Berita

Pengamat hukum tata negara, Bivitri Susanti. (Foto: RMOL)

Politik

Pengamat: DPR Lebih Fokus Teknis Ketimbang Substansi

JUMAT, 27 MARET 2026 | 15:12 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Pengawasan terhadap kebijakan pemerintah dinilai belum menyentuh aspek substantif. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) disebut lebih sering membahas hal-hal teknis.

Pengamat hukum tata negara, Bivitri Susanti, menilai kondisi ini berdampak pada lemahnya akuntabilitas politik di Indonesia. Menurutnya, berbagai kebijakan yang menuai kritik luas sebenarnya sudah memiliki banyak data dan masukan dari para ahli.

Namun, DPR dinilai belum menggunakan basis data tersebut untuk melakukan pengujian kebijakan secara mendalam.


“Banyak kebijakan yang dikritik, datanya sudah tersedia di mana-mana, dari ahli kesehatan sampai ekonomi. Tapi pertanyaannya di DPR itu tidak substantif,” kata Bivitri, dikutip Jumat, 27 Maret 2026. 

Ia mencontohkan, alih-alih menggali apakah sebuah kebijakan dirancang dengan tepat atau tidak, pertanyaan yang muncul justru berkutat pada hal-hal teknis yang dinilai kurang menyentuh akar persoalan.

Padahal, dalam siklus kebijakan publik, seharusnya DPR berperan aktif menguji setiap tahap, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Hal itu penting untuk memastikan kebijakan yang dihasilkan benar-benar tepat sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih jauh, Bivitri menilai kuatnya koalisi pemerintah di parlemen turut memengaruhi fungsi pengawasan. Kondisi tersebut membuat mekanisme checks and balances berjalan tidak optimal, sehingga akuntabilitas politik semakin melemah.

“Harusnya DPR melakukan itu supaya akuntabilitasnya ada. Tapi itu yang tidak saya lihat setahun terakhir ini,” ujarnya.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya