Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Harga Minyak Fluktuatif, Pasar Pantau Sinyal Perang

KAMIS, 02 APRIL 2026 | 08:38 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia mengalami pergerakan yang sangat fluktuatif di tengah perkembangan terbaru konflik Iran. 

Pada perdagangan akhir Maret 2026, harga minyak sempat turun setelah muncul laporan, meski belum terkonfirmasi bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan kesiapan untuk mengakhiri perang dengan syarat adanya jaminan tertentu.

Dikutip dari Reuters, Kamis 2 April 2026, kontrak minyak Brent untuk pengiriman Juni ditutup turun sebesar 3,42 Dolar AS ke level 103,97 Dolar AS per barel. Penurunan ini terjadi setelah pasar merespons cepat kabar potensi de-eskalasi konflik. 


Sementara itu, kontrak Brent Mei, yang segera berakhir, justru melonjak dan ditutup di 118,35 Dolar AS per barel. Di sisi lain, minyak acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), turun 1,50 Dolar AS menjadi 101,38 Dolar AS per barel.

Sepanjang Maret, harga minyak mencatat lonjakan luar biasa. Brent naik hingga 64 persen, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak data dicatat pada 1988, sementara WTI melonjak sekitar 52 persen, tertinggi sejak 2020. Kenaikan tajam ini dipicu oleh eskalasi konflik di kawasan Teluk yang mengganggu infrastruktur energi dan pasokan global.

Namun, setiap ada sinyal perdamaian, harga langsung tertekan. Salah satu faktor utamanya adalah potensi dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. 

"Jika konflik segera berakhir, maka pasokan bisa kembali masuk ke pasar dan premi risiko dalam harga minyak akan hilang," kata pengamat John Kilduff, menggambarkan reaksi pasar ini.

Di lapangan, ketegangan masih terus berlangsung. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memperingatkan bahwa konflik bisa semakin intens jika tidak ada kesepakatan damai dalam waktu dekat. Sementara itu, pihak Iran juga mengancam akan menargetkan perusahaan-perusahaan AS di kawasan tersebut sebagai bentuk balasan.

Meski ada harapan de-eskalasi, para analis menilai ketidakpastian akan tetap tinggi. Infrastruktur energi yang rusak membutuhkan waktu untuk pulih, sehingga pasokan minyak kemungkinan tetap terbatas dalam jangka pendek. Kondisi ini membuat harga minyak berpotensi kembali menguat jika konflik berlanjut atau jalur distribusi utama tetap terganggu.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya