Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Simulasi Fiskal: Efisiensi Hingga Rp205 Triliun Masih Dimungkinkan

SABTU, 21 MARET 2026 | 02:29 WIB

PEMERINTAH kembali akan melakukan efisiensi belanja kementerian/lembaga sebagai strategi menahan tekanan fiskal akibat lonjakan harga minyak dunia karena konflik Timur Tengah.

Namun, ruang efisiensi dalam APBN tidak lagi luas. Sekitar Rp335 triliun sudah terpakai lebih dulu untuk program Makan Bergizi Gratis atau MBG.

Sumbernya dari relokasi anggaran pendidikan Rp223,6 triliun, relokasi anggaran kesehatan Rp24,7 triliun, relokasi fungsi ekonomi Rp19,7 triliun, serta Rp67 triliun dari hasil efisiensi awal kementerian/lembaga.


Dengan kata lain, sebelum wacana efisiensi lanjutan dimulai, sumber daya yang paling mudah dipangkas sudah lebih dulu digunakan. Yang tersisa bukan lagi ruang nyaman, melainkan ruang sempit yang penuh konsekuensi.

APBN 2026 mencatat belanja pemerintah pusat sekitar Rp3.149,7 triliun. Angka ini sering dijadikan dasar bahwa ruang efisiensi masih besar. Namun logika tersebut mengabaikan struktur belanja.

Beberapa pos utama justru sudah tidak fleksibel. Pos pendidikan tersisa sekitar Rp459,7 triliun (sudah direalokasi Rp223,6 triliun), pos kesehatan tersisa sekitar Rp153,1 triliun (sudah direalokasi Rp24,7 triliun), dan pos perlindungan sosial sekitar Rp279,5 triliun (tidak bisa dipotong tanpa risiko sosial).

Artinya, ruang efisiensi tidak lagi berada di sektor-sektor ini.

Yang tersisa adalah belanja negara yang selama ini jarang disentuh, yaitu birokrasi, proyek, dan belanja non-esensial.

Jika dihitung ulang secara realistis, ruang efisiensi kini berada di kisaran Rp140 hingga Rp205 triliun.

Pertama, program dukungan manajemen. Pos ini tersebar di hampir seluruh kementerian/lembaga, dengan nilai agregat diperkirakan Rp400-500 triliun. Namun sekitar Rp67 triliun sudah digunakan untuk MBG.

Dengan pemotongan sekitar 15-20 persen, sisa ruang efisiensi realistis berada pada kisaran Rp50-80 triliun melalui pemotongan perjalanan dinas, rapat, dan biaya administratif.

Kedua, belanja infrastruktur melalui Kementerian PUPR. Total anggaran PUPR mencapai sekitar Rp118,5 triliun. Dengan menunda proyek non-mendesak sebesar 25-30 persen, efisiensi yang dapat dicapai berada di kisaran Rp30-40 triliun.

Ketiga, belanja pertahanan. Kementerian Pertahanan memiliki anggaran sekitar Rp187,1 triliun, termasuk sekitar Rp83,4 triliun untuk modernisasi alutsista. Dengan moratorium parsial pada belanja non-operasional sebesar 10-13 persen, penghematan Rp20-25 triliun masih dimungkinkan.

Keempat, belanja kepolisian. Anggaran Polri mencapai sekitar Rp145,1 triliun. Rasionalisasi pada pengadaan alat dan fasilitas non-esensial sebesar 10-14 persen dapat menghasilkan efisiensi Rp15-20 triliun.

Kelima, duplikasi program lintas kementerian. Program pelatihan vokasi, riset, dan pemberdayaan ekonomi tersebar di berbagai kementerian dengan estimasi nilai Rp150-200 triliun. Konsolidasi sebagian program dapat menghemat 10-15 persen atau Rp15-25 triliun.

Keenam, lembaga koordinatif dan badan non-produktif. Kelompok ini memiliki anggaran sekitar Rp50-70 triliun. Pemangkasan 25-40 persen dapat menghasilkan efisiensi Rp10-15 triliun.

Di luar angka, persoalan utamanya adalah sifat dari ruang efisiensi yang tersisa.

Sebelumnya, efisiensi bisa dilakukan dengan menyasar “lemak” birokrasi. Sekarang, sebagian lemak itu sudah hilang. Yang tersisa adalah otot-dan memotongnya akan terasa.

Dengan kata lain, efisiensi tidak lagi sekadar soal teknis anggaran. Ia telah berubah menjadi keputusan politik yang penuh risiko.

Dalam konteks global yang tidak pasti-dengan potensi lonjakan harga energi, tekanan nilai tukar, dan kenaikan biaya utang -- APBN membutuhkan bantalan fiskal. Tetapi bantalan itu tidak bisa lagi dicari dengan cara lama.

Ruang efisiensi masih ada. Namun ia tidak lagi luas, tidak lagi mudah, dan tidak lagi murah secara politik.

Jika realitas ini diabaikan, maka yang terjadi bukan sekadar kesalahan perhitungan, melainkan kesalahan membaca keadaan.

R Haidar Alwi
Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

PT CNI Serahkan Duit Rp401 Miliar ke Kejagung

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:27

Detik-Detik Bareskrim Gerebek Kasino di Batam: Pemain Panik, Rp7,7 Miliar Disita

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:23

Owner VIMA Buka Suara soal Legalitas dan Perizinan Resmi

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:51

Masyarakat Diminta Berikan Data Jujur untuk Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:46

Enam Perusahaan di Kalimantan Disanksi Terkait Karhutla

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:38

Corpus Juris Civilis Tahun 528 M sebagai Fondasi Hukum Modern

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:34

Destry Pimpin BI Cerminkan Kuatnya Kepemimpinan Perempuan

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:24

Prabowo Tahu Persis Siapa yang Ingin Menjatuhkannya

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:05

PGNMAS Boyong BerandaMAS di Danantara Housing Expo 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:03

Kemenperin Minta Tambahan Anggaran Rp1,72 Triliun

Senin, 31 Agustus 2026 | 18:54

Selengkapnya