada dengan hal tersebut, survei dari Pusat Riset Konsumen Ganesha (PRKG) memperkuat bukti bahwa masyarakat mulai meninggalkan kemasan sekali pakai. Peneliti Senior PRKG, Aan Rusdianto, mengungkapkan bahwa tingkat penggunaan galon guna ulang di kawasan Jabodetabek mencapai angka 89,36 persen. Sebaliknya, pengguna galon sekali pakai hanya tersisa 5,32 persen.

"Masyarakat memilih guna ulang karena alasan keamanan, kepraktisan, dan rekam jejak penggunaan yang minim keluhan selama bertahun-tahun. Yang terpenting, mereka tidak menambah timbulan sampah baru," jelas Aan.

Merespons situasi ini, sejumlah pemerintah daerah mulai bergerak. Pemerintah Provinsi DIY, misalnya, giat mendampingi UMKM untuk beralih ke kemasan ramah lingkungan.

Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, menjelaskan bahwa pihaknya kini mendorong penggunaan serat alam lokal sebagai substitusi plastik. 

"Kami memanfaatkan potensi lokal seperti mendong, pandan, dan kelapa yang melimpah di DIY. Selain ramah lingkungan, kami juga memfasilitasi skema pembelian kolektif untuk memotong rantai distribusi agar biaya tetap terjangkau bagi perajin," pungkasnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya