Berita

Ilustrasi rupiah dan dolar AS. (Foto: Istimewa)

Bisnis

Pemerintah Harus Siaga Hadapi Ancaman Rupiah Rp17.400 per Dolar AS

SENIN, 13 APRIL 2026 | 15:05 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pemerintah perlu bergerak cepat merespons tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang berpotensi menembus level Rp17.400 per dolar AS pada bulan ini.

Peringatan tersebut disampaikan pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyusul pembukaan rupiah di level Rp17.130 per dolar AS pada Senin pagi, 13 April 2026.

“Pemerintah harus siaga bukan lagi secara teori,” kata Ibrahim dalam risetnya.


Menurut dia, langkah intervensi yang dilakukan otoritas moneter sejauh ini cukup terasa di pasar. Hal itu tercermin dari pergerakan indikator pasar yang sempat menyentuh level 34 poin dan kini berada di kisaran 24-26 poin.

“Artinya apa? Bahwa Bank Indonesia masih terus melakukan intervensi di pasar,” ujar Ibrahim.

Namun demikian, tekanan terhadap rupiah dinilai tidak hanya berasal dari faktor domestik, melainkan juga dipicu eskalasi konflik geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah.

“Nah perang yang terjadi di Timur Tengah kemungkinan besar akan cukup dahsyat dan ini akan berdampak negatif terhadap perekonomian secara global. Orang mengatakan bahwa Perang Dunia Ketiga sudah terjadi,” kata Ibrahim.

Ia menilai secara teori memang belum terjadi perang dunia, namun secara teknis eskalasi konflik sudah mengarah ke sana. Iran disebut mendapat dukungan persenjataan dari Tiongkok, yang memicu respons keras dari Amerika Serikat.

“Iran mendapatkan sokongan dari Tiongkok berupa persenjataan, tetapi intelijen Amerika mengetahui dan Trump mengancam terhadap Iran tentang Tiongkok yang mengirimkan bantuan persenjataan yang cukup besar. Nah inipun juga membuat ketegangan tersendiri,” kata Ibrahim.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa konflik tersebut kini menjadi faktor utama yang menekan rupiah, melampaui isu politik domestik Amerika Serikat, perang dagang, maupun kebijakan bank sentral global. Konflik ini akan terus meluas terlebih jika Iran terus menutup Selat Hormuz.

Ibrahim menambahkan, posisi strategis Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak mentah dunia membuat kawasan tersebut sangat krusial. Jika konflik meluas, dampaknya akan langsung terasa ke pasar global, termasuk nilai tukar.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Selamatkan Aset Negara, UIN Jakarta Jalankan Integrasi SMA/SMK Triguna

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:16

KPK Sita Uang Rp1 Miliar Lebih dan Puluhan Kg Platinum Hasil Korupsi Bupati Langkat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:00

UI Angkat Bicara soal Kajian LGBT Mahasiswa, Begini Tanggapannya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:48

Kronologi OTT Bupati Langkat, Mantan Anggota DPRD Sumut jadi Kurir Uang Suap

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:32

Badko HMI Sulbar Siap Kawal Kasus Kapolres Pasangkayu

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:16

Bupati Langkat juga Terima Cuan Jual Beli Jabatan Camat hingga Kepsek, Segini Nilainya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:56

Sinergi Kemensos-ITB Visi Nusantara Serap Lulusan Sekolah Rakyat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:37

Bupati Langkat Diduga Minta Fee 17 Persen ke Timses Usai Raup Proyek Rp10,2 Miliar

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:12

Arief Poyuono Apresiasi Danantara Gandeng KPK Bersih-bersih BUMN

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:03

Bupati Langkat Syah Afandin dan Tim Sukses Tersandung Kasus Suap

Jumat, 03 Juli 2026 | 23:48

Selengkapnya