Berita

Mentan Andi Amran Sulaiman (Foto: RMOLJateng)

Bisnis

Ketahanan Pangan Mandiri: Strategi Indonesia Menghadapi Inflasi dan Krisis Global

SENIN, 23 MARET 2026 | 07:38 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dunia kembali dibayangi oleh risiko krisis pangan yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru dari World Food Programme (WFP), eskalasi konflik di Timur Tengah diprediksi akan memicu lonjakan angka kelaparan akut hingga mencapai titik tertinggi pada tahun 2026. 

Jika ketegangan ini tidak mereda dan harga energi tetap melambung, sekitar 45 juta jiwa tambahan terancam jatuh ke dalam jurang kerawanan pangan akut. Kondisi ini menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan lagi sekadar urusan perut, melainkan isu strategis yang menentukan stabilitas sosial dan ekonomi sebuah bangsa.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyoroti bahwa faktor eksternal menjadi pemicu utama kerentanan ini. Beliau menjelaskan bahwa kenaikan harga energi, gangguan jalur pelayaran internasional, serta meningkatnya biaya logistik berpotensi memicu inflasi pangan global, serupa dengan guncangan yang terjadi saat konflik Rusia–Ukraina tahun 2022.


Ketergantungan pada impor membuat sebuah negara sangat rapuh terhadap lonjakan harga dan kelangkaan stok akibat terputusnya rantai pasok global.

“Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Karena itu setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain,” ujar Mentan Amran di Jakarta, dikutip Senin 23 Maret 2026. 

Beliau menambahkan bahwa di tengah tensi geopolitik, terutama antara Iran, Amerika, dan Israel, kemandirian produksi domestik adalah pelindung utama. 

“Kalau terjadi krisis global, terlebih permasalahan geopolitik dari Iran versus Amerika dan Israel, yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya kita harus memperkuat produksi dalam negeri,” kata Mentan Amran.

Di tengah situasi sulit ini, Indonesia dinilai menunjukkan kemajuan signifikan menuju kemandirian pangan. Pemerintah tidak hanya fokus pada kuantitas produksi, tetapi juga mentransformasi sistem pertanian agar lebih modern dan berkelanjutan melalui strategi intensifikasi (benih unggul, mekanisasi, pompanisasi) serta ekstensifikasi (cetak sawah dan optimalisasi lahan rawa).

“Mandiri mutlak, swasembada mutlak. Kita tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan yang ada, juga membuka lahan baru melalui cetak sawah dan optimalisasi lahan rawa. Semua harus kita optimalkan. Produksi harus naik secara signifikan,” ujarnya.

Dua pilar utama yang diusung oleh Kementan adalah deregulasi dan transformasi pertanian modern. 

Deregulasi akan memangkas birokrasi yang menghambat, termasuk mencabut sekitar 500 regulasi internal dan menyederhanakan distribusi pupuk menjadi jalur langsung dari Kementan ke petani. Sedangkan modernisasi adalah penggunaan alat mesin pertanian yang mampu memangkas biaya produksi hingga 50 persen dan meningkatkan efisiensi kerja hingga 90 persen.

Keberhasilan ini tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang menyentuh angka 125, rekor tertinggi dalam sejarah. Kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp 6.500/kg juga memastikan petani tetap untung.

“Kalau petani untung, mereka akan semangat menanam. Kalau petani semangat, produksi pasti naik. Itu kunci swasembada. Untuk berkelanjutan tetap kita genjot sumber-sumber input produksi,” tegas Amran.

Saat ini, produksi beras nasional tercatat surplus di angka 34,7 juta ton (naik 13 persen), dengan cadangan pemerintah melampaui 4 juta ton. Melalui revitalisasi lahan rawa di Kalimantan dan pembangunan sistem irigasi modern, Indonesia optimis menatap masa depan sebagai lumbung pangan dunia.

“Kita tidak boleh takut krisis pangan global. Justru ini momentum Indonesia menjadi negara yang mandiri pangan dan menjadi lumbung pangan dunia, kita putar dunia,” tutupnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

UPDATE

Demi Keamanan, Kapolri Patut Didukung Usut Dugaan Penyadapan Terhadap Presiden

Kamis, 05 November 2026 | 16:34

Potensi Wisata Besar Belum Dongkrak Ekonomi Sabang

Kamis, 05 November 2026 | 16:27

Pertamina Drilling Gandeng Halliburton Perkuat Operasional Migas di Timteng

Kamis, 05 November 2026 | 16:12

DPR Taruh Harapan di Pundak Suyudi dan Jajaran Usut Tuntas Kasus Listyo Sigit Dkk

Kamis, 05 November 2026 | 16:00

Bobolnya Lapis Pengaman Presiden

Kamis, 05 November 2026 | 15:48

Ekonomi Aceh Tetap Tumbuh Positif Meski Dihantam Bencana

Kamis, 05 November 2026 | 15:46

BPS: Pengangguran RI Berkurang 77 Ribu Orang per Agustus 2026

Kamis, 05 November 2026 | 15:38

Pertamina Hulu Energi Catat Torehan Manis Jelang Akhir Tahun

Kamis, 05 November 2026 | 15:33

ABP: Rakyat Tetap Berdiri Bersama Presiden Prabowo

Kamis, 05 November 2026 | 15:28

Jokowi Keberatan Roy Suryo Minta Ijazah Diperiksa Lagi

Kamis, 05 November 2026 | 15:22

Selengkapnya