Budayawan Jaya Suprana. (Foto: Dok. Pribadi)
Budayawan Jaya Suprana. (Foto: Dok. Pribadi)
Genjer-genjer nong kedokan pating keleler
Emake thulik, teka-teka mbubuti genjer
Ulih sak tenong, mungkur sedhot sing tulih-tulih
Genjer-genjer saiki wis digawa mulih
Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar
Dijejer-jejer, diuntingi padha didhasar
Emake jebeng, padha tuku nggawa welasah
Genjer-genjer saiki wis arep diolah
PADA masa kanak-kanak di Semarang, saya mendirikan sebuah band-bocah bersama teman-teman sebaya. Satu di antara sekian banyak lagu yang kerap kami dendangkan adalah Genjer-Genjer tanpa benar-benar paham makna liriknya karena ditulis dalam dialek Jawa Timuran.
Dan juga tanpa sadar bahwa kemudian lagu merakyat itu dilarang oleh rezim Orba akibat lagu Genjer-Genjer dianggap subversif membahayakan kepentingan nasional.
Bahkan ketika berkunjung ke Phnom-Penh, Kamboja, Presiden Soeharto resmi disambut paduan suara anak-anak Kamboja dengan lagu “Genjer-Genjer” yang bikin Dubes Indonesia untuk Kamboja panik dan minta maaf kepada Pak Harto.
Seperti biasa, pak Harto sebagai The Smiling General hanya tersenyum dan tidak memperpanjang masalah.
Lagu Genjer-Genjer adalah lagu rakyat yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur, diciptakan oleh Muhammad Arief pada tahun 1942. Berarti 3 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Lagu ini awalnya merupakan kritik sosial terhadap penjajahan Jepang, menggambarkan kesulitan hidup masyarakat Jawa, terutama petani, yang terpaksa mengonsumsi genjer (Limnocharis flava) sebagai makanan pokok karena kelaparan. Setelah kemerdekaan, lagu ini menjadi populer di kalangan masyarakat dan digunakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai alat propaganda visi dan misi komunisme.
Mujur tak teraih nahas tak tertolak, hal ini membuat lagu Genjer-Genjer seperti Internasionale dikaitkan dengan PKI maka dilarang oleh pemerintah Orde Baru setelah tragedi G30S 1965.
Lirik lagu Genjer-Genjer menceritakan tentang genjer, tanaman yang tumbuh di rawa-rawa dan sawah, yang menjadi makanan rakyat miskin. Lagu ini memiliki makna yang lebih dalam bersuasana kritik kemanusiaan, menggambarkan perjuangan rakyat kecil melawan kesulitan hidup.
Setelah reformasi 1998, larangan terhadap lagu Genjer-Genjer dicabut, dan mulai dibawakan kembali oleh musisi Indonesia maupun mancanegara, antara lain:
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
UPDATE
Minggu, 29 Maret 2026 | 20:11
Minggu, 29 Maret 2026 | 19:28
Minggu, 29 Maret 2026 | 19:13
Minggu, 29 Maret 2026 | 18:37
Minggu, 29 Maret 2026 | 18:06
Minggu, 29 Maret 2026 | 17:46
Minggu, 29 Maret 2026 | 17:26
Minggu, 29 Maret 2026 | 17:22
Minggu, 29 Maret 2026 | 17:03
Minggu, 29 Maret 2026 | 16:39