Berita

Sahrul Lakoro. (Foto: Dokumentasi Permahi)

Publika

Ketika Gerakan Rakyat Kehilangan Akar

JUMAT, 20 MARET 2026 | 04:35 WIB

DEMOKRASI Indonesia hari ini sedang menghadapi satu ujian yang tidak kasat mata, tetapi sangat menentukan: apakah gerakan rakyat masih murni lahir dari kesadaran kolektif, atau perlahan berubah menjadi produk dari pendanaan global?

Isu ini kembali mengemuka ketika nama Open Society Foundations lembaga filantropi yang didirikan oleh George Soros, dikaitkan dengan berbagai program penguatan kepemimpinan pemuda dan mobilisasi akar rumput di Indonesia. Secara formal, tidak ada yang salah. Semua dibungkus dalam narasi mulia demokrasi, hak asasi manusia, dan pemberdayaan masyarakat sipil, Namun justru di situlah letak persoalannya.

Demokrasi yang terlalu sering “dibantu” dari luar berisiko kehilangan satu hal paling esensial: otentisitas. Ketika gerakan sosial mulai bergantung pada aliran dana eksternal, maka secara perlahan arah perjuangan pun berpotensi bergeser. Bukan lagi sepenuhnya berbicara tentang kebutuhan rakyat, tetapi mulai menyesuaikan dengan preferensi pemberi dana meski hal itu tidak selalu tampak di permukaan.


Dalam logika politik modern, kekuasaan tidak lagi selalu hadir dalam bentuk tekanan atau paksaan. Ia hadir dalam bentuk yang lebih halus, pendanaan, pelatihan, penguatan jaringan, bahkan pembentukan wacana. Inilah yang oleh banyak analis disebut sebagai pengaruh tanpa intervensi langsung sebuah strategi yang bekerja diam-diam, tetapi efektif dalam jangka panjang.

Indonesia, sebagai negara demokrasi yang sedang bertumbuh, tentu menjadi ruang yang sangat terbuka bagi dinamika ini. Gerakan pemuda, aktivisme kampus, hingga advokasi isu sosial menjadi ladang subur bagi berbagai bentuk dukungan baik yang murni solidaritas global, maupun yang sarat kepentingan.

Masalahnya bukan pada ada atau tidaknya bantuan tersebut. Masalahnya adalah ketika batas antara solidaritas dan pengaruh menjadi kabur.

Dalam konteks ini, publik berhak untuk bersikap kritis. Bukan dalam arti menolak segala bentuk kerja sama internasional, tetapi memastikan bahwa setiap dukungan yang masuk tidak menggerus kedaulatan berpikir dan bertindak. Sebab, kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari wilayah dan pemerintahan, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya menentukan arah perjuangan sendiri.

Lebih dari itu, negara tidak boleh bersikap pasif. Regulasi tentang pendanaan asing terhadap organisasi masyarakat harus ditegakkan secara transparan dan akuntabel. Bukan untuk membatasi ruang demokrasi, melainkan untuk memastikan bahwa demokrasi tidak diam-diam dikendalikan oleh kekuatan di luar dirinya.

Kita perlu jujur mengakui satu hal, demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang bergantung, melainkan demokrasi yang berdiri di atas kemandirian. Gerakan rakyat yang kuat bukanlah yang paling banyak didukung, tetapi yang paling berakar pada realitas sosialnya sendiri.

Jika tidak, maka kita berisiko menyaksikan sebuah ironi gerakan yang mengatasnamakan rakyat, tetapi perlahan kehilangan hubungan dengan rakyat itu sendiri.

Dan ketika itu terjadi, demokrasi tidak lagi menjadi alat pembebasan melainkan sekadar panggung bagi kepentingan yang lebih besar, yang bekerja dari balik layar.

Sahrul Lakoro 
Ketua Umum Permahi Gorontalo

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Darwis Ismail Terpilih jadi Nakhoda Baru ISKINDO Periode 2026-2031

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:46

Polda Metro Bongkar Penyelundupan 54 Ton Batu Galena dari Gorontalo

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:27

Usul LBP Makin Terasa Janggal, Reformasi Hukum Jangan Kehilangan Arah

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:59

Manifesto Welfare State Pesisir

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:30

Gerakan 1 Juta Liter Air Bersih BEM PTNU Teruskan Semangat Resolusi Jihad

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:05

Sidang Praperadilan Kasus Relawan Prabowo Ditunda, Hakim Tegur Kelalaian Pemanggilan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:51

Langkah Cepat Polda Jatim Cegah Potensi Kericuhan Aksi Mahasiswa Tuai Apresiasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:26

PT TIMAH Buka Opsi Buyback Saham Sikapi Dinamika Pasar Modal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:49

GMNI Puji Ketegasan Kapolri Bongkar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:21

PKS Dukung Pemerintah Lakukan Reformasi Bursa Saham Menyeluruh

Jumat, 23 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya