Berita

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: Istimewa)

Publika

Trump Benar, Rakyat Amerika Bodoh!

KAMIS, 02 APRIL 2026 | 14:24 WIB

"Sejujurnya, hal yang paling saya sukai adalah mengambil minyak Iran, tetapi ada beberapa orang bodoh di AS yang berkata, 'mengapa Anda melakukan itu?' Tapi mereka orang bodoh".

[Presiden Amerika Serikat, Donald Trump]

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump terang-terangan mengaku ingin merampas minyak Iran, seperti yang sebelumnya telah dilakukannya terhadap Venezuela. 


Bedanya, untuk Venezuela prosesnya simpel dan sukses, hanya cukup dengan langkah taktis menculik Nicolas Maduro.

Namun, sejumlah warga AS malah mempertanyakan keinginannya tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times pada Minggu 30 Maret 2026, Trump mengungkap kecenderungannya dalam merebut minyak Teheran saat mempertimbangkan apakah akan merebut pusat ekspor minyak Iran, di Pulau Kharg.

Trump menyebut rakyat AS yang mempertanyakan keinginannya merebut minyak Iran, sebagai rakyat bodoh. 

Dalam konteks ini, penulis setuju. Setidaknya, rakyat Amerika pura-pura bodoh, sekaligus pura-pura marah atas serangan yang dilancarkan Amerika terhadap Iran.

Mari kita simak.

Saat Trump secara ilegal layaknya Gangster Internasional menculik Nicolas Maduro, merampas minyak Venezuela untuk kepentingan Amerika, tidak ada demo rakyat Amerika. 

Tidak ada yang memprotes tindakan Trump, karena minyak yang dirampas oleh Trump juga pada akhirnya dinikmati oleh seluruh rakyat Amerika.

Selanjutnya, saat 28 Februari 2026 lalu, Trump bersama PM Israel Benjamin Netanyahu menyerang Iran, menimbulkan korban jiwa dan luka, sipil, anak sekolah hingga pemimpin tertinggi Iran Ali Ayatollah Humaini, rakyat Amerika juga diam. Tak ada demo, protes, atau penentangan terhadap Trump.

Karena rakyat Amerika sadar, Trump sedang mencari cuan untuk Amerika. Trump sedang bekerja menjalankan konstitusi Amerika. Apa yang dilakukan oleh Trump, tak ada bedanya dengan George W Bush, Barack Obama, atau sejumlah Presiden Amerika terdahulu.

Mereka menjajah untuk meningkatkan pendapatan Amerika untuk kesejahteraan segenap rakyat Amerika. Minyak yang diperoleh Bush di Irak dan Afghanistan, juga dinikmati rakyat Amerika, sebagaimana rampasan minyak yang diperoleh Trump dari Venezuella.

Partai Republik dan Partai Demokrat Amerika, juga punya spirit menjajah yang sama. Hanya beda pendekatan. Partai Demokratik dengan pendekatan soft power, gaya multipolar, melibatkan negara mitra penjajah.

Sementara Partai Republik cenderung show of force, unipolar dan hard power. Persis gaya Koboi Amerika.

Harta rampasan perang yang diperoleh Amerika dinikmati oleh segenap rakyat Amerika. 

Penguasaan kawasan Timur tengah, minyak Timur Tengah, penguasaan jalur pelayaran, bisnis senjata Timur Tengah, dan penjajahan yang dilakukan oleh Amerika terhadap dunia Islam, semuanya untuk kebutuhan Amerika dan dinikmati oleh seluruh rakyat Amerika.

Lalu, kenapa rakyat Amerika protes? Mendemo Trump dengan mengangkat tema 'No King'?

Kita kuliti faktanya.

Demo terhadap perang Amerika terhadap Iran bukan disebabkan rakyat Amerika tak setuju Amerika menjajah. 

Sudah puluhan tahun hingga lebih satu abad Amerika menjajah, dan rakyat Amerika menyetujui itu, termasuk ikut menikmati hasil penjajahan Amerika. 

Amerika adalah negara yang menganut dan menerapkan ideologi kapitalisme. Kapitalisme telah menjadikan imperialisme (isti'mar) sebagai metode baku untuk mengemban dan mempertahankan eksistensi ideologi. 

Semboyan penjajahan kapitalisme, yang sebelumnya berupa 'God, Glory, Gospel' telah berubah dan hanya fokus untuk melakukan eksploitasi dan menumpuk-numpuk harta kekayaan dengan menzalimi negeri yang dijajah.

