Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

Prabowo Perlu Waspada Hitungan Ketahanan Energi, Bukan Klaim Angin Surga

SABTU, 28 MARET 2026 | 00:15 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyebut stok energi Indonesia “aman” alias klaim angin surga di tengah krisis Selat Hormuz dinilai perlu diuji dengan data empiris yang komprehensif. 

Pengamat Politik Universitas Udayana Dr. Efatha Filomeno Borromeu Duarte, menegaskan bahwa presiden memikul tanggung jawab besar sehingga perlu menelaah langsung kalkulasi ketahanan energi secara utuh, bukan sekadar menerima ringkasan komunikasi publik dari jajaran menterinya.

“Sebagai akademisi, saya sangat memahami beratnya beban pemerintah saat ini. Akan tetapi kita harus terbuka bahwa ketahanan energi tidak diukur dari stok hari ini, melainkan dari kemampuan sistem bertahan dalam skenario terburuk. Berdasarkan pendalaman yang saya uji secara mandiri, angka riil di lapangan tidak memberi ruang untuk kita sekadar bersikap lega,” ujar Efatha kepada RMOL di Jakarta, Jumat malam, 26 Maret 2026. 


Ia memaparkan tiga temuan kunci dari kajian yang diformulasikan menggunakan metodologi geoekonomi. Pertama, cadangan operasional BBM Indonesia terhitung hanya 21 sampai 28 hari, sementara negara tetangga seperti Filipina dan Thailand memiliki ketahanan hingga 60 hari. 

Padahal Filipina memiliki ketergantungan impor dari kawasan Teluk hingga 95 persen, jauh lebih tinggi dari Indonesia yang berada di kisaran 20 persen.

“Ini sebuah paradoks yang perlu kita perhatikan bersama. Diversifikasi impor kita memang terkelola baik, hanya saja ketebalan cadangan penyangga justru sangat tipis. Artinya, jika krisis berkepanjangan, katakanlah sampai enam bulan, maka keunggulan diversifikasi akan pudar karena pasokan alternatif di pasar global pun sangat terbatas. Cadangan 28 hari cukup berisiko bagi hajat hidup orang banyak sembari menunggu konflik reda,” jelasnya dengan nada prihatin.

Kedua, ancaman lonjakan beban subsidi energi. Efatha mengkalkulasi bahwa setiap kenaikan 10 Dolar AS per barel di atas asumsi ICP APBN (70 Dolar AS) akan menambah beban subsidi sekitar Rp25 triliun per tahun. 

Mengingat harga minyak saat ini tertahan di kisaran 100 Dolar AS hingga 120, tambahan subsidi bisa membengkak mencapai Rp75 sampai 125 triliun.

“Hitungan akademis ini menunjukkan proyeksi moderat adanya tambahan beban hingga Rp130 triliun. Jika kondisi ini dibiarkan, defisit anggaran berpotensi mendekati ambang batas 3 persen PDB. Kita tentu bersimpati pada posisi presiden yang harus memikirkan dari mana ruang fiskalnya. Apakah harus menggeser program prioritas yang ditunggu rakyat, atau justru menambah utang yang membebani generasi depan?” tegasnya.

Ketiga, kerentanan pasokan LPG yang dampaknya langsung terasa di masyarakat bawah. Indonesia mengimpor 75 sampai 80 persen kebutuhan LPG nasional, dengan porsi sekitar 20 persen berasal dari Timur Tengah. Efatha menekankan bahwa LPG adalah komoditas vital yang sangat lekat dengan denyut nadi rumah tangga prasejahtera.

“Berdasarkan kalkulasi silang atas data BPS dan Kementerian ESDM, jika pasokan dari Timur Tengah terganggu total, kita bisa kehilangan 15 sampai 16 persen dari total impor LPG,” ungkap dia. 

“Volume tersebut setara dengan kebutuhan bulanan empat hingga lima juta rumah tangga. Saat ini kita belum memiliki cadangan penyangga LPG yang memadai akibat keterbatasan infrastruktur. Ini bukan lagi sekadar angka teknis, melainkan murni isu keamanan dan ketenteraman sosial yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya