Berita

Ilustrasi (Gambar: Babbe)

Bisnis

Bursa Eropa Tumbang, Indeks STOXX 600 Dekati Fase Koreksi

JUMAT, 27 MARET 2026 | 07:21 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar saham Eropa terpaksa mengakhiri reli penguatan tiga harinya pada penutupan perdagangan Kamis 26 Maret 2026 waktu setempat. 

Awan mendung kembali menyelimuti bursa setelah pupusnya harapan akan resolusi cepat konflik di Timur Tengah, yang memicu investor untuk mengalkulasi ulang proyeksi kebijakan suku bunga ke depan.

Sentimen negatif ini menyeret jatuh hampir seluruh indeks acuan di kawasan tersebut. STOXX 600 (Pan-Eropa) terperosok 1,13 persen ke level 580,84.


Di Jerman, DAX anjlok paling dalam sebesar 1,50 persen ke posisi 22.612,97. Di Inggris, FTSE 100 jatuh 1,33 persen menjadi 9.972,17. CAC 40 (Prancis) turun 0,98 persen ke level 7.769,31.

Pemicu utama kemerosotan ini adalah komentar pejabat senior Iran kepada Reuters yang melabeli proposal perdamaian AS sebagai langkah "sepihak dan tidak adil". Hal ini menutup celah de-eskalasi dalam waktu dekat.

Dampaknya, pasar ekuitas Eropa dibayangi risiko stagflasi. Sebagai kawasan yang sangat bergantung pada impor energi, ancaman penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi dan hambatan pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini diperparah oleh sinyal hawkish dari Bank Sentral Eropa (ECB). 

Anggota dewan ECB, Joachim Nagel, menyebut kenaikan suku bunga April sebagai "salah satu opsi," senada dengan ketegasan Presiden ECB Christine Lagarde untuk mengawal inflasi di angka 2 persen.

Saham-saham di sektor industri dan perbankan, yang sensitif terhadap perlambatan ekonomi, terpukul hingga 2 persen. Sektor pertambangan juga tertekan, dipimpin oleh Boliden yang terjun bebas 20 persen akibat gangguan aktivitas seismik di tambang Garpenberg. 

Saham Peritel Polandia LPP melonjak 12,7 persen berkat kinerja kuartal IV yang impresif. Sebaliknya, saham H&M turun 2,2 persen karena penjualan di bawah target, sementara Next di Inggris justru naik 4,2 persen setelah menaikkan prospek laba.

Kenaikan harga bahan bakar akhirnya menekan saham maskapai Lufthansa sebesar 1 persen.

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

UPDATE

Klaim Bahlil soal Energi Aman Patut Dipertanyakan

Jumat, 27 Maret 2026 | 08:10

Kabut Perang Selimuti Wall Street, Nasdaq Jatuh Paling Dalam

Jumat, 27 Maret 2026 | 08:09

Trump Perpanjang Jeda Serangan ke Iran

Jumat, 27 Maret 2026 | 08:02

Tanpa Perencanaan, Pendatang Baru Berpotensi Jadi Beban

Jumat, 27 Maret 2026 | 08:01

OJK Prediksi Sejumlah Bank Besar akan Naik Kelas ke KBMI IV pada 2026

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:45

Harga Emas Anjlok Tertekan Dolar AS dan Proyeksi Suku Bunga Tinggi

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:34

Bursa Eropa Tumbang, Indeks STOXX 600 Dekati Fase Koreksi

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:21

Pertama dalam Sejarah, Tanda Tangan Presiden Donald Trump akan Dicetak di Dolar AS

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:07

Ekonomi Indonesia: Makro Sehat, Mikro Sekarat

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:35

Bekas Kepala KSOP Belawan Jadi Tersangka Skandal PNBP

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:24

Selengkapnya