Berita

Prajurit TNI yang tergabung dalam misi misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). (Foto: Antara)

Publika

Sudah Berkawan di BoP, Eh Israel Main Tusuk dari Belakang

RABU, 01 APRIL 2026 | 14:13 WIB

SUDAH duduk satu meja, sudah satu forum, sudah bersalaman di bawah lampu kristal diplomasi, begitu lengah, main tusuk dari belakang. 

Tiga prajurit TNI. Tiga penjaga damai. Bukan pembunuh, bukan teroris, bukan kombatan. Mereka datang membawa mandat dunia, tapi pulang sebagai jenazah. 

Di titik ini, pertanyaan itu tidak lagi sopan, sebenarnya apa maunya Israel? Damai, atau sekadar kata manis untuk meninabobokan dunia sementara meriam tetap bicara?


Tanggal 29 Maret 2026, Praka Farizal Rhomadhon, usia 26 atau 28 tahun, gugur ketika proyektil artileri menghantam pos Kontingen Garuda di dekat Adchit al-Qusayr, Lebanon Selatan. Tiga rekannya terluka, satu di antaranya berat. 

Besoknya, 30 Maret 2026, dua prajurit lagi tewas saat ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan, Sektor Timur. Dua lainnya kembali terluka. Total tiga gugur. Beberapa luka. 

Dunia? Dunia kembali sibuk merangkai kalimat duka yang terdengar seperti template lama yang dipoles ulang.

Di tengah saling tembak antara militer Israel dan Hizbullah, pasukan perdamaian PBB seharusnya menjadi garis netral, zona yang dihormati. 

Tapi apa yang terjadi? Proyektil jatuh ke sana. Ledakan menghantam konvoi mereka. Lalu muncul frasa paling dingin dalam kamus kemanusiaan, “unknown origin.” Tidak diketahui asalnya. Serius? 

Di era satelit, drone, dan sistem pelacakan canggih, tiba-tiba semua jadi buta? Ini bukan ketidaktahuan. Ini ketidakmauan untuk jujur.

United Nations mengecam. Antonio Guterres mengutuk. Pernyataan resmi berhamburan seperti hujan kata-kata yang tidak pernah benar-benar menyentuh tanah tempat darah itu tumpah. 

“Keselamatan peacekeeper harus dilindungi.” Kalimat yang begitu indah, begitu steril, sampai terasa seperti lelucon pahit ketika tiga jasad sudah disiapkan untuk dipulangkan.

Indonesia mengecam keras. Kementerian Luar Negeri dan Pertahanan menuntut investigasi transparan. 

Menteri Luar Negeri Sugiono, yang saat itu mendampingi kunjungan kerja di Tokyo, menyampaikan duka, penghormatan, dan tuntutan keadilan. Semua benar. Semua tepat. 

Tapi publik masih menunggu suara langsung dari Prabowo Subianto. Hening itu terasa panjang, seperti jeda yang tidak pada tempatnya ketika amarah publik sudah mendidih.

Di sinilah absurditas mencapai puncaknya. Indonesia dan Israel kini berada dalam satu forum, Board of Peace, gagasan besar dari Donald Trump. 

Katanya untuk mengurus Gaza, untuk rekonstruksi, untuk masa depan. Indonesia masuk dengan niat mulia, membela Palestina dari dalam, mendorong solusi dua negara. 

Bahkan siap kirim ribuan pasukan. Tapi realitas menampar keras:. Di Gaza dibahas perdamaian, di Lebanon peluru tetap beterbangan. Dua panggung, dua cerita, satu ironi besar.

Israel selalu punya narasi, ancaman Hizbullah, keamanan nasional, serangan balasan. Tapi sampai kapan alasan itu dipakai untuk membungkus kematian yang berulang? 

Sampai kapan “tidak sengaja” dijadikan tameng? Jika pos PBB saja bisa dihantam, jika konvoi logistik saja bisa meledak, lalu apa arti semua hukum internasional itu? Pajangan moral di rak diplomasi?

Tiga prajurit Indonesia telah gugur. Jenazah mereka diproses untuk pulang, dibungkus bendera, disambut air mata. Tapi yang lebih menyakitkan adalah kesadaran, tragedi ini bukan kecelakaan tunggal. Ini pola. Ini pengulangan. Ini kegagalan dunia yang terus diulang sampai terasa normal.

Mungkin inilah yang paling mengerikan, dunia tidak lagi terkejut. Dunia hanya mengecam, lalu lanjut seperti biasa. 

Sementara di suatu rumah di Indonesia, ada keluarga yang hidupnya berhenti di tanggal 29 dan 30 Maret 2026. 

Di tengah semua itu, kita dipaksa menerima satu kenyataan kejam, di dunia yang mengaku mencintai perdamaian, bahkan penjaga damai pun dibiarkan mati.

“Itu benaran dibunuh Israel, Bang. Biasanya kalau berkaitan Israel, dibilang hoax.”

“Memang benar, penggemar Israel ramai di mari, wak. Senjatanya selalu bilang hoax.” Ups

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Pelita Air Libatkan UMKM Binaan Pertamina dalam PAS Sky Shop

Selasa, 12 Mei 2026 | 03:59

Seluruh SPPG Wajib Tambah Penerima Manfaat 3B dalam Dua Minggu

Selasa, 12 Mei 2026 | 03:50

19 Juta Tenaga Kerja dan Upsysteming UMKM

Selasa, 12 Mei 2026 | 03:25

Jokowi dan Pratikno Dituding Bungkam UI Lewat PP 75/2021

Selasa, 12 Mei 2026 | 02:59

Polisi Ringkus 25 Pelaku Curanmor di Bekasi

Selasa, 12 Mei 2026 | 02:45

Film Dokumenter “Pesta Babi” Jangan Memperkeruh Keadaan di Papua

Selasa, 12 Mei 2026 | 02:23

Melupakan Laut, Menggadaikan Masa Depan!

Selasa, 12 Mei 2026 | 01:57

Polda Jambi Bongkar Peredaran Sabu dan "Vape Yakuza" Senilai Rp25,9 Miliar

Selasa, 12 Mei 2026 | 01:38

Dishub kota Semarang Gencarkan Sosialisasi ke Bus AKAP

Selasa, 12 Mei 2026 | 01:19

Grace Natalie: Saya Nggak Pernah Punya Masalah dengan Pak JK

Selasa, 12 Mei 2026 | 00:57

Selengkapnya