DI kalangan kaum elite garis keras Partai Republik, The Hawks (Rajawali) pada pemerintahan Amerika, seruan penyerangan Iran sudah lama terdengar.
Senator John mcCain, menyanyikan lagu "Barbara Ann" dari grup band The Beach Boys, dengan mengganti judul lagunya menjadi, "Bomb Bomb Iran", atau seperti dikatakan Benyamin Netanyahu pada November 2012, bahwa dalam "beberapa jam" Israel siap menyerang Iran.
Demikian juga, ketika politik Senior AS John Bolton, Maret 2015 menulis Op-Ed di The New York Times, dengan judul "To Stop Iran's Bomb, Bomb Iran".
John Bolton adalah penasihat keamanan nasional pada masa jabatan pertama Presiden Trump. Saat kini ia muncul sebagai salah satu kritikus presiden yang paling vokal.
Ia juga berpendapat bahwa melenyapkan rezim Iran adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri ancaman.
Bolton mengatakan perang melawan Iran dibenarkan dan penting untuk 'perdamaian dan stabilitas' di Timur Tengah.
Amerika Terakhir?
Dalam sebuah wawancara PBS News, Geoff Bennett, bulan ini, Bolton berkata bahkan saya pun tidak berpikir Donald Trump tertipu oleh 'Bibi' Netanyahu.
Trump tahu betul di masa jabatan pertamanya bagaimana perasaan Netanyahu tentang perlunya menggulingkan rezim. Saya sendiri sudah berusaha sebaik mungkin untuk meyakinkannya. Argumen ini sudah ada sejak lama.
Saya menyesal butuh waktu selama ini sampai akhirnya ada yang mengambil tindakan. Saya pikir dunia akan jauh lebih aman jika kita melakukannya 20 tahun yang lalu.
Tetapi anggapan bahwa kita tertipu sampai melakukan ini tidak memberikan penghargaan yang cukup kepada Trump.
Seorang pejabat senior pemerintahan Donald Trump di direktorat intelijen nasional telah mengundurkan diri karena perang di Iran.
Dia mengatakan presiden Amerika Serikat (AS) ditipu untuk terlibat dalam konflik tersebut oleh "ruang gema" Israel dan pro-perang.
“Saya tidak dapat dengan hati nurani yang baik mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran.
Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi negara kita, dan jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi Amerika yang kuat,” tulis Joseph Kent, direktur Pusat Kontraterorisme Nasional, dalam surat pengunduran diri yang dibagikan pada hari Selasa, 17 Maret 2026.
Para pejabat tinggi Israel dan anggota berpengaruh dari media Amerika melancarkan kampanye disinformasi yang sepenuhnya merusak platform 'America First' Anda dan menabur sentimen pro-perang untuk mendorong perang dengan Iran,”tulis Kent.“
"Ruang gema ini digunakan untuk menipu" Anda agar percaya bahwa Iran merupakan ancaman langsung bagi Amerika Serikat, dan jika Anda menyerang sekarang, ada jalan yang jelas menuju kemenangan.
Yesus dan Genghis Khan
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu tengah menuai hujatan dari berbagai pihak karena membawa-bawa Yesus Kristus saat bicara perang Iran.
Netanyahu membandingkan Yesus dengan pendiri dan pemimpin (khan) pertama Kekaisaran Mongol Genghis Khan.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Kamis, 19 Maret 2026, dilansir Anadolu, Netanyahu mengatakan: "Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan.”
“Karena jika Anda cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, kejahatan akan mengalahkan kebaikan. Agresi akan mengalahkan moderasi."
Ucapan Netanyahu menyangkut konflik di Timur Tengah yang diketahui meningkat sejak Israel dan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, hingga kini telah menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Yesus yang mereka anggap sebagai Tuhan yang menjelma dan "Pangeran Perdamaian" dan Genghis Khan, pendiri Kekaisaran Mongol abad ke-13 yang pasukannya menghancurkan Asia dari China hingga Mediterania.
Munther Isaac, seorang pendeta Lutheran Palestina dari Betlehem, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Yesus, mengatakan di X bahwa pernyataan Netanyahu "menyinggung di berbagai tingkatan".
"Bukan hanya membandingkan Yesus dengan Genghis Khan," tulisnya dilansir AFP, Sabtu, 21 Maret 2026 "tetapi juga menyiratkan bahwa jalan Yesus itu naif, sementara pendekatan yang kejam dan 'kekuatanlah yang menentukan kebenaran'... adalah apa yang pada akhirnya memungkinkan kebaikan untuk mengalahkan kejahatan."
