Berita

Saiful Mujani. (Foto: YouTube Akbar Faizal Uncensored)

Politik

Pernyataan Saiful Mujani sudah Masuk Wilayah Makar

SELASA, 07 APRIL 2026 | 18:15 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Pernyataan kontroversial pengamat politik Saiful Mujani yang menyerukan penjatuhan pemerintahan Prabowo menuai respons keras dari sejumlah kalangan. 

Salah satunya datang dari aktivis Yulian Paonganan (Ongen), yang menyebut pernyataan itu telah memasuki ranah serius, bahkan berpotensi dikategorikan sebagai tindakan makar terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Ongen menilai bahwa ajakan untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah bukan sekadar kritik politik biasa, melainkan bentuk delegitimasi terhadap hasil demokrasi yang telah diputuskan melalui Pemilu 2024.


“Kalau kritik itu sah dalam demokrasi. Tapi kalau sudah menyerukan menjatuhkan pemerintahan, itu bukan lagi kritik, itu sudah masuk wilayah makar,” tegas Ongen dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa, 7 April 2026.

Ia juga mengaitkan sikap Saiful Mujani dengan posisi politiknya pada Pilpres 2024 lalu. Ongen menyebut publik mengetahui bahwa Saiful Mujani merupakan pendukung Ganjar Pranowo, kandidat yang kalah dalam kontestasi tersebut.

Menurut Ongen, pernyataan yang bernada provokatif itu tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasca pemilu, di mana sebagian elite dan kelompok politik masih menyimpan kekecewaan.

“Publik harus tahu konteksnya. Saiful Mujani adalah pendukung Ganjar di Pilpres 2024. Jangan sampai kekecewaan politik kemudian diarahkan menjadi ajakan menjatuhkan pemerintahan yang sah,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam sistem demokrasi, ketidakpuasan terhadap hasil pemilu seharusnya disalurkan melalui mekanisme konstitusional, bukan dengan membangun narasi delegitimasi kekuasaan.

Ongen sendiri mengambil posisi tegas bahwa dalam situasi politik yang sensitif, pernyataan publik figur memiliki dampak besar dan tidak bisa dianggap enteng.

“Kalau terus dibiarkan, ini bisa memicu instabilitas. Apalagi disampaikan oleh tokoh yang punya pengaruh,” katanya.

Lebih jauh, Ongen menekankan bahwa kondisi global saat ini tidak sedang stabil. Ia menyinggung eskalasi konflik geopolitik, termasuk ketegangan antara Iran dengan blok Amerika Serikat dan Israel, sebagai faktor yang harus menjadi perhatian bersama.

Dalam situasi seperti ini, menurutnya, Indonesia justru membutuhkan soliditas nasional, bukan perpecahan internal.

“Dunia sedang tidak baik-baik saja. Ada konflik besar yang bisa berdampak ke ekonomi global. Indonesia harus kuat, rakyat harus bersatu, bukan malah diajak menjatuhkan pemerintah,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa gejolak politik dalam negeri di tengah tekanan global bisa memperburuk kondisi ekonomi, investasi, hingga stabilitas sosial.

Ongen juga memberikan pesan langsung kepada Saiful Mujani dan kelompok yang sejalan dengannya. Ia menyarankan agar ketidakpuasan terhadap pemerintahan saat ini diarahkan ke jalur politik yang sah, yakni melalui pemilu berikutnya.

“Kalau tidak puas, silakan bertarung di Pilpres 2029. Itu jalur demokrasi yang benar. Bukan dengan narasi menjatuhkan pemerintahan,” tegasnya lagi.

Menurutnya, demokrasi Indonesia telah memberikan ruang yang luas bagi setiap warga negara untuk berkompetisi secara terbuka dan adil. 

Oleh karena itu, segala bentuk upaya di luar mekanisme konstitusional dinilai berpotensi merusak tatanan demokrasi itu sendiri.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Hotel Bumi Wiyata Komitmen Penuhi Hak 104 Pekerja Sesuai Ketentuan

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:31

Sinopsis Reawakened Man, Kisah Pemuda yang Hidup Kembali Setiap 3 Hari

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:23

KPK Telusuri Dugaan Aliran Uang Kasus ATR/BPN ke Muktamar NU

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Komisi II Didorong Bentuk Pansus untuk Tindaklanjuti Putusan MK Terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:19

Lionel Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Ini Daftar Trofi dan Prestasinya

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:10

Kemenkop Buka Suara soal Mekanisme Pembayaran Gaji ASN Lewat Koperasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:02

8 Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat hingga Akhir 2026, Ada BSU hingga Beras 30 Kg

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:48

Mantan Kacab Jasindo Dipanggil KPK di Kasus Pencairan Komisi Fiktif PT Pelni

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:46

Deretan Pengusaha Rokok Kembali Diperiksa KPK di Kasus Bea Cukai

Kamis, 08 Oktober 2026 | 17:35

Selengkapnya