Berita

Penyidik Utama Tingkat I Bareskrim Polri, Irjen Umar Surya Fana. (Foto: Dok. Pribadi)

Publika

Kedaulatan Digital: Garis Depan Baru Pertahanan Nasional

SELASA, 31 MARET 2026 | 12:38 WIB | OLEH: DR UMAR S FANA SIK*

ANALISIS mengenai Aref Network, sistem navigasi BeiDou, dan transformasi militer Iran melalui tangan Mohammad Reza Aref memberikan tamparan realitas bagi korps penegak hukum dan pertahanan.

Sebagai seorang pendidik di lingkungan ilmu kepolisian sekaligus praktisi penyidikan di Bareskrim, saya melihat fenomena ini bukan sekadar urusan transmisi data, melainkan pergeseran fundamental dalam anatomi kedaulatan negara.

Dalam terminologi kepolisian modern, tidak lagi hanya berbicara tentang Physical Security (keamanan fisik) atau Public Order (ketertiban umum) di jalan raya, namun sedang menghadapi era Network-Centric Policing and Defense.


Paradoks Aref Network: Relay Tanpa Pusat sebagai Benteng Resiliensi

Disertasi Aref di Stanford tahun 1980 tentang information flow in relay networks adalah kunci dari apa yang disebut dalam dunia penyidikan sebagai Decentralized Resilience.

Dalam perspektif penegakan hukum, infrastruktur yang bersifat terpusat (centralized) adalah titik lemah mematikan (single point of failure). Jika satu server pusat lumpuh, seluruh sistem negara—mulai dari data kependudukan, sistem perbankan, hingga komunikasi polri—bisa rontok seketika.

Konsep Aref Network mengajarkan bahwa data yang "melompat" antar-node tanpa ketergantungan pada satu titik pusat menciptakan sistem saraf yang mustahil diputus total. Bagi seorang penyidik, ini adalah tantangan sekaligus inspirasi.

Tantangannya: bagaimana melacak aliran informasi dalam jaringan yang cair? Inspirasinya: Indonesia harus memiliki protokol komunikasi darurat yang mampu "melompat" antarpulau secara mandiri jika kabel bawah laut kita disabotase pihak asing.

National Information Network: Intranet sebagai "Bunker" Digital

Sebagai penyidik Bareskrim yang sering menangani cyber crime, melihat National Information Network (NIN) Iran bukan sekadar alat sensor, melainkan sebuah bunker bigital. Dalam ilmu kepolisian, dikenal konsep Situational Crime Prevention.

NIN adalah bentuk ekstrem dari pencegahan tersebut di tingkat negara. Dengan memiliki "internet domestik", sebuah negara memiliki tombol kill-switch terhadap intervensi luar.

Keamanan Data Penyidikan: Bayangkan jika seluruh data penyidikan kita disimpan di cloud yang server fisiknya berada di negara yang sedang berkonflik dengan kita. Mereka bisa memutus akses kita terhadap data kita sendiri.

Kontinuitas Layanan Publik: Jika terjadi perang sinyal, bank dan rumah sakit harus tetap jalan. Di sinilah relevansi digital resilience. Tanpa kemandirian infrastruktur, kedaulatan kita hanyalah ilusi yang menumpang di kabel serat optik milik perusahaan transnasional.

Perang Sinyal dan Penegakan Hukum


Di Bareskrim, kita sering berurusan dengan Signal Intelligence (SIGINT). Namun, dalam skala negara, perang sinyal adalah tentang siapa yang menguasai spektrum.

Jika pesawat siluman bisa "buta" karena jamming atau spoofing sinyal GPS, maka bayangkan apa yang terjadi pada sistem navigasi kapal patroli kita atau sinkronisasi waktu pada sistem bursa efek kita. Ketergantungan absolut pada satu sistem navigasi (seperti GPS milik AS) adalah kerentanan strategis.

Adopsi BeiDou oleh Iran adalah langkah diversifikasi risiko. Bagi Indonesia, pertanyaannya adalah: Seberapa mandiri sistem navigasi dan sinkronisasi waktu (PTP/NTP) kita? Tanpa itu, dalam hitungan detik, koordinasi taktis antar-satuan Polri dan TNI di lapangan bisa dikacaukan hanya dengan serangan frekuensi.