Biasanya, penjajahan dilakukan dengan menjual narasi demokrasi. Perang untuk menghilangkan tiranisme dan menjajakan demokrasi. Seperti yang dilakukan di Irak. 

Tapi untuk Iran, Amerika tanpa basa basi langsung menyerang untuk tujuan minyak. Senjata nuklir hanya dalih saja, persis seperti ketika menyerang Irak dengan dalih senjata pemusnah massal.

Kita lanjutkan. 

Aksi protes atau demonstrasi besar-besaran oleh rakyat Amerika Serikat dengan tagar atau slogan 'No King' (Bukan Raja) baru diselenggarakan pada Sabtu 28 Maret 2026. Padahal, kekejian Trump terhadap Iran sudah terjadi sejak 28 Februari 2026.

Itu artinya, rakyat Amerika tidak memprotes serangan Trump ke Iran. Rakyat Amerika tidak protes atas adanya korban rakyat Iran hingga pemimpin tertingginya oleh serangan Trump.

Rakyat Amerika marah kepada Trump karena Trump kalah, tak bisa mengendalikan perang. 

Rakyat Amerika marah kepada Trump karena Iran menutup Selat Hormouz yang meyebabkan leher ekonomi Amerika tercekik. 

Rakyat Amerika marah kepada Trump karena Trump telah menumbalkan banyak tentara dan menghabiskan banyak anggaran, yang berujung kekalahan militer dan ekonomi.

Jadi, benar kata Trump. Rakyat Amerika bodoh, atau setidaknya pura-pura bodoh.

Karena sudah sejak lama, Amerika berperang demi minyak, demi cuan. Bukan demi perdamaian. Apalagi, demi demokrasi, menjaga tatanan dunia dan peradaban.

Benar kata Trump. Rakyat Amerika bodoh, atau setidaknya pura-pura bodoh.

Mereka menerapkan ideologi kapitalisme yang menjajah. Yang mengeksploitasi dunia untuk menumpuk harta dan kekayaan.

Benar kata Trump. Rakyat Amerika bodoh, atau setidaknya pura-pura bodoh.

Karena rakyat Amerika marah bukan karena ada darah yang tertumpah, atau nyawa yang terenggut. Baik nyawa rakyat Iran, Palestina, Sudan, Afghanistan, Irak, dan negeri muslim lainnya.

benar kata Trump. Rakyat Amerika bodoh, atau setidaknya pura-pura bodoh.

Karena sejatinya, rakyat Amerika hanya marah atas dorongan perut mereka. Mereka marah kepada Trump kalah atas Iran, yang menyebabkan harga BBM dan kebutuhan di Amerika melonjak tinggi.

Andai saja Trump menang atas Iran, memboyong minyak Iran ke Amerika, sudah pasti Rakyat Amerika ikut berpesta pora atas kemenangan itu. Meskipun itu dilakukan di atas bangkai dan penderitaan rakyat dan umat Islam se dunia.

Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik 

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Proses Hukum Febrie Adriansyah Harus Bebas dari Intervensi Politik

Senin, 13 Juli 2026 | 06:23

Tentara Salib Eropa dalam Penjarahan Konstantinopel 1204

Senin, 13 Juli 2026 | 06:05

PT Japfa Comfeed di Cengkareng Terbakar

Senin, 13 Juli 2026 | 06:03

Timnas Inggris Tak Pernah Masuk Daftar Lawan Lionel Messi

Senin, 13 Juli 2026 | 05:32

Ivan Gunawan Harap Pemerintah Bantu Pembangunan 99 Masjid

Senin, 13 Juli 2026 | 05:23

Mengungkap Skandal Pemerasan Bu Etik

Senin, 13 Juli 2026 | 05:09

Ketahuan, Amplop Baru Dikembalikan?

Senin, 13 Juli 2026 | 05:03

MBG dan KDMP Manifestasi Nyata Pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945

Senin, 13 Juli 2026 | 04:36

Mundurnya Febrie Adriansyah Jadi Pesan Politik Antikorupsi Pemerintahan Prabowo

Senin, 13 Juli 2026 | 04:05

Waspada! Ada Kompromi Kasus Ijazah Jokowi Disetop

Senin, 13 Juli 2026 | 04:02

Selengkapnya