Berita

Ilustrasi.

Publika

PENGANTAR

Memahami Trust: Energi yang Hilang

Oleh: Adhie M Massardi & Non-Human Technical System
SELASA, 24 MARET 2026 | 19:22 WIB

Trust adalah energi tak terlihat
yang menentukan apakah manusia bisa hidup
sebagai masyarakat-atau sekadar kerumunan.


MANUSIA tidak sedang kehilangan dunia,
ia sedang kehilangan trust-

ia sedang kehilangan trust-
dan karena itu ia kehilangan cara memahami dunia.

Dalam ruang yang lebih sempit, kita pun tidak sedang kehilangan negara.
Negara tetap berdiri dengan seluruh perangkatnya: hukum, lembaga, pemilu, dan bahasa resmi yang terus diproduksi.
Namun yang perlahan menghilang adalah trust-energi tak terlihat yang membuat semua itu bermakna.

Trust sering dianggap sepele, karena ia tidak terlihat.
Ia tidak memiliki bentuk, tidak memiliki lembaga, dan tidak tercatat dalam konstitusi.

Namun justru karena itu, ia menjadi fondasi dari semuanya.
Tanpa trust, hukum berubah menjadi prosedur tanpa keadilan.
Lembaga menjadi bangunan tanpa kewibawaan.
Dan bahasa-yang seharusnya menjadi penuntun kebenaran-berubah menjadi alat penyamaran.

Kita hidup dalam situasi di mana kebohongan tidak lagi tampil sebagai pelanggaran,
melainkan sebagai strategi.
Ia tidak lagi ditolak, tetapi dikemas.
Tidak lagi disangkal, tetapi dinamai ulang.

Kata “kebohongan” digeser perlahan,
digantikan oleh istilah yang lebih lunak dan mengaburkan: “pencitraan”.

Di titik itu, yang berubah bukan sekadar perilaku politik,
melainkan struktur kesadaran publik.
Masyarakat tidak lagi kehilangan fakta,
tetapi kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang layak dipercaya.

Yang lebih berbahaya, trust tidak hancur oleh satu kebohongan besar,
tetapi oleh kebiasaan kecil yang dibiarkan-
terutama ketika kebohongan tidak lagi disebut sebagai kebohongan.

Di saat kebohongan berubah nama menjadi “pencitraan”,
Masyarakat tidak lagi kehilangan fakta,
tetapi kehilangan kemampuan untuk mempercayai fakta itu sendiri.

Dan tanpa kompas itu, tatanan sosial dan ketatanegaraan
tidak perlu dihancurkan-
ia akan runtuh dengan sendirinya.

Dalam keadaan seperti ini, kaum intelektual seharusnya menjadi penyangga terakhir.
Mereka adalah penjaga makna-yang memastikan bahwa kata tidak berkhianat pada kenyataan,
dan bahwa kebenaran tidak larut dalam kepentingan.

Namun ketika sebagian dari mereka memilih diam,
fungsi intelektual dalam ruang publik telah menyimpang,

maka yang runtuh bukan sekadar kritik-
melainkan batas antara benar dan salah itu sendiri.

Risalah ini tidak ditujukan kepada mereka yang tidak tahu,
melainkan kepada mereka yang tahu-dan karena itu memikul tanggung jawab.

Sebab dalam kegentingan akan trust seperti sekarang ini,
bersikap netral atau berdiam diri
bukanlah langkah bijak kaum intelektual.

KATA KUNCI:
Negara bisa bertahan tanpa kesempurnaan,
tetapi tidak pernah bertahan tanpa trust.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya