Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Harga Emas dan Perak Melemah Akibat Ancaman Blokade AS di Hormuz

SENIN, 13 APRIL 2026 | 07:43 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar logam mulia menunjukkan tren pelemahan pada sesi perdagangan kali ini. Baik emas maupun perak mengalami tekanan jual yang cukup signifikan di tengah dinamika pasar global.

Harga sang logam kuning yaitu emas, tercatat turun sebesar 1,48 persen atau berkurang 70,26 poin, menurut laporan Trading Ecomonic, Senin 13 April 2026.

Saat ini, emas diperdagangkan di level 4.681,42 Dolar AS per ons. Meskipun masih berada di angka yang relatif tinggi, koreksi ini menunjukkan adanya aksi ambil untung (profit taking) atau pengaruh dari penguatan aset lainnya.


Penurunan ini menghapus tren positif minggu lalu, menyusul eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran pasca kegagalan negosiasi di Pakistan selama akhir pekan.

Sedangkan perak mengalami penurunan lebih tajam, merosot sebesar 2,26 persen. Dengan pengurangan sebesar 1,718 poin, harga perak kini bertengger di posisi 73,958 Dolar AS.

Sentimen pasar berubah drastis setelah AS mengumumkan rencana blokade Selat Hormuz. Kebijakan ini merupakan respon atas penolakan Teheran untuk membatasi ambisi nuklirnya. Berdasarkan laporan yang ada, pihak Iran justru mengajukan syarat yang sulit dipenuhi, mencakup kontrol penuh atas Selat Hormuz, tuntutan ganti rugi perang dan gencatan senjata regional, serta akses kembali ke aset-aset luar negeri yang sedang dibekukan.

Pembatasan ketat akan diberlakukan bagi seluruh kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Penutupan jalur maritim paling krusial di dunia ini memicu lonjakan harga energi secara global.

Ancaman krisis energi ini telah memperburuk risiko inflasi global. Kondisi tersebut memaksa para investor mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat; bank sentral kini diprediksi akan menunda pemangkasan suku bunga atau bahkan kembali menaikkannya untuk meredam inflasi.

Suku bunga yang tetap tinggi menjadi beban berat bagi aset non-bunga seperti emas. Sejak konflik ini meletus, harga logam mulia tersebut tercatat sudah merosot lebih dari 10 persen.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Diam-diam Nusron Wahid Datang ke KPK Tanpa Penjadwalan Pemeriksaan

Rabu, 04 November 2026 | 10:26

Harga Minyak Dunia Turun ke 103 Dolar AS

Rabu, 04 November 2026 | 10:17

Skandal Listyo Sigit jadi Pintu Masuk Seret Jokowi-Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 10:13

Kapolri Terlama yang Sukses Tanam Jagung jadi Tersangka Penyadapan Presiden, Mahfud MD: Gila!

Rabu, 04 November 2026 | 09:51

Laporan Keuangan Danantara Ditarget Rampung November 2026

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

PT Djarum Bayar Cukai Tak Semestinya, Negara Rugi Triliunan Rupiah

Rabu, 04 November 2026 | 09:45

Prabowo Saja Bisa Disadap Apalagi Rakyat Jelata

Rabu, 04 November 2026 | 09:41

Perkuat Hilirisasi, NTB Berpeluang Jadi Sentra Industri Kelapa

Rabu, 04 November 2026 | 09:33

Listyo Sigit Lakukan Kejahatan Paling Jahat

Rabu, 04 November 2026 | 09:30

IHSG Merah, Mayoritas Saham Berguguran

Rabu, 04 November 2026 | 09:20

Selengkapnya