Berita

Presiden AS Donald Trump (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Times Now)

Global

Trump Kehilangan Kendali dalam Perang Iran

SENIN, 23 MARET 2026 | 08:16 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Setelah tiga minggu sejak konflik dengan Iran dimulai, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghadapi situasi yang kian rumit. Perang yang awalnya disebut hanya akan menjadi “operasi singkat” justru berkembang menjadi krisis besar dengan dampak global, mulai dari lonjakan harga energi hingga meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.

Di tengah situasi ini, Iran tetap menunjukkan perlawanan kuat. Teheran tidak hanya menolak serangan gabungan AS dan Israel, tetapi juga membalas dengan meluncurkan rudal serta mengganggu jalur distribusi minyak dan gas di Teluk, termasuk di kawasan strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur utama sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Trump sendiri bersikeras bahwa operasi militer berjalan sesuai rencana. Ia bahkan menyebut pertempuran telah “menang secara militer.” Namun, klaim ini dinilai bertolak belakang dengan kondisi di lapangan, di mana konflik justru semakin meluas dan sulit dikendalikan. Dalam pernyataannya, Trump juga mengkritik negara-negara sekutu NATO yang menolak membantu, bahkan menyebut mereka sebagai “pengecut.”


Sejumlah analis menilai salah satu masalah utama adalah tidak adanya strategi keluar yang jelas dari konflik ini. 

“Trump telah menciptakan kotak bernama perang Iran untuk dirinya sendiri, dan dia tidak tahu bagaimana keluar dari situ," kata mantan negosiator Timur Tengah, Aaron David Miller, dikutip dari Reuters, Senin 23 Maret 2026.

Di sisi lain, Gedung Putih membantah bahwa situasi tidak terkendali. Mereka menyebut operasi ini sebagai keberhasilan militer, dengan klaim bahwa banyak pemimpin Iran telah dilumpuhkan, kekuatan lautnya melemah, dan sebagian besar sistem rudalnya telah dihancurkan.

Namun, realitas politik dan diplomatik menunjukkan hal berbeda. AS justru terlihat semakin terisolasi. Banyak sekutu enggan terlibat dalam konflik yang tidak mereka setujui sejak awal. Bahkan muncul perbedaan pandangan dengan Israel terkait beberapa serangan, termasuk yang menargetkan fasilitas energi Iran.

Kini, Trump berada di persimpangan sulit. Ia bisa memilih meningkatkan serangan, yang berisiko menyeret AS ke perang panjang dan tidak populer, atau mengklaim kemenangan dan menarik diri, yang berpotensi mengecewakan sekutu di kawasan Teluk dan meninggalkan Iran dalam kondisi tetap berbahaya.

Di dalam negeri, tekanan juga mulai terasa. Harga bahan bakar yang naik serta kemungkinan pengerahan lebih banyak pasukan membuat dukungan publik terhadap Trump dan Partai Republik terancam. Bahkan di kalangan pendukungnya sendiri, mulai muncul keraguan terhadap arah kebijakan perang ini.

Sejak konflik dimulai pada akhir Februari, sejumlah pihak di pemerintahan disebut menyadari bahwa dampak perang tidak sepenuhnya diperhitungkan sejak awal. Iran pun merespons secara agresif dengan memanfaatkan rudal dan drone untuk menyeimbangkan kekuatan, sekaligus hampir melumpuhkan jalur pelayaran penting di Teluk.

Pada akhirnya, perang ini tidak hanya menjadi ujian kekuatan militer, tetapi juga ujian kepemimpinan dan strategi. Tanpa arah yang jelas, konflik berisiko terus berlarut dengan dampak yang semakin luas, baik bagi kawasan maupun dunia.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya