Berita

Ketua Umum Peradi SAI Harry Ponto bersama (kanan) bersama Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni usai rapat dengar pendapat umum tentang Rancangan Undang-Undang Hukum Acara Perdata (RUU Haper) di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, 30 Maret 2026. (Foto: Dokumentasi Peradi SAI)

Hukum

RDPU dengan Komisi III DPR

Peradi SAI Dorong Penguatan Reformasi Hukum dalam RUU Haper

SELASA, 31 MARET 2026 | 03:35 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Perkumpulan Advokat Indonesia Suara Advokat Indonesia (Peradi SAI) menyampaikan pandangan, masukan, dan rekomendasi strategis terkait Rancangan Undang-Undang Hukum Acara Perdata (RUU Haper) dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, 30 Maret 2026.

Dalam forum tersebut, Peradi SAI menegaskan bahwa reformasi hukum acara perdata merupakan kebutuhan mendesak untuk menjawab berbagai persoalan mendasar dalam praktik peradilan di Indonesia.  

Ketua Umum Peradi SAI, Harry Ponto, menyoroti panjangnya rantai proses perkara perdata yang justru berpotensi menggerus makna keadilan itu sendiri. 


“Kita harus jujur melihat kenyataan. Perkara perdata di Indonesia sering kali berjalan terlalu panjang. Dari Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, kasasi, sampai peninjauan kembali. Bahkan, bisa berulang lagi di tahap eksekusi. Ini bukan sekadar lambat, ini berbahaya bagi kepastian hukum,” kata Harry.

Harry menilai kondisi tersebut mencerminkan adagium klasik dalam dunia hukum, yakni ‘Justice Delayed is Justice Denied’, yang berarti keadilan yang tertunda sama dengan penolakan terhadap keadilan itu sendiri. 

Menurut dia, lamanya proses ini bukan semata karena faktor kesengajaan, melainkan memang disebabkan oleh desain hukum acara perdata yang membuka terlalu banyak tahapan.

Dampaknya, bukan hanya masyarakat pencari keadilan yang dirugikan, tetapi juga iklim investasi di Indonesia ikut terdampak negatif. 

“Situasi ini tidak hanya membuat frustasi orang Indonesia sendiri, tapi juga para investor asing. Padahal kita ingin mengundang investasi,” jelasnya.

Karena itu, Peradi SAI mengusulkan restrukturisasi peradilan perdata dengan pembagian fungsi yang lebih tegas. Pengadilan Negeri bertindak sebagai judex factie, dan Pengadilan Tinggi sebagai judex juris. Tidak ada lagi kasasi ke Mahkamah Agung, yang nantinya difokuskan sebagai lembaga peninjauan kembali terbatas.

Harry yakin restrukturisasi peradilan perdata ini akan secara signifikan mengurangi beban perkara di Mahkamah Agung yang saat ini dinilai terlalu berat.

Ketua Tim Perumus Peradi SAI Swandy Halim menambahkan, Mahkamah Agung sejatinya tidak boleh terus menjadi ‘tempat akhir semua perkara’. 

“Kalau semua dibawa ke atas, yang kita dapat bukan keadilan yang lebih baik, tapi penumpukan perkara,” ungkapnya.

Sementara anggota Tim Perumus Alfin Sulaiman menyoroti pentingnya sinkronisasi RUU Haper dengan berbagai instrumen yang telah dikembangkan oleh MA, termasuk e-court dan e-litigation, mekanisme mediasi, dan praktik arbitrase. Hal ini penting untuk memastikan konsistensi dan kepastian hukum dalam implementasi.
  
Peradi SAI juga mendorong penguatan mediasi sebagai alternatif penyelesaian sengketa yang efektif. Perlu dimungkinkan pengesahan kesepakatan damai di luar pengadilan dengan kekuatan eksekutorial. 

“Kalau para pihak sudah sepakat, negara harus hadir untuk memperkuat, bukan mempersulit. Jangan semua dipaksa masuk ke jalur litigasi yang panjang,” usul Alfin.

Anggota Tim Perumus lainnya, Andi F. Simangunsong menambahkan, sebagai organisasi advokat, Peradi SAI menemukan bahwa pengalaman praktis di lapangan menunjukkan masih banyak kelemahan dalam hukum acara perdata, baik dari sisi efisiensi, kepastian hukum, maupun perlindungan hak para pihak.  

“Advokat itu bukan penonton. Kami ada di garis depan setiap hari. Karena itu, suara advokat harus menjadi bagian penting dalam merumuskan hukum acara perdata yang benar-benar bisa dijalankan,” kata Andi.

Dalam RDPU tersebut, Peradi SAI juga menyatakan kesiapan untuk terus terlibat aktif dalam pembahasan RUU Haper, termasuk memberikan kajian lanjutan dan dukungan teknis apabila diperlukan. 

Harry menegaskan bahwa reformasi hukum acara perdata bukan hanya soal perubahan aturan, tetapi soal keberanian untuk membenahi sistem yang selama ini terlalu berputar. 

“Tanpa itu, keadilan akan terus tertunda dan pada akhirnya, hilang maknanya,” tegas dia.

Peradi SAI mendorong DPR bersama Pemerintah dapat segera melakukan pembahasan yang sifatnya maraton terhadap RUU Haper ini. Sehingga diharapkan tahun ini sudah bisa disahkan menjadi undang-undang.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Menteri P2MI Didesak Terbitkan Aturan Transisi SIUKAK-SIP3MI

Selasa, 29 September 2026 | 03:59

Ombudsman Diminta Tindaklanjuti Secara Terbuka Temuan di Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 03:43

KPK Diminta Periksa Petinggi Summarecon Terkait Aliran Uang ke Pejabat

Selasa, 29 September 2026 | 03:23

28.620 Manajer KDKMP Terima SK, Penempatan Diserahkan ke Agrinas

Selasa, 29 September 2026 | 02:55

Dunia Butuh Penguatan Multilateralisme di Tengah Geopolitik yang Tak Pasti

Selasa, 29 September 2026 | 02:25

PHE Ajak Mahasiswa Kenali Industri Hulu Migas Lewat Upstream Youth Champs 2026

Selasa, 29 September 2026 | 01:56

Polisi Pastikan Bupati Gowa Sitti Husniah Dicekal ke Luar Negeri

Selasa, 29 September 2026 | 01:26

Menhan Sjafrie Serahkan 12 Ranpur Amfibi AAV M-35 Buatan AS ke Marinir

Selasa, 29 September 2026 | 00:47

BEI Buka Short Selling Mulai 1 Oktober, Begini Cara Kerja dan Risikonya

Selasa, 29 September 2026 | 00:20

KPK Diminta Tidak Tebang Pilih Usut Kasus Korupsi Kementerian ATR/BPN

Senin, 28 September 2026 | 23:48

Selengkapnya