Berita

Ilustrasi mudik lebara 2026. (Foto: Antara)

Publika

Lebaran, Mesin Domestik di Tengah Badai Global

RABU, 25 MARET 2026 | 08:20 WIB | OLEH: PERDANA WAHYU SANTOSA*

IDUL Fitri 1447 H versi pemerintah yang jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, datang pada saat yang menarik: dunia sedang gelisah, tetapi Indonesia masih punya satu modal yang sangat penting, yaitu permintaan domestik. Kementerian Perhubungan memperkirakan pergerakan masyarakat selama masa Angkutan Lebaran 2026 mencapai 143,91 juta orang, atau sekitar 50,60% penduduk. Angka ini bukan sekadar statistik transportasi; ia adalah penanda bahwa Lebaran tetap menjadi salah satu “mesin ekonomi musiman” terbesar di Indonesia, menggerakkan perdagangan, pariwisata domestik, logistik, makanan-minuman, fesyen, hingga transaksi digital dalam waktu yang sangat singkat.

Di titik inilah Lebaran harus dibaca lebih cermat. Ia memang mendorong konsumsi, tetapi bukan berarti otomatis memperkuat fondasi ekonomi nasional. Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen Februari 2026 sebesar 125,2, masih pada zona optimistis. Survei penjualan eceran juga menunjukkan pelaku usaha memperkirakan penjualan ritel tumbuh 6,9% year-on-year pada Februari 2026. Artinya, menjelang Ramadan dan Idul Fitri, rumah tangga Indonesia masih cukup percaya diri untuk belanja, bepergian, dan membelanjakan pendapatan. Dalam situasi global yang tidak menentu, ini adalah bantalan yang sangat berharga.

Namun, justru karena Lebaran begitu kuat mendorong permintaan, risikonya pun membesar bila sisi pasokan dan stabilitas makro tidak ikut dijaga. Inflasi Februari 2026 tercatat 4,76% year-on-year, jauh lebih tinggi daripada beberapa bulan sebelumnya. Pada saat yang sama, Bank Indonesia menahan BI-Rate di 4,75% dan menegaskan perlunya menjaga stabilitas rupiah karena memburuknya kondisi global akibat konflik di Timur Tengah. BI juga mencatat rupiah berada di sekitar Rp16.985 per dolar AS per 16 Maret 2026 dan terjadi net outflows portofolio USD1,1 miliar pada Maret. Jadi, Lebaran tahun ini datang bukan dalam suasana makro yang sepenuhnya nyaman, melainkan dalam tekanan harga, kurs, dan arus modal.


Tekanan global itu bukan sekadar ancaman abstrak lagi. IMF dalam pembaruan prospek Januari 2026 memang masih memproyeksikan pertumbuhan dunia 3,3%, tetapi menekankan risiko penurunan akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang belum terprediksi. WTO bahkan memperkirakan pertumbuhan perdagangan dunia melambat menjadi 1,9% pada 2026, dengan risiko lebih rendah lagi bila gangguan energi dan pelayaran memburuk.

Bagi Indonesia, kombinasi ini berbahaya: harga energi yang lebih tinggi dapat memperbesar biaya logistik dan tekanan impor migas, sementara perlambatan perdagangan dunia menekan ekspor manufaktur dan komoditas. BPS sendiri mencatat impor migas Januari 2026 naik 27,52% year-on-year, sebuah sinyal bahwa gejolak energi global cepat sekali merambat ke dalam negeri.

Karena itu, saya kira keliru bila kita membaca Idul Fitri 1447 H semata-mata sebagai “berkah konsumsi”. Lebaran memang bisa menopang pertumbuhan jangka pendek, tetapi tanpa pengelolaan yang baik ia juga bisa menjadi momen ketika inflasi pangan, ongkos distribusi, dan tekanan eksternal bertemu sekaligus.

Dalam bahasa sederhana: uang beredar lebih cepat, tetapi kalau barang tidak cukup, distribusi terganggu, dan ekspektasi harga naik, maka yang membesar bukan hanya transaksi -melainkan juga keresahan rumah tangga. Lebaran bisa menjadi penahan perlambatan, tetapi belum tentu menjadi penguat kesejahteraan.

Maka, arah kebijakan yang dibutuhkan bukanlah euforia konsumsi, melainkan menjadikan momentum Lebaran sebagai pengungkit ekonomi yang lebih berkualitas. Pemerintah perlu memastikan pasokan pangan pokok, energi, dan transportasi benar-benar lancar sampai ke titik-titik konsumsi; bukan hanya tersedia di gudang, tetapi juga hadir di pasar dengan harga yang masuk akal.

Pada saat yang sama, bantuan bagi kelompok rentan sebaiknya tetap terarah, karena inflasi musiman paling terasa justru pada rumah tangga berpendapatan rendah. Ini bukan soal memperbanyak belanja negara secara membabi buta, melainkan memperhalus intervensi agar daya beli terjaga tanpa merusak disiplin fiskal. IMF sendiri menekankan pentingnya pemulihan buffer fiskal dan stabilitas harga di tengah ketidakpastian global.

Selain itu, Lebaran 2026 semestinya dipakai untuk mempercepat pergeseran dari ekonomi musiman ke ekonomi yang lebih produktif. Kenaikan transaksi digital, kelancaran sistem pembayaran, dan tingginya mobilitas domestik yang seharusnya menjadi pintu masuk untuk memperbesar omzet UMKM, pariwisata lokal, dan perdagangan antardaerah -bukan hanya mempertebal penjualan ritel jangka pendek.

Bank Indonesia mencatat transaksi pembayaran digital Februari 2026 tumbuh 40,35% year-on-year, sementara kredit perbankan masih tumbuh 9,37%. Ini berarti ruang penguatan usaha domestik sebenarnya ada, asalkan kebijakan diarahkan untuk mempertemukan permintaan Lebaran dengan pembiayaan, distribusi, dan digitalisasi yang lebih efisien. Bila itu berhasil, Idul Fitri 1447 H tidak hanya akan menjadi musim belanja, tetapi juga menjadi bukti bahwa di tengah gejolak global, ekonomi Indonesia masih bisa bertahan karena kekuatan pasar domestiknya -asal dikelola dengan tenang, presisi, dan tanpa ilusi. 

*) Penulis adalah Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute dan CEO SAN Scientific.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

IKA BEM Nusantara Ajak Elemen Bangsa Dukung Program Ketahanan Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 01:56

Bergerak Bersama Menuju Sila Kelima Pancasila

Senin, 03 Agustus 2026 | 01:30

TNI Tembus Medan Terjal Salurkan 2 Ton Logistik di Kabupaten Puncak

Senin, 03 Agustus 2026 | 01:09

Buka Turnamen Tenis Beregu

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:42

531 Atlet Taekwondo Terbaik Asia Siap Bertarung Demi Kehormatan Negara

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:24

Prabowo Harus Rombak Kabinet Buntut Tingkat Kepuasan Publik Melorot

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:04

Zanzabella Singgung "Si Ono" dan Rekaman CCTV: Pertengkaran Pasti Ada Sebabnya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 23:35

Pelaporan ESG Tahun 2026 Indonesia

Minggu, 02 Agustus 2026 | 23:05

Ustaz Novel: LGBT Bahaya Laten dengan Daya Rusak Luar Biasa

Minggu, 02 Agustus 2026 | 22:39

Tragedi KM Mutiara Sentosa 2: Keluarga Cemas Banyak Penumpang Tak Masuk Manifes

Minggu, 02 Agustus 2026 | 21:53

Selengkapnya