"Netanyahu, dan para pendukung Zionis Kristennya, sedang memperolok-olok etika Yesus," tambahnya.
Netanyahu bantah Merendahkan Yesus
Netanyahu menolak tuduhan bahwa ia bermaksud menyinggung umat Kristen ketika mengatakan bahwa Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan. Netanyahu membantah dirinya melakukan penghinaan terhadap Yesus.
"Lebih banyak berita palsu" tentang sikap saya terhadap umat Kristen, yang dilindungi dan berkembang di Israel.
Izinkan saya memperjelas: "Saya tidak merendahkan Yesus Kristus dalam konferensi pers saya," tulis Netanyahu dalam bahasa Inggris di X, dilansir AFP, Sabtu, 21 Maret 2026.
"Sebaliknya, saya mengutip sejarawan besar Amerika Will Durant. Seorang pengagum Yesus Kristus yang setia, Durant menyatakan bahwa moralitas saja tidak cukup untuk memastikan kelangsungan hidup," tambahnya.
"Peradaban yang unggul secara moral masih dapat jatuh ke tangan musuh yang kejam jika tidak memiliki kekuatan untuk membela diri. Tidak ada maksud untuk menyinggung," tulisnya.
Kisah PeradabanWill Durant (1885-1981) adalah seorang sejarawan, filsuf, dan penulis Amerika Serikat yang terkenal karena karya monumental 11 jilidnya,
The Story of Civilization (Kisah Peradaban), yang ditulis bersama istrinya, Ariel Durant. Ia populer karena mempopulerkan sejarah dan filsafat untuk pembaca umum dengan gaya penulisan naratif yang mudah dibaca.
Selain The Story of Civilization (1935-1975), ia menulis The Story of Philosophy (1926) yang sukses besar dan membantu mempopulerkan filsafat.
Bersama istrinya, ia memenangkan Hadiah Pulitzer untuk Nonfiksi Umum pada tahun 1968 (untuk volume X, Rousseau and Revolution) dan Medali Kebebasan Presiden pada tahun 1977.
Durant berupaya menyatukan pengetahuan sejarah yang terfragmentasi menjadi narasi yang memanusiakan, serta percaya bahwa sejarah adalah pola berulang dari kebangkitan dan kejatuhan peradaban.
Ia awalnya belajar di seminari namun kemudian meninggalkan kehidupan gereja, menjadi pengajar, dan berfokus pada pendidikan publik serta penulisan sejarah.
Karya-karyanya terkenal karena upayanya menjembatani ilmu pengetahuan dengan filsafat, serta menyoroti pentingnya kebudayaan Timur dan Barat.
Israel First
Sikap Netanyahu menunjukkan penghinaan terbuka terhadap tokoh agama, mengingat dukungan selama ini ia peroleh dari komunitas Kristen di Amerika Serikat (AS).
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melontarkan kritik tajam terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, terkait pernyataannya yang menyinggung Yesus Kristus.
Araghchi menilai sikap Netanyahu menunjukkan penghinaan terbuka terhadap tokoh agama tersebut, terutama mengingat dukungan yang selama ini ia peroleh dari komunitas Kristen di Amerika Serikat (AS).
"Untuk seseorang yang sangat bergantung pada dukungan umat Kristen di Amerika Serikat, penghinaan terbuka Netanyahu terhadap Yesus Kristus sangat mencolok," tulis Araghchi melalui media sosial X dikutip dari Anandolu News, Sabtu, 21 Maret 2026.
Ia juga menyinggung pernyataan Netanyahu yang memuji Genghis Khan, yang disebutnya sebagai 'pembantai terburuk yang pernah ada di kawasan'. Menurut Araghchi, hal itu sejalan dengan status Netanyahu saat ini sebagai 'pembantai'.
"Jesus Christ has no advantage over Genghis Khan. Because if you are strong enough, ruthless enough, powerful enough, evil will overcome good. Aggression will overcome moderation," ujar Netanyahu.
Artinya, Netanyahu menilai "Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan. Karena jika Anda cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, kejahatan akan mengalahkan kebaikan. Agresi akan mengalahkan moderasi".
Ini adalah perang pilihan oleh sekelompok kecil 'Israel First', dan 'Israel First' selalu berarti "Amerika Terakhir", kata Araghchi.
*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78