Ilustrasi harga bensin di AS naik (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube CNN)
Warga Amerika Serikat (AS) mulai kepusingan menghadapi lonjakan harga bahan bakar yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Harga bensin di negara tersebut kini menembus angka 4 Dolar AS per galon, level tertinggi sejak 2022, setelah konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan energi global.
Kenaikan ini terjadi sangat cepat. Sejak AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari, harga bensin sudah melonjak lebih dari 30 persen.
Data dari asosiasi perjalanan AAA menunjukkan rata-rata nasional kini mencapai sekitar 4,018 Dolar AS per galon, sebuah angka yang terakhir kali terlihat saat pasar energi terguncang oleh perang Rusia-Ukraina.
Lonjakan harga ini tidak hanya dirasakan di SPBU, tetapi juga mulai menekan ekonomi secara lebih luas. Harga minyak dunia sendiri telah naik lebih dari 50 persen sejak konflik dimulai. Minyak Brent, sebagai patokan global, bahkan mencatat salah satu kenaikan bulanan terbesar dalam sejarahnya.
Pemerintah AS menyadari dampak besar dari kondisi ini. Wakil Presiden JD Vance mengakui masyarakat akan menghadapi “jalan yang sulit” dalam beberapa waktu ke depan. Namun, ia menegaskan bahwa kenaikan harga ini bersifat sementara dan diharapkan mereda setelah konflik berakhir.
“Kita punya masalah, kita tahu kita punya masalah, dan kita melakukan segala yang kita bisa untuk mengatasinya," ujarnya, dikutip dari CNBC International, Rabu 1 April 2026.
Selain bensin, lonjakan yang lebih tajam justru terjadi pada solar. Harga solar kini sudah melampaui 5 Dolar AS per galon, naik lebih dari 40 persen sejak sebelum konflik. Dampaknya sangat luas karena solar digunakan untuk transportasi logistik seperti truk dan kereta barang. Artinya, kenaikan ini berpotensi mendorong harga berbagai barang kebutuhan sehari-hari.
Analis energi Andy Lipow memperingatkan bahwa dampak penuh dari kenaikan harga solar belum sepenuhnya terasa. “Efek penuh dari kenaikan harga diesel belum dirasakan dan akan mengalir ke seluruh perekonomian dalam beberapa bulan ke depan," ujarnya.
Kondisi ini juga diperkirakan akan memicu inflasi tambahan. Menurut Patrick De Haan, masyarakat kemungkinan mulai merasakan dampaknya pada April, terutama melalui kenaikan harga di supermarket dan belanja online.
“Ini akan dengan cepat memicu inflasi tambahan," ujarnya.
Akar masalahnya terletak pada terganggunya jalur distribusi minyak global, khususnya di Selat Hormuz. Jalur ini sebelumnya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, namun kini aktivitas kapal tanker menurun drastis akibat serangan dari Iran. Situasi ini memicu salah satu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, menurut Badan Energi Internasional.
Pemerintah AS telah mengambil sejumlah langkah untuk menahan kenaikan harga, mulai dari melonggarkan aturan bahan bakar, meningkatkan pasokan solar, hingga melepas cadangan minyak strategis. Namun, para analis menilai langkah-langkah ini belum tentu cukup jika jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz belum kembali normal.
Bahkan, ada kekhawatiran harga bensin bisa terus naik hingga menyentuh 5 Dolar AS per galon jika situasi tidak segera membaik.
“Ini seperti perlombaan melawan waktu,” kata De Haan, menggambarkan betapa gentingnya kondisi pasar energi saat ini.