Mengubah Paradigma: Dari Platform ke Jaringan

Dalam kuliah-kuliah di PTIK/STIK, saya selalu menekankan bahwa polisi masa depan tidak boleh hanya berpikir tentang "siapa pelakunya", tetapi "bagaimana sistemnya bekerja".

Perang asimetris yang dijalankan Iran membuktikan bahwa Insinyur adalah jenderal baru. Kekuatan tempur tidak lagi dihitung dari jumlah moncong meriam, tapi dari:
Strategi drone swarm (kawanan drone) Iran adalah aplikasi nyata dari Aref Network. Ratusan node kecil yang saling berkomunikasi, sulit dideteksi, dan murah meriah, namun mampu melumpuhkan sistem pertahanan bernilai miliaran Dolar. Ini adalah demokratisasi kekuatan penghancur melalui penguasaan kode dan sinyal.

Rekomendasi Strategis bagi Ketahanan Nasional

Melihat profil Mohammad Reza Aref, Indonesia perlu melakukan introspeksi mendalam terkait ketahanan digital nasional.

Kedaulatan Cloud dan Data: Kita harus berhenti "menitipkan" data strategis negara pada infrastruktur pihak ketiga yang tidak memiliki perjanjian hukum yang setara. Pembangunan National Data Center (PDN) yang tangguh adalah harga mati.

Kemandirian Navigasi: Kita perlu mengeksplorasi penggunaan multi-GNSS (GPS, GLONASS, BeiDou, Galileo) agar sistem pertahanan dan penegakan hukum kita tidak lumpuh jika salah satu pihak mematikan sinyal satelitnya di wilayah kita.

SDM Insinyur sebagai Aset Pertahanan: Polri dan TNI harus mulai merekrut dan membina talenta di bidang information theory, cryptography, dan network architecture setara dengan kita melatih pasukan khusus. Insinyur seperti Aref adalah arsitek benteng masa depan.

Cyber-Police-Military Integration: Penegakan hukum di ruang siber tidak bisa dipisahkan dari pertahanan siber nasional. Kolaborasi Bareskrim, BSSN, dan satuan siber TNI harus terintegrasi dalam satu sistem saraf yang otonom.

Kedaulatan adalah Kemandirian Kode

Sebagai penegak hukum, saya menyadari bahwa kejahatan masa depan tidak selalu meninggalkan jejak kaki, melainkan jejak paket data yang terenkripsi.

Jika negara kita tidak menguasai arsitektur digitalnya sendiri, kita sebenarnya sedang "kos-kosan" di rumah orang lain. Pemilik rumah bisa mengusir kita, mengintip aktivitas kita, atau mematikan lampunya kapan saja.

Kisah Mohammad Reza Aref adalah pengingat bahwa di balik megahnya alutsista, ada algoritma yang bekerja. Di abad ke-21, kedaulatan tidak hanya ditentukan oleh batas-batas tanah dan air, tetapi oleh siapa yang mengendalikan aliran elektron di udara.

Indonesia harus bangkit. Kita tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi harus menjadi arsitek bagi "Sistem Saraf Nasional" kita sendiri agar tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang bisa menekan tombol disconnect terhadap eksistensi Republik Indonesia.

*Penulis adalah Penyidik Utama Tingkat I Bareskrim Polri; Dosen Utama STIK/PTIK

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

UPDATE

Gugurnya Prajurit Jadi Panggilan Indonesia Tak Lagi Jadi Pemain Cadangan

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:20

Aktivis KontraS Ungkap Kondisi Terkini Andrie Yunus di RSCM

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:19

Trump Ngotot akan Tetap Hancurkan Listrik dan Semua Pabrik di Iran

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:17

KPK Kembangkan Kasus Suap Importasi

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:09

Pertamina Bantah Kabar Harga Pertamax Tembus Rp17 Ribu per Liter

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:02

Siang Ini Jakarta Diprediksi Kembali Hujan Ringan

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:00

Tiga Prajurit RI Gugur di Lebanon, Menlu Desak DK PBB Rapat Darurat

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:45

Transparansi Terancam: 37 Ribu Pejabat Belum Serahkan LHKPN

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:40

Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Dilimpahkan ke Puspom TNI

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:27

Gibran Didorong Segera Berkantor di IKN Agar Tak Mubazir

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:18

Selengkapnya