Berita

Prabowo Subianto dilantik menjadi Presiden Indonesia, 20 Oktober 2024. (Foto: Setpres)

Publika

Jalan Prabowo Sudah Benar

SELASA, 07 APRIL 2026 | 17:04 WIB | OLEH: DONI ISTYANTO HARI MAHDI

DILANTIK pada 20 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto langsung berhadapan dengan badai ekonomi yang nyata. Di dalam negeri, daya beli masyarakat–terutama kelas menengah yang mencakup 66,35% populasi–sedang sekarat.

Deflasi "semu" terjadi selama lima bulan berturut-turut hingga September 2024, sebuah sinyal bahaya bahwa masyarakat bukan sedang menikmati harga murah, melainkan memang tidak punya uang untuk belanja.

Kondisi ini diperparah dengan gelombang PHK di sektor industri padat karya yang datang bak tsunami. Inefisiensi dan serbuan barang ilegal membuat pabrik-pabrik tekstil berguguran. Dalam situasi terjepit ini, Prabowo mengambil langkah yang tidak konvensional.


Strategi Aikido: Mengubah Beban Menjadi Kekuatan

Alih-alih melanjutkan obsesi infrastruktur seperti era sebelumnya, Prabowo memilih jalan lain. Ia menggeser belanja negara secara masif ke sektor konsumsi melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Secara cerdik, Prabowo memainkan jurus "Aikido"–mungkin terinspirasi dari persahabatannya dengan aktor laga Steven Seagal. Alih-alih melawan arus kelesuan ekonomi secara frontal, ia memanfaatkan momentum kembalinya korban PHK dari kota ke desa. Ia mengubah tenaga kerja terampil yang kehilangan pekerjaan di kota menjadi penggerak ekonomi pedesaan.

Kekuatan mereka diarahkan untuk menyokong kebutuhan pangan nasional. Dengan adanya Program MBG, negara hadir sebagai standby buyer (pembeli siaga) yang menyerap seluruh produk pertanian dan peternakan dari desa-desa.

Penyelamat di Kala Badai

Program MBG terbukti menjadi katup penyelamat, terutama bagi sektor peternakan unggas. Tanpa intervensi ini, peternakan ayam ras di seluruh Indonesia mungkin sudah gulung tikar akibat tingginya biaya produksi dan jatuhnya daya beli.

Sebagai perbandingan, harga daging ayam yang sempat jatuh ke Rp34.300/kg pada Oktober 2024, kini di April 2026 telah stabil di kisaran Rp41.000 hingga Rp44.000/kg. Meskipun harga naik, jumlah peternak justru bertambah karena pasar mereka sudah pasti: perut anak-anak sekolah dan masyarakat yang membutuhkan gizi.

Ironi di Pedesaan: Ada Tawa, Ada Tangis

Namun, potret ekonomi desa saat ini terbagi dua: peternak unggas yang tersenyum, dan peternak kambing/domba yang menangis.

Pada tahun 2025, kebijakan wajib alokasi 20% dana desa untuk ketahanan pangan sempat membuat sektor peternakan ruminansia bergairah. BUMDes dan kelompok tani berlomba membangun kandang dan membeli bibit. Namun, seiring waktu, gairah itu meredup sejalan dengan berkurangnya kepastian pasar bagi mereka.

Kini, harga kambing dan domba anjlok hingga hampir setara dengan harga unggas. Tengkulak mulai menekan harga, sementara para peternak mulai kesulitan membayar cicilan dan gaji karyawan. Bagi mereka, ini bukan sekadar statistik di atas kertas; ini adalah soal biaya sekolah anak dan keberlangsungan hidup.

Harapan untuk Pak Presiden

Program ketahanan pangan desa, dengan sokongan minimal 20% dana desa, adalah instrumen strategis yang pernah menjadi substitute buyer bagi peternakan rakyat. Tanpa kepastian dukungan anggaran tersebut, keberhasilan yang sudah dirintis di desa terancam hancur.

Kepada Yang Terhormat Presiden Prabowo Subianto, langkah mengaktifkan ekonomi desa melalui program MBG sudah berada di jalur yang benar. Namun, agar keadilan tambah merata dan terasa, kiranya berkenan untuk mengaktifkan kembali kewajiban alokasi 20% dana desa untuk program ketahanan pangan seperti pada tahun anggaran 2025.

Sebab, di tangan para peternak inilah, kedaulatan pangan Indonesia berada. Tak ada gading yang tak retak, namun setiap retakan bisa diperbaiki bersama.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Purbaya Siapkan Sanksi bagi Importir Buntut Kontainer Menumpuk

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:21

Kebakaran Rumah di Palmerah, 17 Unit dan 85 Personel Damkar Dikerahkan

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:05

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Widiyanti Putri Wardhana dan Nusron Wahid Layak Direshuffle

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:38

Kompetisi Ketapel Antar ASN

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:19

Buzzer Jokowi Jangan Dulu Pesta, P21 Bukan Vonis Pengadilan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:00

Investor Asing Laporkan Dugaan Penyalahgunaan Dana Proyek Marina Bay City ke Polda Bali

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:48

Kritik Rocky Gerung, Gumarang: Menteri Keuangan Bukan Sekadar Kasir

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:27

State-Driven Economy untuk Hentikan Ketimpangan dan Ketergantungan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:57

Puluhan Miliar Dana Investasi Dipersoalkan, Siapa Bertanggung Jawab di Marina Bay City?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:33

Selengkapnya